Politik Pemerintahan

Survei PRC: Peluang Ganti Bupati Jember Terbuka, Ada 2 Kunci

Jember (beritajatim.com) – Direktur Eksekutif Politika Research and Consulting Rio Prayogo mengatakan, peluang adanya pergantian bupati dan wakil bupati dalam pemilihan kepala daerah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, kali ini terbuka lebar.

“Kalau melihat peta elektoral dalam survei yang kami sajikan, ada peluang besar Jember akan dipimpin orang baru,” kata Rio, usai presentasi hasil survei pilkada di Kafe MyWay, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (5/12/2020).

PRC melakukan uji elektabilitas dengan mengajukan dua pertanyaan kunci, yakni top of mind dan closed option. Berdasarkan survei dengan pertanyaan tertutup, pasangan Faida – Dwi Arya Nugraha Oktavianto mendapatkan 35,6 persen. Mereka ditempel ketat pasangan Hendy Siswanto – Muhammad Balya Firjaun Barlaman yang mendapat 35,2 persen. Terakhir pasangan Abdus Salam – Ifan Arianda meraih 12,6 persen.

Ketatnya hasil ini diperteguh dengan hasil dalam uji pertanyaan terbuka elektabilitas (top of mind). Petahana Faida – Dwi Arya Nugraha Oktavianto memperoleh suara 31,8 persen. Hendy Siswanto – Balya Firjaun Barlaman mendapatkan 30,4 persen. Terakhir, kandidat dengan nomor urut 3, Abdussalam – Ifan Ariadna Wijaya hanya memperoleh 11,4 persen.

Menurut Rio, hasil survei itu adalah pukulan telak bagi calon bupati petahana. Namun, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi para penantang petahana di lapangan. Kemampuan meyakinkan swing voters dan undecided voters untuk memilih, akan menjadi senjata untuk mengunci kemenangan.

Berdasarkan survei, persentase pemilih berayun atau swing voters masih tinggi yakni 46,2 persen. Sementara pemilih yang sudah yakin dengan pilihannya adalah 53,8 persen. Swing voters ini terdiri dua kriteria, yakni pemilih yang masih mungkin berubah sebanyak 29.6 persen dan pemilih yang belum menentikan pilihan sebesar 16,6 persen.

Menurut Rio, kunci kemenangan akan terletak pada pertarungan di hari pencoblosan. Pertama, kemampuan tim sukses masing-masing pasangan calon membangun narasi isu pada kategori pemilih non-militan agar memilih kandidat yang diusungnya. Kedua, kemampuan masing-masing tim sukses pasangan calon untuk memobilisasi pemilih menuju tempat pemungutan suara (TPS) untuk memilih kandidat yang diusungnya.

Rio mengatakan, selama beberapa bulan sebelum pencoblosan 9 Desember 2020, mesin politik penantang belum cukup. “Baru panas akhir-akhir ini. Itu pun dibantu dengan dinamika politik, baik di DPRD Jember maupun kebijakan nasional yang meminta pengembalikan KSOTK (Kedudukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Organisasi Perangkat Daerah), dan lain-lain,” katanya. Ini seharusnya dikapitalisasi penantang.

Sementara untuk mobilisasi pemilih ke TPS dalam situasi pandemi sangat penting. Berkaca pada pilkada 2015, menurut Rio, 92 persen responden mengatakan akan hadir di TPS. “Namun nyatanya partisipasi pemilih hanya 52 persen. Situasi pandemi hari ini bisa semakin memperparah (angka ketidakhadiran pemilih). Partisipasi politik yang tinggi menentukan kemenangan,” kata Rio. [wir/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar