Politik Pemerintahan

Terkait Perwali Nomor 55 Tahun 2020, Polresta Dukung Pemkot Mojokerto

Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari didampingi Kapolresta Mojokerto, AKBP Deddy Supriadi. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Kapolres Mojokerto Kota AKBP Deddy Supriadi mendukung Peraturan Wali Kota (Perwali) Mojokerto Nomor 55 Tahun 2020. Hal ini disampaikan Kapolresta saat jumpa pers bersama Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari di Rumah Rakyat Wali Kota Mojokerto, Jalan Hayam Wuruk No 50 Kota Mojokerto, Selasa (14/7/2020).

Perwali Kota Mojokerto Nomor 55 tahun 2020 merupakan perubahan dari Perwali Nomor 47 Tahun 2020 tentang pedoman tatanan normal baru pada kondisi pandemi Corona virus disease 2019. Untuk itu Kapolres menyatakan komitmennya dengan Kodim 0815 Mojokerto selaku Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Mojokerto.

“Kami bersama TNI siap melakukan pengawalan dan penerapan realisasi perwali tersebut, tentunya dengan sosialisasi dan penegakan kedisiplinan terhadap protokol kesehatan. Dalam Perwali ini sudah mencantumkan tiga hal, yakni preventif, upaya promotif dan upaya represif,” ungkap Kapolresta Mojokerto.

Yang pertama yakni preventif, melalui sosialisasi terhadap 17 sektor yang menjadi perhatian Forkopimda untuk melengkapi protokol kesehatan. Kedua, upaya promotif dengan melakukan pemberian sertifikasi bila sektor tersebut telah memenuhi protokol kesehatan. Ketiga, upaya Represif yakni dengan mengedepankan sisi edukasi.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengapresiasi komitmen Polresta Mojokerto bersama TNI dalam mengawal dan menerapkan Perwali Nomor 55 Tahun 2020. Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto terus melakukan berbagai upaya dalam menyembuhkan pasien yang terkonfirmasi positif virus corona.

Salah satu caranya yakni dengan memberikan probiotik kepada pasien. Probiotik merupakan racikan herbal yang baik untuk dikonsumsi oleh Orang Tanpa Gejala (OTG) atau yang saat ini diganti dengan sebutan kasus konfirmasi tanpa gejala, sekaligus untuk dikonsumsi oleh pasien terkonfirmasi positif. Menyusul, jumlah pasien terkonfirmasi positif virus corona di Kota Mojokerto terus meningkat setiap harinya.

“Kami memberikan probiotik itu merupakan bagian dari ikhtiar dalam proses menyembuhkan pasien yang terkonfirmasi positif maupun OTG. Karena dengan mengonsumsi minuman herbal tersebut mampu meningkatkan daya tahan dan kekebalan bagi tubuh pasien. Hal ini, tidak lepas juga dari jumlah pasien terkonfirmasi yang berasal dari OTG di Kota Mojokerto terus meningkat,” katanya.

Sejak satu bulan terakhir, Pemkot Mojokerto tengah fokus menerapkan penggunaan probiotik kepada para pasien, kasus konfirmasi tanpa gejala maupun para tenaga medis yang bertemu secara intens dengan pasien. Jika sebelumnya pemerintah daerah hanya menyediakan 3.000 botol probiotik, kali ini Tim Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Mojokerto akan menambah persediaan probiotik menjadi 6.000 botol.

“Probiotik ini salah satu bagian komitmen kami dalam melawan Covid-19. Namun, harus diimbangi juga dengan penerapan protokol kesehatan secara disiplin. Memakai masker setiap kali keluar rumah, mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, jaga jarak saat berada di area publik dan selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat setiap saat, dimana pun dan kapanpun,” jelasnya.

Selama ini, jumlah kenaikan pasien sembuh di Kota Mojokerto terkesan lamban. Hal ini, lanjut Ning Ita (sapaan akrab, red), tidak lepas dari kebijakan atau regulasi dari Kementerian Kesehatan RI yang menerapkan swab test sebanyak dua kali bagi orang yang menunjukkan reaktif dari hasil rapid test. Sedangkan untuk dinyatakan sembuh dari Covid, pasien tersebut harus menjalani swab test sebanyak dua kali atau lebih dengan menunjukkan hasil negatif secara berturut-turut.

“Padahal saat ini, untuk menunggu hasil swab test dengan jarak swab test ke dua itu butuh waktu cukup lama. Hasilnya juga lama karena menunggu antrean, sedangkan jarak dari hasil swab test pertama dengan swab test selanjutnya juga butuh waktu lama lagi. Ini sangat tidak efisien. Orang sehat harus nunggu hasil tes selanjutnya, agar dinyatakan benar-benar sehat,” jelasnya.

Hal tersebut yang membuat peningkatan pasien sembuh di Kota Mojokerto sangat lamban. Problematika tersebut, lanjut Wali Kota perempuan pertama di Mojokerto ini, ternyata juga dirasakan oleh pemerintah daerah lain khususnya di Jawa Timur. Untuk itu, pemerintah daerah pun masih menuggu hasil revisi perubahan dari peraturan Kementerian Kesehatan RI.

“Kalau suratnya sudah turun (hasil perubahan), saya yakin jumlah pasien sembuh di Kota Mojokerto akan naik drastis. Karena selama ini, orang sehat itu masih nunggu hasil swab test kedua agar dinyatakan sembuh dari Covid,” tandasnya. [tin/adv]





Apa Reaksi Anda?

Komentar