Politik Pemerintahan

Sukarnois: Prabowo Lebih Paham Cara Kembalikan Jati Diri Bangsa

Prabowo Subianto sedang menyapa pendukungnya.

Surabaya (beritajatim.com) – Pilpres 2019 diharapkan bisa menemukan sosok pemimpin yang bisa menyelesaikan ancaman kedaulatan negara. Karena saat ini, Indonesia mendapat ancaman asing. Salah satu indikasinya, sudah ada 3 juta warga asing yang masuk ke Indonesia.

Hal ini diungkapkan Letjen TNI (Purn) Suharto, dalam diskusi publik bertajuk ‘Perubahan 2019 untuk Pemulihan Kedaulatan dan Keutuhan NKRI’ yang digelar Pengurus Besar Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah (PB PPKN), di Graha Astranawa, Surabaya.

“Apalagi rata – rata usia mereka yang masuk diatas 18 tahun. Artinya mereka telah mengikuti Wamil (Wajib Militer). Ini bahaya,” tegasnya.

Kekhawatiran ini ditambah dengan masuknya sejumlah senjata ke negara ini.
Karenanya lanjut Suharto, bangsa ini harus waspada, jika tidak ingin lumat. Dan peran presiden sangat penting untuk menyelesaikan masalah ini.

“Kalau Prabowo jadi presiden, akan usir orang-orang itu. Bung Karno aja berani kok,” tambah mantan Komandan Marinir ini.

Pembicara lain Suko Sudarso (Sukarnois, aktivis GMNI 1966) mengatakan, nasib bangsa Indonesia tidak lebih baik, pasca reformasi. Justru semakin amburadul. Ini lantaran Amandemen UUD 1945 ditambah ‘gagal pahamnya’ para pemimpin nasional, membuat Indonesia semakin terpuruk.

“Tidak sekedar ganti orang, tetapi juga harus paham bagaimana menata bangsa ini. Kita yakin Prabowo lebih paham bagaimana mengembalikan jati diri bangsa ini,” demikian disampaikan

Menurut Suko, ada tiga hal penting untuk mengawal perubahan tersebut. Pertama adalah kembali ke UUD 1945 (yang asli), di mana saat ini UUD 945 yang asli sudah diobrak-obrik (amandemen) oleh para politisi.

“Dan tidak cukup itu. Kedua, harus ada reformasi agraria, di sini kita butuh pemimpin yang paham, karena ini bukan sekedar bagi-bagi sertifikat. Ketiga, menerapkan TRISAKTI yaitu berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam sosial budaya,” tegasnya.

Sementara itu, diskusi ini diawali dengan pembacaan draft maklumat yang disampaikan Drs Choirul Anam (Cak Anam), dihadiri pada kiai dan sejumlah elemen masyarakat. Tampak Letjend Marinir (Purn) Suharto, H A Mustahid Astari, KH Suyuthi Thoba Banyuwangi, KH Nur Maemon Sumenep, H Nurhadi ST Ketua Umum PB PPKN, serta perwakilan dari Muhammadiyah, dan tokoh-tokoh nasionalis dari GMNI, dll.[ifw/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar