Politik Pemerintahan

Survei Populi Center: Er-Ji 41 Persen, MA-Mujiaman 37,7 Persen, Undecided Voters 48 Persen!

Surabaya (beritajatim.com) – Populi Center, lembaga non-profit yang mendalami masalah opini dan kebijakan publik menyelenggarakan survei di kota Surabaya mulai 6 hingga 13 Oktober 2020 di 60 desa/kelurahan yang tersebar secara proporsional di seluruh kecamatan di Kota Surabaya.

Tujuan pelaksanaan survei ini adalah untuk melihat tingkat popularitas, akseptabiitas, dan elektabilitas dari para pasangan calon dalam pemilihan walikota dan wakil walikota Surabaya.

Peneliti Populi Center, Hartanto Rosojati kepada wartawan di Best Western Papilio Hotel Surabaya, Jumat (30/10/2020) mengatakan, survei dilakukan melalui metode wawancara tatap muka dengan besaran sampel 600 responden yang dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling). Adapun Margin of error pada survei kali ini sebesar 4 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

“Pemilihan Kota Surabaya sebagai lokasi survei mengingat Surabaya merupakan salah satu kota dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Selain itu, menarik untuk melihat bagaimana masyarakat mengharapkan sosok pengganti Tri Rismaharini yang selama ini dinilai memiliki banyak prestasi,” katanya.

Hasil temuan dari survei ini antara lain adalah pertama, nama Machfud Arifin merupakan nama yang paling banyak dikenal dengan persentase 74 persen, diikuti oleh Eri Cahyadi dengan 68,8 persen, Armuji dengan 55 persen dan Mujiman Sukirno 50,2 persen.

Kedua, nama Eri Cahyadi unggul untuk kategori akseptabilitas sebagai sosok yang mampu membawa perbaikan, sosok yang disukai, sering muncul di media sosial, paling memahami persoalan di kota Surabaya, dan dinilai paling mampu menangani Covid-19. Adapun sosok Machfud Arifin dinilai sebagai sosok yang paling mampu memimpin. Perbedaan akseptabilitas antar kedua tokoh masih dalam batas margin of error.

Ketiga, dari sisi elektabilitas pasangan calon, Eri Cahyadi-Armuji merupakan pasangan yang paling dipilih menjadi Walikota dan Wakil Walikota Surabaya periode mendatang dengan 41 persen, mengungguli pasangan Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno dengan persentase 37,7 persen.

Keempat, terkait tingkat kemantapan pilihan, masyarakat yang menjawab sudah mantab dengan 52 persen, disusul dengan masih mungkin berubah dengan 31,8 persen, dan tidak tahu/tidak jawab dengan 16,2 persen.

“Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat masyarakat yang belum menentukan pilihan (undecided voters) cukup tinggi dengan 48 persen,” jelasnya.

Kelima, lanjut dia, untuk tingkat partisipasi pemilih, sebesar 80,7 persen mengaku akan menggunakan hak pilihnya, sebesar 14,2 persen menjawab masih mempertimbangkan situasi (perkembangan Covid-19), kemudian sebesar 2,3 persen menjawab tidak datang ke TPS. Hal ini menunjukkan bahwa antusianisme dan tingkat partisipasi (voters turnout) warga Kota Surabaya cukup tinggi.

Pengamat politik dari UINSA Surabaya, Ahmad Zainul Hamdi menilai, angka undecided voters yang masih tinggi 48 persen di Pilwali Surabaya ini sangat mengejutkan. “Ini tamparan keras bagi tim sukses dua pasangan calon. Angka undecided voters yang masih tinggi 48 persen sungguh memalukan bagi tim sukses kedua pasangan calon. Ini kurang sebulan lagi lho sudah coblosan. Mereka tim sukses kerjanya bagaimana?” tuturnya.

Ketua DPRD Kota Surabaya, Adi Sutarwijono yang juga hadir sebagai pembicara berharap, apapun hasil akhirnya Pilwali Surabaya, Surabaya tetap kondusif dan tidak terjadi konflik horizontal. “Kami berharap KPU Surabaya lebih gencar melakukan sosialisasi Pilwali kepada masyarakat Surabaya. Ini karena masih banyak warga Surabaya yang belum tahu 9 Desember ada Pilwali. Alat peraga kampanye (APK) untuk sosialisasi Pilwali agar segera dipasang. Saat ini belum ada, karena masih ada sengketa di Bawaslu,” katanya. (tok/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar