Politik Pemerintahan

Tebing Situs Sejarah Makam Putri Cempo Gresik Belum Ditangani

Gresik (beritajatim.com) – Tebing di kawasan Putri Cempo (Pucem) sejak 2018 lalu belum juga mendapat penangangan. Tebing yang longsor itu sampai memutus jalan, dan pembangunannya baru dilakukan tahun depan.

Di tahun 2020 ini sebetulnya Pemkab Gresik telah menganggarkan penanganan tebing Pucem. Nilainya Rp 5 miliar. Tapi karena pandemi Covid-19. Dana tersebut dikepras menjadi Rp 2 miliar. Tapi dana itu juga tidak digunakan karena dinilai terlalu kecil.

Pantauan di lapangan, kondisi tebing pucem semakin parah. Sebelumnya hanya tebing sisi timur yang dilapisi terpal, kini sudah seluruh tebing hingga ke sisi barat ditutupi terpal plastik.

Di bagian bawah tebing juga demikian, longsoran dari tebing teratas itu sampai membuat ambles warung-warung sekitar. Hingga halaman makam pun ikut retak-retak.

Menanggapi hal ini Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Gresik Gunawan Setiaji mengatakan, anggaran yang sudah disiapkan di tahun anggaran 2020 tidak jadi untuk peningkatan maupun penanganan kawasan pucem. Sebab, semakin parahnya longsor itu dana dianggap tidak bakal maksimal menyelesaikan logsor itu.

“Dana itu tetap digunakan tapi untuk penanganan darurat agar longsor tidak semakin parah. Sementara ini kami lapisi plastik agar tidak semakin parah,”
katanya, Sabtu (14/11/2020).

Imbas longsornya kawasan Pucem tersebut menyebabkan pengguna jalan tidak bisa melintas. Pasalnya, satu-satunya akses jalan itu sudah terputus total. Bahkan, paving-paving bekas jalan pun sudah tidak terlihat. Di tambah turunan pertama yang dulunya diberi pagar pun sudah tidak ada. Sebab, kondisi tanah tempat itu sudah ambles. Tinggal menunggu waktu longsornya.

Turun lagi, ada satu akses jalan lagi yang terputus. Yakni, di gapura masuk makam Putri Cempo. Gapura masuk itu pun miring karena desakan tanah. Memanjang hingga tepat dibawah makam Paman Sunan Giri.

Perlu diketahui, atensi penanganan tebing Pucem sudah muncul sejak 2018 lalu. Meman dua tahun lalu kondisinya belum separah sekarang. Logsoran dari tebing itu baru terjadi hujan awal tahun 2020.

Memasuki musim hujan. Selama ini yang menjadi pemicu longsoran itu karena jalur air tidak ada. Menurut Suparno (50), warga setempat mengaku kuatir apabila hujan lebat longsor itu semakin parah. “Ini di atasnya tebing longsor ada makam. Jaraknya tidak sampai 10 meter. Kalau hujan lebat kuatir longsor karena disitu juga tersisa akses jalan satu-satunya,” pungkasnya. [dny/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar