Politik Pemerintahan

NU dan Pilkada Jember (6-Habis)

Tamsil Gus Firjaun, Kontrak Jam’iyyah Ifan

Jember (beritajatim.com) – Muhammad Balya Firjaun Barlaman dan Ifan Ariadna Wijaya adalah representasi nahdliyyin dalam pemilihan kepala daerah di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Mereka sama-sama mencalonkan diri menjadi wakil bupati.

Gus Firjaun adalah sekondan Hendy Siswanto dan Ifan adalah pendamping Abdus Salam. Tampilnya mereka sebagai representasi kultural NU dalam pemilihan kepala daerah tentunya bukan tanpa konsekuensi. NU tak ingin hanya bekerja keras mendorong mobil tapi kemudian ditinggalkan begitu saja. Apalagi kaum nahdliyyin punya pengalaman bagaimana seorang ulama seperti Abdul Muqiet Arief tidak difungsikan maksimal sebagai wakil bupati selama masa pemerintahan Bupati Faida.

Selama masa pemerintahan Bupati Faida sejak 2016, Muqiet hanya tampil dalam acara seremonial. Dalam beberapa momentum krusial, seperti pemberian jawaban terhadap hak interpelasi maupun angket DPRD Jember, Faida sama sekali tidak memberikan mandat kepada Muqiet untuk hadir mewakilinya.

Dalam interpelasi pertama pada Januari 2017, Faida justru memerintahkan Asisten III Pemerintah Kabupaten Jember Joko Santoso untuk membacakan jawaban tertulisnya dalam sidang paripurna interpelasi di gedung parlemen. Hal ini memantik kekecewaan pendukung Faida sendiri.

“Kenapa bukan wakil bupati (yang mewakili)? Toh ada wakil bupati. Sedangkan di saat yang sama kami tahu wakil bupati makan sate bersama Kapolres. Itu bentuk pelecehan terhadap wakil rakyat, dan kami tidak terima sebetulnya,” kata Kustiono Musri, salah satu pendukung Faida-Muqiet dalam aksi unjuk rasa, Kamis (2/2/2017).

Hal ini yang agaknya dipahami betul oleh Gus Firjaun jika nanti terpilih menjadi wakil bupati mendampingi Hendy. “Ada satu kiai yang memberikan gambaran, ibarat awak bus, saya ini kondekturnya. Justru kondektur ini yang menentukan berhenti dan berjalannya bus. Anda bisa membayangkan sendiri bagaimana bus itu. Kalau sopir tidak manut dengan kondektur, bagaimana?”

Firjaun berjanji akan benar-benar memposisikan diri sebagai kondektur dalam bus Pemerintahan Kabupaten Jember. “Kalau nanti misalnya saya tidak difungsikan atau sopir ini tidak sesuai tujuan, ibarat mau ke Surabaya tapi malah belok ke Malang, saya akan ingatkan. Kalau mau ya kita jalan bersama. Kalau tidak mau, saya akan turun dari bus,” katanya.

Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa sebagai pengusung Salam dan Ifan tak mau memberikan kertas kosong. Duet tersebut sudah menandatangani kontrak jam’iyyah dengan PKB. “Isi kontrak politik dengan PKB itu untuk kepentingan nahdliyyin dan nahdliyyat,” kata Ketua Pengurus Cabang NU Jember Abdullah Syamsul Arifin.

Kontrak politik ini disaksikan banyak kiai. “Ada sekitar 200 kiai yang ikut menandatangani saksi di kontrak itu. Isinya antara lain terkait dengan garis perjuangan ahlussunnah wal jamaah dan kelancaran garis dakwah NU,” kata Gus Aab, sapaan akrabnya.

Salam ingin menciptakan kerekatan hubungan antara NU dengan pemerintah daerah. “Kita tahu Jember adalah tempat lahirnya para alim ulama. Dengan bersatunya NU dan eksekutif, Pemerintah Kabupaten Jember akan dikawal para tokoh kiai sehingga aman, sejahtera, dan barokah,” katanya.

Selain itu, Salam ingin pemerintahan daerah ke depan diwarnai ideologi nasionalis relijius. “Komitmen tertulis sudah ada, bahwa kami akan membesarkan NU. Kami berfokus membesarkan pendidikan dan ingin membesarkan pesantren-pesantren,” katanya.

Salah satu program yang dicanangkan adalah BOS (Bantuan Operasional Santri) daerah yang diperuntukkan para santri dan guru mengaji tanpa ada diskriminasi. “Kami ingin kesejahteraan pengajar di pesantren dan infrastruktur di pesantren menjadi prioritas dalam program kerja kami. Bagaimana pun kami lahir dari bawah, ingin memberikan kontribusi terbaik bagi Jember. Kami ingin menjadikan Jember sebagai pusat pendidikan pesantren unggul,” kata Salam.

Ifan menambahkan, pihaknya merangkul semua kekuatan NU di Jember, termasuk pengurus struktural dan badan otonom Pengurus Cabang NU Jember dan Kencong. “Kami ingin bermanfaat bagi kemajuan warga Jember dan warga NU khususnya,” katanya.

Salam dan Ifan berjanji melaksanakan nasihat Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur Marzuqi Mustamar, saat acara bertema Penguatan Aswaja dan Ke-NU-an, di Lembaga Pendidikan Perjuangan IBU (Islam Bustanul Ulum), Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Kamis (17/9/2020).

Dalam kesempatan itu, Mustamar meminta kepada Salam dan Ifan agar serius membesarkan NU. “Ber-NU ini bukan main-main. Apalagi mempermainkan NU. Tidak apa-apa kita kehilangan apapun demi membesarkan NU. Tidak apa-apa kita menghabiskan dana berapapun untuk membesarkan NU,” katanya.

Akhirnya, tak ada yang bisa memastikan ke mana mayoritas kaum sarungan akan menjatuhkan pilihan.  Ketua Pengurus Cabang NU Kencong Zainil Ghulam menyerukan kepada warga nahdliyyin agar berperan aktif dalam menyukseskan pilkada tahun ini. Apalagi ada Firjaun dan Ifan yang sama-sama berlatarbelakang NU. “Gunakan hak suara demi kemaslahatan Jember,” katanya.

Ghulam yakin, dua kandidat yang berlatar belakang NU sudah memahami fatsun politik, khususnya fatsun yang berlaku di kalangan nahdliyin. “Kedewasaan dan kebijaksanaan dalam menggunakan hak berpolitik mesti dikedepankan, demi kepentingan publik di Jember,” pesannya.

Dengan kata lain, pesan Mustamar bagi siapapun yang bertarung dan terpilih dalam pilkada Jember layak dijadikan panduan. “Tidak memperalat NU untuk kepentingan politik, tapi memperalat jabatan politik untuk menjaga hikmah kepada Nahdlatul Ulama.” [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar