Politik Pemerintahan

2 Tahun Kepemimpinan Pasangan Berbaur

Tantangan Duet Berbaur Melalui Spirit Pamekasan Hebat

Pamekasan (beritajatim.com) – Menjelang dua tahun masa kepemimpinan Badrut Tamam dan Raja’e sebagai Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan, terdapat sejumlah program yang masih menjadi ‘tugas berat’ untuk direalisasikan. Sekaligus menjadi pekerjaan rumah di bawah kepemimpinannya.

Memang selama dua tahun pemimpin kabupaten dengan dengan luas 792,2 km², pasangan pemimpin muda yang kerap disebut Berbaur melaksanakan beragam lompatan program melalui spirit Pamekasan Hebat menuju Pamekasan Bhajre, Rajjhe tor Parjughe, sekaligus bersaing dengan kabupaten/kota maju lain di Indonesia.

Pasangan yang mempresentasikan perwakilan dari zona selatan dan pantura Pamekasan, secara resmi dikukuhkan dan dilantik sebagai bupati dan wakil bupati Pamekasan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Grahadi Surabaya, Senin (24/9/2018) lalu.

Keduanya melakukan terobosan program inovatif dimulai dari sektor pelayanan satu atap, salah satunya melalui konsep Mall Pelayanan Publik (MPP) yang dipusatkan sekaligus diresmikan langsung oleh Bupati Badrut Tamam di kompleks Islamic Centre, Jl Raya Panglegur, Senin (17/12/2018).

Program yang juga mendapatkan pengakuan atau rekor MURI tersebut, melayani sebanyak 54 jenis perizinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tujuh jenis perizinan non-OPD, serta 12 jenis pelayanan instansi vertikal. Sekaligus diharapkam dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di sektor pelayanan administrasi, bahkan juga dilakukan dalam waktu relatif singkat, yakni sebelum memasuki masa 100 hari kerja pasca dilantik.

Termasuk juga gagasan branding mobil ataupun motor dinas dengan menggunakan motif batik atau yang akrab didengar branding mobil batik, padahal dua program tersebut direalisasikan di tengah tantangan ‘regulasi politik’ akibat keberadaan APBD masih berbau kebijakan politik pemimpin sebelumnya.

Pelan dan pasti, beragam program yang digagas mulai menunjukkan progres. Beberapa di antaranya komitmen mewujudkan birokrasi yang bersih dan profesional. Hal tersebut dilakukan melalui program reformasi birokrasi dengan mewujudkan proses mutasi jabatan secara transparan melalui komitmen ‘tidak ada jual beli jabatan’ di masa kepemimpinan mereka.

Bupati Pamekasan, Badrut Tamam (kanan) bersama Wakil Bupati Pamekasan, Raja’e di kompleks Mandhepa Agung Ronggosukowati.

Dalam setiap kesempatan, Bupati Badrut Tamam juga selalu menyuarakan tekad akselerasi pembangunan melalui narasi bekerja maksimal khususnya bagi seluruh ASN di lingkungan Pemkab Pamekasan. Sekaligus mengajak mereka agar segera lepas dari zona nyaman menuju zona baru, tentunya dengan meninggalkan kebiasaan lama menuju kebiasaan baru yang melayani.

Bahkan dalam setiap kegiatan yang digelar Pemkab Pamekasan, aspek spiritual juga senantiasa mewarnai beragam program yang dilaksanakan. Di antaranya kegiatan shalawat Nabi hingga memberikan santunan kepada anak yatim dari berbagai panti asuhan di wilayah setempat.

Dalam bidang pendidikan dan kesehatan, kepemimpinan Badrut Tamam dan Raja’e juga merealisasikan program beasiswa bagi santri dan siswa berprestasi dengan anggaran sebesar Rp 7 miliar per tahun. Termasuk menyediakan Mobil Sigap untuk desa melalui program Pamekasan Call Care (PCC) yang sempat memunculkan ‘polemik’ hingga berujung interplasi dari anggota DPRD Pamekasan.

Tidak hanya itu, realisasi janji politik berupa mengurangi angka pengangguran juga dilakukan melalui program Wirausaha Baru (WUB). Di mana program tersebut menjadi cikal bakal dan upaya menciptakan 10 ribu wirausaha baru sesuai komitmen awal kepemimpinan, ditandai dengan pengukuhan simbolis bagi 1.554 orang di Mandhepa Agung Ronggosukowati, Jl Pamong Praja Nomor 1 Pamekasan, Rabu (29/7/2020).

Tantangan Kepemimpinan Badrut Tamam dan Raja’e
Terlepas dari beragam prestasi yang ditorehkan pasangan Badrut Tamam dan Raja’e bersama seluruh ASN di lingkungan Pemkab Pamekasan, khususnya selama dua tahun memimpin. Terdapat beberapa hal yang masih menjadi ‘PR’ dan harus segera diselesaikan bersama.

Beberapa di antaranya merupakan janji maupun komitmen dari kepemimpinan pasangan sosok muda melinial, salah satunya meningkatkan kesejahteraan petani melalui sektor komuditas tembakau yang sempat disampaikan pada masa kampaye.

Seperti diketahui, komuditas tembakau merupakan salah satu persoalan klasik yang selama ini selalu menjadi ‘momok’ bagi kepemimpinan di setiap pemimpin di Madura, tidak terkecuali di kabupaten Pamekasan. Di mana selama bertahun-tahun, tata niaga tembakau selalu memiliki kecenderungan merugikan masyarakat, khususnya para petani tembakau.

Terlebih pada masa pandemi seperti saat ini, harga tembakau justru sangat jauh dari standar yang ditentukan melalui Break Event Point (BEP) yang dikeluarkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan. Sekalipun sempat dicarikan solusi maupun jalan keluar agar komuditas ini lebih memihak kepada masyarakat.

Sayang realita di lapangan tidak semudah membalikkan telapak tangan, terlebih harga jual tembakau dinilai sangat rendah dan membuat sebagian petani marah. Beberapa di antaranya dilakukan dengan aksi membakar hasil tanam tembakau akibat anjloknya harga.

Melihat kondisi tersebut, Bupati Badrut Tamam bersama jajaran melakukan inspeksi mendadak alias sidak ke beberapa pabrikan untuk memastikan harga tembakau. Bahkan saat ini, harga jual tembakau petani cenderung menguntungkan dengan harga relatif tinggi dibandingkan sebelumnya. Hanya saja pasca kegiatan sidak bupati bersama jajaran, harga jual tembakau kembali pada fase semula yang tentunya sangat merugikan petani.

Tidak hanya persoalan tembakau, tugas lain juga menjadi tantangan bagi duet kepemimpinan pasangan Badrut Tamam dan Raja’e. Tentunya berupa merealisasikan komitmen maupun janji politik yang selama ini dinantikan oleh masyarakat secara umum, khususnya masyarakat kabupaten Pamekasan. [pin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar