Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Sumpah Pemuda, Komunitas Asuro Gandeng Kaum Difabel Bangun Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Komunitas milenial Arek Suroboyo (Asuro) menggelar seminar nasional ‘This Able’ dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Hal ini untuk mendongkrak semangat pada warga difabel agar tak patah semangat dan terus berkarya, meski mempunyai keterbatasan.

Raditya Erlangga selaku Ketua Komunitas Asuro menjelaskan, seminar nasional bagi difabel ini untuk menghapus stigma bahwa kelompok disabilitas tidak bisa apa-apa. Tapi dengan kebersamaan, maka generasi milenial difabel juga dapat berguna bagi dunia kerja.

“Tapi kita gandeng, ayo bareng-bareng bersama, kita peluk bersama, rangkul bersama anak-anak muda semua sama di mata kita. Tidak ada perbedaan,” kata Raditya usai seminar di rumah makan Bebek Tepi Sawah Surabaya, Kamis (28/10/2021).

Seminar nasional yang dihadiri Wakil Wali Kota Surabaya Armudji dan Ajik Krisna (pemilik oleh-oleh Krisna Bali) tersebut, untuk menunjukkan bahwa dengan kebersamaan maka difabel yang sering merasa insecure bisa berkarya memajukan Kota Surabaya.

“Tapi saya kuatkan mereka, ayo kita bareng-bareng bersama bangun Kota Surabaya,” tambah Raditya.

Wakil Wali Kota Armudji dalam kesempatan ini menyampaikan, bahwa Surabaya adalah kota ramah difabel yang ditunjukkan dengan pembangunan infrastruktur bagi keperluan disabilitas, dan juga memberikan tempat dan kesempatan untuk bisa bergabung di Pemkot Surabaya, meski sebatas outsourcing.

“Ini yang tentunya menjadi suatu momen apalagi sekarang ini hari Sumpah Pemuda, maka di setiap SKPD sesuai dengan kemampuan apa yang dilakukan anak-anak berkebutuhan khusus kita selalu welcome,” terang Armudji.

Berdasarkan UU mengenai disabilitas, Armudji mengatakan bahwa dari 100 pekerja minimal ada 1 difabel. “Jadi kalau di DKRTH ada, di SKPD lainnya ada kita mungkin sudah lebih daripada perbandingan itu,” ujarnya.

Armudji juga menambahkan, dalam seminar nasional This Able ini dapat membuka mata orang tua yang memiliki anak disabilitas atau anak berkebutuhan khusus untuk tidak dirumahkan saja.

Ajik Krisna yang hadir mengemukakan, bahwa pandangan kelompok disabilitas tidak bisa berbuat harus dikesampingkan, karena selama dirinya membuka usaha selalu melibatkan difabel dalam proses produksi produknya. Bahkan, di pabrik yang sedang dibangunnya ke depan akan menampung 50 pekerja difabel dari 200 karyawan yang dibutuhkan.

“Justru anak disabilitas lebih aware kerjanya dibandingkan orang biasa karena di produksi itu kita butuh orang yang banyak bekerja daripada banyak bicara. Nah kalau orang biasa pasti kan banyak bicara, daripada banyak bekerja,” ucapnya.

Selain Armudji dan Ajik Krisna, Asuro juga menghadirkan Duta Baca Jatim Heraldha Savira sebagai pembicara seminar nasional This Able yang dihadiri sekitar 40 orang disabilitas. (tok/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Anoa Dataran Rendah Koleksi KBS Mati

Unik dan Lucu, Lomba Sugar Glider di Surabaya

Aryo Seno Bicara Organisasi Sayap PDI Perjuangan