Politik Pemerintahan

Terima BLT, Penjual Cilok Menangis di Hadapan Bupati Jombang

Salah satu penerima BLT DD, Hariyono (baju merah-hitam) menyampaikan testimoni di hadapan Bupati Jombang Mundjidah, Rabu (13/5/2020). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Suara Hariyono (33) terputus-putus saat menyampaikan testimoni di hadapan Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab. Penjual cilok ini menceritakan penghasilannya yang terjun bebas seiring datangnya wabah virus corona atau Covid-19.

“Mulai maret kemarin, saya tidak berjualan cilok lagi. Karena pondok pesantren tempat saya jualan diliburkan. Sejak itu saya bekerja seadanya. Jadi kuli bangunan, yang penting halal. Oleh sebab itu, saya mengucapkan terima kasih telah diberi bantuan tunai,” ujar Hariyono saat menyampaikan testimoni di Balai Desa Tugu Sumberejo, Kecamatan Peterongan, Jombang, Rabu (13/5/2020).

Di tengah testimoni, suara Hariyono semakin parau. Dia sesenggukan. Tak lama kemudian, warga Dusun Gading, Desa Tugu Sumberejo ini menyudahi sambutannya. Dia bergegas kembali ke tampat duduknya. Hadirin yang mendengar testimoni Hariyono di balai desa itu memang bukan orang biasa.

Ada Bupati Jombang Mundjidah Wahab, kemudian Wabup Sumrambah, serta Sekdakab Jombang Ahmad Jazuli. Belum lagi sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Jombang yang juga hadir di forum yang tetap mengedepankan protokol kesehatan tersebut yakni jaga jarak, cuci tangan, serta mengenakan masker.

Di tempat duduknya, Hariyono kembali mengisahkan pekerjaannya yang berantakan akibat pandemi. Dia mengatakan, sudah dua tahun ini dirinya berjualan cilok di area PPDU (Pondok Pesantren Darul Ulum) Peterongan, Jombang. Seiring laju waktu, pelangganya semakin banyak.

Maklum saja, selain rasanya nikmat, cilok buatan Hariyono hanya dibanderol Rp 500 per biji. Tak ayal. dalam sehari bapak dua anak ini bisa mendapatkan penghasilan Rp 60 hingga 75 ribu per hari. Uang hasil penjualan tersebut bisa membuat dapurnya tetap ngebul.

Namun semua berubah ketika memasuki akhir maret 2020. Wabah corona mulai menghantui. Pemerintah mengambil kebijakan pembelajaran di rumah. Bahkan, pesantren juga memulangkan santrinya. Sejak itu Hariyono resah. Rezeki yang tiap hari ia dapatkan tak lagi basah. Puncaknya, warga Dusun Gading ini juga libur jualan.

Hariyono menunjukkan BLT Dana Desa sebesar Rp 600 ribu, Rabu (13/5/2020). [Foto/Yusuf Wibisono]
“Sejak itu penghasilan saya tidak pasti. Karena memang tidak berjualan lagi. Saya bekerja seadanya. Menunggu ada orang yang menyuruh. Jadi kuli juga saya lakoni,” kata Hariyono ketika ngobrol dengan beritajatim.com di tempat duduknya.

Mengapa saat testimoni tadi menangis? Hariyono mengatakan bahwa perasaannya campur aduk. Sedih, gembira, terharu, bercampur jadi satu. Sudah begitu, Hariyono juga teringat istri dan anaknya yang sedang menunggunya di rumah.

“Tak terasa, jadinya menangis. Uang bantuan Rp 600 ribu ini akan saya gunakan untuk membeli kebutuhan pokok. Untuk istri dan anak saya,” ujar Hariyono polos.

Di tempat yang sama, Bupati Mundjidah mengatakan, bantuan langsung tunai (BLT) yang diserahkan tersebut bersumber dari DD (Dana Desa). Jumlahnya Rp 600 ribu. Uang tersebut diberikan kepada penerima manfaat selama tiga bulan, yakni April, Mei, Juni.

Munjidah berharap bantuan tersebut bisa meringankan beban warga yang terdampak pandemi corona. “Bantuan tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Yakni untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Seluruh desa di Kabupaten Jombang mulai mendistribusikan BLT tersebut,” kata bupati.

Seperti diketahui, penerima bansos reguler dan Covid-19 di Kabupaten Jombang mencapai 373.245 KK (kepala keluarga). Rinciannya, PKH (program keluarga harapan) 45.437 KK, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) 121.988 KK, BLT Kemensos 51.134 KK, BLT Provinsi 35.000 KK, BLT APBD Jombang 77.686, serta BLT DD sebanyak 42.000 KK. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar