Politik Pemerintahan

Tingkatkan Literasi, Cak Machfud Ajak Warga Rajin Cek Fakta dan Hoaks

Surabaya (beritajatim.com)– Maraknya berita yang beredar di tengah masyarakat tentu berimbas pada benar tidaknya suatu informasi tersebut, apalagi sekarang informasi-informasi itu mudah sekali diakses di internet maupun media sosial.

Untuk mengetahui benar tidaknya suatu informasi yang banyak beredar di masyarakat, tokoh asal Surabaya Machfud Arifin mempunyai tips untuk mencari tahu kebenaran suatu informasi yang tertuang pada artikel atau berita.

“Yang pertama, kita harus lihat apakah artikel tersebut memberikan sudut pandang yang berimbang,” kata Cak Machfud.

Cak Machfud menjelaskan, jika artikel yang kita baca hanya melaporkan satu sisi saja, tanyakan dan cari tahu apakah ada hal lain dari topik artikel tersebut yang tidak kita ketahui, dan cari artikel lain yang memberitakannya secara berimbang.

“Kemudian yang kedua kita harus melihat apakah ada bukti yang mendukung klaim yang disebutkan dalam artikel yang kita baca,” ujar Cak Machfud.

Cak Machfud mengatakan, bukti tersebut bisa dengan mencantumkan link ke berbagai sumber, foto dan vidio yang menunjukkan bahwa ada bukti konkret yang mendukung klaim artikel tersebut, cak Machfud mengatakan jika kurang ada bukti konkret nya, ia mengimbau agar masyarakat bisa menggali lagi.

Lalu yang terakhir, Cak Machfud menjelaskan, apakah yang disampaikan dalam isi artikel yang kita baca itu pendapat seorang ahli atau hanya sekedar opini si penulis saja.

Cak Machfud menjelaskan, setiap narasumber di isi artikel mempunyai tingkat kompetensi yang bervariasi terhadap suatu topik tertentu.

“Misalnya isi artikelnya adalah soal penyakit, seorang dokter dan pasien akan memberikan perspektif yang berbeda, seorang dokter akan menghadirkan perspektif didasari oleh bukti-bukti ilmiah atau pengalamanya merawat banyak pasien dengan penyakit yang sama,” kata Cak Machfud.

“Sedangkan seorang pasien akan memberikan perspektif yang lebih emosional dan berbasis opini, kedua pendapat dari dokter dan pasien itu tidak bisa dianggap setara dalam hal ilmu, dan tidak dapat dipertukarkan,” tambahnya. (hen)





Apa Reaksi Anda?

Komentar