Politik Pemerintahan

Tingkat Stres dan Kekerasan Anak di Jatim Melonjak di Masa Pandemi

Surabaya (beritajatim.com) – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jatim, Dr Andriyanto SH MKes mengungkapkan fakta menarik. Yakni, dengan belajar di rumah secara daring di masa pandemi ini ternyata membuat tingkat stres anak naik tiga kali lipat dibandingkan di masa normal, sebelum ada pandemi.

“Pada masa pandemi ini banyak yang terdampak atau terpapar. Pada konteks perlindungan anak, anak pun juga demikian. Bahkan, survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, ketika anak belajar di rumah, hanya 32 persen yang didampingi orang tuanya. Sehingga, bisa dikatakan ketika pada masa biasa saja kasus depresi pada anak itu sekitar 6,1 persen, maka analisis kita adalah stres anak itu jadi tiga kali lipat pada masa pandemi ini,” katanya kepada beritajatim.com di kantornya, Selasa (11/8/2020).

“Keinginan-keinginan dia untuk bermain, bersuara dan bersoalisasi bersama teman-temannya itu dihadapkan pada protokol kesehatan. Seolah-olah tanda kutip ada larangan-larangan. Ini jadi stres yang luar biasa,” imbuhnya.

Terkait keinginan pemerintah untuk kembali membuka sekolah secara offline untuk zona hijau, kuning dan orange dengan protokol kesehatan yang ketat, dirinya berpendapat bahwa hal itu tidak menjadi masalah.

“Secara pribadi saya menyatakan bahwa silakan saja dibuka, tidak ada masalah. Kita kan sudah belajar selama lima bulan pada masa pandemi ini. Tentunya yang harus dilakukan itu, saya kira masyarakat sekitarnya dan sekolah mesti akan mendukung, terutama keluarga,” katanya.

“Apalagi ada beberapa catatan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa jika ada orang tua yang tidak setuju anaknya untuk sekolah offline, tidak ada masalah. Tidak boleh ada guru memberikan punishment kepada anak itu apabila absen,” sambungnya.

Andriyanto juga menjelaskan, ada persoalan budaya yang sangat luar biasa, ketika anak-anak sekolah daring di rumah saja. “Ini juga harus diperhatikan. Ada budaya di Madura, kalau anaknya belajar daring di rumah dan tidak belajar di sekolah, dia tidak akan pintar. Ini juga sebagai catatan,” imbuhnya.

Berdasarkan Sistem Informasi Online (Simfoni) Kekerasan Perempuan dan Anak DP3AK Jatim, angka kekerasan perempuan dan anak cenderung meningkat di masa pandemi ini.

Data per 6 Agustus 2020, diketahui bahwa ada 863 kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jatim. Dari jumlah itu, 41 persen di antaranya adalah kekerasan seksual. Kemudian, 60 persennya terjadi di lingkungan rumah tangga. Dibandingkan dengan tahun lalu, pada bulan Juli 2019, hanya sekitar 400 kekerasan atau separuhnya.

“Itu fenomena gunung es, bisa jadi banyak yang tidak dilaporkan. Artinya bahwa, bila ini dibiarkan terus tanpa ada pembelajaran dengan melakukan pendidikan secara offline (tatap muka di kelas), kita khawatirkan, saya tidak berpersepsi negatif, tapi saya khawatirkan akan muncul persoalan kekerasan lagi,” tukasnya.

Andriyanto menyarankan, jika ada daerah zona hijau dan kuning di Jatim yang ingin membuka kembali kegiatan sekolahnya, dipastikan dulu agar guru dan karyawan di sekolah telah melaksanakan rapid test atau tes swab. “Ini untuk memastikan agar tidak ada kekhawatiran klaster baru di sekolah,” pungkasnya. [tok/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar