Politik Pemerintahan

Tekan Stunting, Bupati Mojokerto Ingatkan Gizi Kronis Pada Masa 1.000 HPK

Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati saat membuka kegiatan 'Rembuk Stunting Strategi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting' di Pendapa Graha Maja Tama Pemkab Mojokerto. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Kondisi stunting bisa permanen pada diri seseorang, jika tidak dicegah sedini mungkin yakni pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting sendiri merupakan kondisi gangguan kesehatan yang mengakibatkan tubuh gagal bertumbuh secara maksimal karena dipicu kekurangan gizi kronis pada masa 1.000 HPK.

Ditambah faktor ketahanan pangan, lingkungan sosial atau pola pengasuhan, pengobatan dan lainnya. Fakta ini disampaikan Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati saat membuka kegiatan ‘Rembuk Stunting Strategi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting’ di Pendapa Graha Maja Tama Pemkab Mojokerto.

“Stunting bukan penyakit yang selesai dengan obat. Stunting sifatnya irreplaceable, tidak bisa selesai begitu saja dengan pemberian obat-obatan. Stunting membutuhkan upaya preventif. Artinya kita mencegah. Penanganan sejak 1.000 HPK sangat penting. Karena masa itu adalah intervensi terbaik mencegah stunting. Tapi apakah cukup itu? Ternyata tidak,” ungkapnya, Jumat (30/4/2021).

Stunting juga bisa dipengaruhi saat masa kehamilan. Salah satunya usia pernikahan dini di mana calon ibu sebenarnya belum siap hamil. Padahal anak-anak butuh gizi cukup seimbang, sejak dalam kandungan ibunya. Bupati juga mengingatkan kembali catatan jumlah anak stunting di Kabupaten Mojokerto kurang lebih 30,5 persen atau sepertiga dari jumlah anak.

“Padahal angka nasional ada di bawah itu. Stunting menjadi masalah cukup serius, karena berkaitan dengan target pembangunan Pemerintah pada bidang peningkatan SDM berkualitas. Kabupaten Mojokerto termasuk salah satu daerah yang ditetapkan sebagai lokus penanganan stunting, tepatnya pada 46 desa,” katanya.


Riset kesehatan oleh Pusat, lanjut Bupati perempuan pertama di Kabupaten Mojokerto ini, mencatat angka stunting Kabupaten Mojokerto adalah 30,5 persen. Upaya mengeliminasi stunting tidak bisa dilakukan Pemerintah Daerah saja, namun Pemerintah Desa dan masyarakat juga harus bisa bekerjasama dan bersinergi.

“Stunting harus kita tekan. Kita ingin SDM kita berkualitas. Jika SDM punya kecerdasan yang bagus, hal itu sebenarnya berkorelasi dengan volume otak dan tinggi badan juga. Jadi semuanya saling terkait,” tambahnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan paparan materi seputar stunting oleh Ida Nurbaya selaku Local Government Capacity Building for Acceleration of Stunting Reduction (LGCB ASR) Regional III (Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY) dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto.

Kegiatan ditutup dengan penandatanganan hasil kesepakatan bersama. Turut hadir Wakil Wali Kota Mojokerto, Muhammad Albarraa serta Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemkab Mojokerto, Hariyono. [tin/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar