Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Tangkal Radikalisme, Barikade Gus Dur Jatim Gelar Dialog Kebangsaan

Surabaya (beritajatim.com) – DPW Barikade Gus Dur Jatim menggelar dialog kebangsaan sekaligus Halal bihalal di Islamic Center Surabaya, Sabtu (28/5/2022). Tema dialog kebangsaan adalah ‘Menjaga Toleransi dan Menolak Radikalisme Menuju Indonesia Maju’.

Ketua DPW Barikade Gus Dur Jatim, Ahmad Arizal mengatakan, acara dialog kebangsaan ini menggandeng Bakesbangpol Provinsi Jatim. Tujuannya, untuk menjaga agar Jatim tetap kondusif dan terhindar dari kelompok-kelompok radikal yang berpotensi merusak Indonesia.

“Kami serukan untuk tetap berangkulan agar keamanan dan keutuhan NKRI tetap terjaga. Kami siap berada di garda terdepan menangkal terorisme dan radikalisme di Jatim,” tegasnya.

Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jatim mensinyalir, benih-benih intoleransi sudah merambah ke dunia pendidikan, utamanya pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan perguruan tinggi. Sehingga, ke depan diperlukan kurikulum yang secara khusus mengajarkan tentang toleransi.

“Pada survei yang digelar Unair (Universitas Airlangga) bekerjasama dengan kita, ditemukan bahwa mereka (siswa) akan menolak ketua kelas yang bukan muslim, mintanya yang sesama Islam. Berarti inikan mengeksklusifkan diri. Ajaran seperti ini yang menimbulkan pecah belah,” kata Kabid Integrasi Bangsa Bakesbangpol Jatim, Johan Fitriadi.

Survei tersebut dilakukan pada tahun 2018 dengan sampel sebanyak 1.000 siswa. Yang menjadi sasaran survei adalah siswa di SMA Negeri. Sekolah yang menjadi sampel survei berlokasi di Surabaya dan sekitarnya. “Setelah muncul hasil survei itu, kita sudah kumpulkan guru SMP dan SMA dan kita beri modul. Kita masukkan ke kurikulum (toleransi), entah di akademisnya atau di ekstranya,” imbuh Johan.

Dia menambahkan, hasil survey tersebut menunjukkan bahwa masih ada yang kurang dalam sistem pendidikan saat ini. Seperti tidak adanya kurikulum Pancasila dan sejarah bangsa. Ke depan, diperlukan kurikulum yang bisa menumbuhkan toleransi antarsiswa. “Hampir 80 persen itu terpapar dari media sosial. Apalagi saat pandemi sekolah dilakukan secara daring,” pungkasnya. [tok/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar