Politik Pemerintahan

Survei JTV-ITS: Elektabilitas Whisnu dan Eri Cahyadi Teratas

Wakil Walikota Surabaaya Whisnu Sakti dan Eri Cahyadi Kepala Bappeko Kota Surabaya.

Surabaya (beritajatim.com) – Pusat Riset Pilkada JTV-ITS kembali menyelenggarakan survei pada 12 Februari-19 Februari 2020. Survei kali ini untuk mengukur tingkat pengenalan (popularitas) dan keterpilihan (elektabilitas) figur-figur yang siap berkompetisi dalam Pemilihan Wali Kota Surabaya 2020.

Nama-nama itu disaring dari sumber pemberitaan di media massa arus utama di Surabaya. Khususnya program berita Jatim Awan, Pojok Pitu, dan Pojok Kampung JTV.

Riset ini menggunakan multi-stage random sampling dengan melibatkan 450 responden berusia 17 tahun ke atas (memiliki hak pilih). Sampel diambil di seluruh wilayah di Surabaya, dengan jumlah sampel tiap wilayah proporsional terhadap jumlah penduduk Surabaya. Rentan margin of error sebesar 2,5 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Kepala Pusat Riset Pilkada JTV Machmud Suhermono, Kamis (20/2/2020) menjelaskan, rilis survei popularitas dan elektabilitas ini merupakan yang pertama dilakukan di Surabaya oleh lembaga survei terpercaya dan independen.

Karena baru yang pertama, dan masih ada rentang waktu sekitar 7 bulan (213 hari) sebelum coblosan, maka dari sisi persentase popularitas dan elektabilitas figur-figur masih merata dan di angka di bawah 10 persen.

“Hasil survei ini semacam tolok ukur, modal awal popularitas dan elektabilitas figur-figur yang selama ini sudah mengenalkan diri ke publik melalui media,” kata Machmud.

Dengan mengetahui modal awal itulah, para bakal calon itu mempunyai ukuran dalam menyusun strategi untuk menggenjot popularitas dan elektabilitas masing-masing hingga mencapai hasil maksimal hingga hari pemungutan suara pada 23 September 2020.

Menariknya, meskipun Pilwali Surabaya 2020 diprediksi akan menjadi panggung pertarungan bagi partai-partai besar seperti PDIP, PKB, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PKS dan PSI, namun figur-figur non-parpol juga mendapat perhatian publik Surabaya dan siap menjadi pesaing kuat dari figur-figur yang diusung parpol.

“Jika tren di survei pertama ini berlanjut hingga hari coblosan, maka terjadi persaingan figur dari parpol dengan figur non parpol cukup ketat di Pilwali Surabaya 2020,” jelas Machmud.

Sutikno, Kepala Tim Riset Pilkada ITS, menambahkan, dari sisi popularitas, nama-nama yang sudah banyak dikenal publik mencapai tingkat pengenalan yang merata.

“Sebagai bagian dari pasangan yang sedang menjabat (incumbent), Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana meraih pengenalan tertinggi hingga 39,21 persen,” tutur Kepala Pusat Studi Potensi Daerah dan Perberdayaan Masyarakat LPPM ITS itu.

Dua figur muda yakni Anggota DPR RI dari Partai Golkar Adies Kadir dan Presiden Klub Persebaya Azrul Ananda mendekati Whisnu di posisi kedua dan ketiga dengan tingkat pengenalan 30,90 persen dan 29,66 persen.

Nama-nama lain yang punya potensi besar siap mendongkrak popularitas dengan berbagai aktivitas adalah politisi kawakan Fandi Utomo 25,73 persen, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Eri Cahyadi 17,84 persen, dan Mantan Kapolda Jatim Machfud Arifin 11,93 persen.

Pengacara dan bakal calon lewat jalur independen M Sholeh meraih popularitas hampir setara dengan tokoh asal Jombang Zahrul Azhar Asumta yang akrab dipanggil Gus Hans dengan perolehan popularitas masing-masing 6,70 persen dan 5,60 persen.

Figur lain yang juga muncul dalam survei tingkat keterkenalan adalah Ketua Pansus Perubahan Nama Jalan Fathul Muid 5,00 persen, Ketua Partai Berkarya Surabaya Usman Hakim 3,84 persen, Ketua Partai Perindo Surabaya Samuel Teguh 3,32 persen dan Dirut PDAM Surabaya Mujiaman Sukirno 2,94 persen.

Berbeda dengan popularitas, saat ditanyakan apakah akan memilih figur yang dikenal tersebut jika
mencalonkan diri sebagai wali kota (elektabilitas)? Terjadi perubahan pilihan di kalangan pemilih.

“Itu terjadi karena responden yang kenal belum tentu memilih, sebaliknya yang memilih pasti sudah kenal baik,” jelas Sutikno.

Wawali Whisnu Sakti Buana memang kembali mencatat persentase tertinggi 5,47 persen. Namun, angka itu sudah terkoreksi banyak dibandingkan tingkat pengenalannya yang mencapai 39,21 persen.

Sedangkan untuk posisi kedua, Kepala Bappeko Eri Cahyadi mencatat elektabilitas tertinggi kedua 5,04 persen. Sedangkan Presiden klub Persebaya Azrul Ananda tak bergeser posisinya di urutan ketiga dengan elektabilitas 4,76 persen.

“Ketiga figur itu meninggalkan nama-nama lain seperti Adies Kadir 2,62 persen, Fandi Utomo 2,39 persen, Gus Hans 1,74 persen, dan Machfud Arifin 1,35 persen,” ujar Sutikno.

Berikutnya, nama-nama lain mencatat elektabilitas tak sampai 1 persen, yakni M Sholeh 0,83 persen, Usman Hakim 0,81 persen, Fathul Muid 0,33 persen.

“Karena masih awal, persentase popularitas dan elektabilitas ini masih terlalu dini jika dijadikan acuan siapa wali kota dan wakil wali kota Surabaya berikutnya. Masih ada waktu 7 bulan, semua bisa berubah. Tergantung strategi pendekatan ke publik dan media serta aktivitas masing-masing bakal calon,” ujar Sutikno.

Sebelum penetapan pasangan calon oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), variabel penting dalam mendulang popularitas dan elektabilitas calon wali kota adalah figur calon wakil wali kota yang digandeng jadi pasangan.

Karena itu, Pusat Riset Pilkada JTV juga mengukur tingkat pengenalan (popularitas) dan tingkat keterpilihan (elektabilitas) figur-figur yang di media aktif menyatakan diri sebagai wakil wali kota (wawali). “Mirip dengan komposisi figur di bacalon wali kota, figur non-parpol juga mendapat tempat di pilihan warga kota Surabaya yang memiliki hak pilih,” jelas Machmud.

Berbeda dengan figur-figur bakal calon wali kota yang persentase popularitas dan elektabilitas hampir merata, sedangkan untuk popularitas dan elektabilitas balon wawali, terjadi dominasi dua figur, yakni mantan Ketua DPRD Kota Surabaya Armuji dan Presiden Klub Persebaya Azrul Ananda.

Menariknya, Armuji mewakili figur parpol, karena selama ini dikenal sebagai politisi PDIP. Sedangkan, Azrul Ananda dikenal sebagai tokoh media dan pengusaha muda sukses dan tidak pernah berkekecimpung di bidang politik.

Untuk popularitas, keduanya dikenal oleh 35,88 persen dan 22,78 persen pemilih yang jadi responden survei.

Keduanya meninggalkan figur-figur lain seperti mantan aktivis ’98 dan pegiat budaya Taufik Hidayat 6,47 persen, mantan anggota DPRD Surabaya Visensius Awey 6,25 persen, Pengurus Muslimat NU Dwi Astuti 4,64 persen, politisi PKS Reni Astuti 4,05 persen dan Sekretaris Kota Surabaya Hendro 3,13 persen.

Dominasi semakin terlihat pada survei elektabilitas balon wawali Surabaya. “Armuji dan Azrul Ananda cukup menonjol dengan elektabilitas 5,94 persen dan 3,48 persen,” imbuh Sutikno.

Persentase itu di atas nama-nama lain seperti Dwi Astuti 1,53 persen dan Taufik Hidayat 1,06 persen. Bahkan nama-nama di luar keempatnya, mencatat persentase di bawah 1 persen. (tok/ted) 

Apa Reaksi Anda?

Komentar