Politik Pemerintahan

Strategi Jitu Pemkot Kediri dalam Mengantisipasi Covid-19 Varian Baru

Kediri (beritajatim.com) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi adanya tiga varian baru virus corona yang telah masuk ke Indonesia. Adapun varian-varian itu yakni varian B.1.1.7 asal Inggris, varian mutasi ganda B.1.617 asal India, dan varian B.1.351 asal Afrika Selatan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi mengungkapkan, varian baru ini juga telah merebak dari laporan 16 kasus positif Covid-19 di Indonesia.

Dalam mengantisipasi Covid-19 varian baru ini, Pemerintah Kota Kediri telah merumuskan langkah-langkah stretegis. Sesuai arahan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar, tiap kelurahan telah menyiapkan ruang karantina. Sehingga total tersedia 46 ruang karantina. Salah satunya ada di Kelurahan Bangsal, yang menyediakan ruangan dengan kapasitas hingga 20 orang.

Wakil Ketua PPKM skala Mikro Kelurahan Bangsal, Mu’adi mengatakan, pihaknya telah siap siaga dalam memastikan penerapan protokol kesehatan di wilayahnya. Prokes menjadi salah satu kunci dalam mencegah masuknya Covid-19 di lingkungannya, termasuk ‘datangnya’ korona varian baru yang ramai dibicarakan.

“Siap, Kami (Tim PPKM Mikro Kelurahan Bangsal) siap sedia standby di posko selama 24 jam”, ujarnya di Posko PPKM Kelurahan Bangsal beberapa waktu lalu. Posko PPKM Kelurahan Bangsal pernah menjadi percontohan tempat karantina di wilayah Jawa Timur. Sebab, saat itu Kelurahan Bangsal menjadi tempat pertama di Jawa Timur yang menerima pekerja migran untuk menjalani proses karantina pada 26 April 2021 lalu.

Karantina PMI dari Luar Negeri

Tradisi mudik Lebaran 2021 mendapatkan perhatian lebih Pemkot Kediri dalam rangka mengantisipasi kedatangan warganya dari luar negeri, termasuk kemungkinan terbawanya Covid-19. Kebijakan Pemkot Kediri untuk mempersiapkan ruang karantina di setiap kelurahan menjadi gerbang skrening yang amat vital. Setiap Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang pulang wajib untuk menjalani karantina terlebih dahulu, sebelum bertemu keluarga.

Naning Zistiningrum salah satunya. Dia menjalani karantina setelah pulang dari Singapura. Naning berada di ruang karantina selama 4 empat hari di Kelurahan Bangsal. Setelah dilakukan tes PCR dan hasilnya negatif, ia diperbolehkan kembali ke pulang rumah untuk menjalani proses isolasi secara mandiri.

Tri, suami dari Naning menyampaikan rasa terima kasih atas layanan yang diberikan Pemerintah Kota Kediri selama istrinya menjalani karantina. “Sudah baik, apalagi tim satgas di Posko PPKM Kelurahan Bangsal mau melakukan penjemputan,” terang Suami dari Naning di kediamannya.

Sejauh ini, BPBD dan Dinas Kesehatan telah menjemput 19 orang pekerja migran yang pulang ke Indonesia dan dilakukan karantina di Posko PPKM Mikro masing-masing kelurahan. Dari 19 orang tersebut, 17 orang sudah bisa pulang, 1 orang masih dikarantina dan 1 orang dirawat di RS. Kilisuci karena hasil tes PCR terakhir terindikasi positif Covid-19.

Jemput PMI Luar Negeri

Tidak hanya menunggu kedatangan PMI dari Luar Negeri, Pemkot Kediri melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat memberikan layanan jemput bagi mereka yang hendak pulang ke Kota Kediri. Upaya jemput bola ini bertujuan untuk memastikan selama perjalanan hingga masuk ke ruang karantina PMI di Kota Kediri.

Sudarmi adalah PMI yang datang dari Hongkong. Dia tercatat sebagai warga Kelurahan Burengan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Seusai menjalani isolasi di Asrama Haji, Sukolilo Surabaya, Minggu malam (23/5/2021) lalu dijemput oleh BPBD dari Surabaya guna melakukan isolasi di ruang karantina Posko PPKM Kelurahan setempat.

Lurah Burengan, Adi Sutrisno menjelaskan bahwa PMI yang sampai di Bandara Soekarno Hatta akan melakukan isolasi di asrama haji selama 2 hari sembari menunggu hasil swab PCR pertama keluar. “Sebelum sampai di Kota Kediri, Sudarmini telah melakukan 2 kali swab, yaitu di Hongkong dan Asrama Haji. Alhamdulillah hasilnya negatif, dan pagi tadi juga sudah melakukan swab PCR ke 2 di Puskesmas Pesantren 2,” terangnya

Menurut Adi saat ini ada 2 orang PMI asal Kelurahan Burengan yang telah tiba. “PMI yang datang pertama sudah dipulangkan ke keluarganya. Setelah sebelumnya juga dilakukan Swab PCR ke 2 dan hasilnya negatif. Saat ini, PMI tersebut menjalankan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari,” jelasnya.

Sembari menunggu hasil Swab PCR ke 2 keluar, Adi menjelaskan bahwa Posko PPKM telah menyediakan beberapa fasilitas, mulai dari tempat tidur, tv, kipas angina, genset, mushola, dampur umum hingga wifi untuk PMI yang melakukan isolasi. “Setelah melakukan isolasi di Posko PPKM, PMI yang sudah di pulangkan ke keluarganya juga masih akan dipantau oleh petugas,” tambahnya.

Lebih lanjut Adi juga menjelaskan bahwa masyarakat di Kelurahan Burengan juga tidak merasa khawatir dengan kepulangan PMI di daerahnya. “Masyarakat sudah kita berikan edukasi melalui RT, RW, kader PKK dan kader posyandu. Yang terpenting selalu terapkan 5M (memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mencuci tangan dan mengurangi mobilitas,” jelasnya.

Prokes Untuk Santri Kembali ke Pesantren

Tahun ajaran baru di lingkungan pesantren juga tak luput dari perhatian Pemkot Kediri. Betapa tidak, Kota Kediri juga terkenal dengan kota santri, karena berdirinya banyak pondok pesantren. Setelah berada di rumah saat libur panjang ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, para santri mulai kembali ke pesantren untuk belajar ilmu agama. Salah satu pesantren yang terbesar adalah Lirboyo di Kecamatan Mojoroto.

Kembalinya santri ke Pondok Pesantren Lirboyo, dilakukan secara bertahap, dimulai hari Minggu (23/5/2021) kemarin sampai dengan Rabu (26/5/2021) mendatang. Nantinya, ada sekitar 25.000 orang santri dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri, akan bergerak menuju salah satu pondok pesantren besar di Jawa Timur yang ada di Kota Kediri ini.

Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar melalui Satgas Penanganan Covid-19, memberikan arahan agar pondok pesantren menyiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) kedatangan santri. Salah satunya adalah mewajibkan membawa surat keterangan bebas Covid-19. Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar juga menghimbau agar pondok pesantren selalu berkoordinasi dengan Satgas Penanganan Covid-19 selama proses kembalinya santri.

Ia pun menginstruksikan kepada Satgas Penanganan Covid-19 Kota Kediri yang terdiri dari Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, BPBD, TNI, Kepolisian dan Satuan pol PP untuk memastikan proses kepulangan santri berjalan dengan lancar, dan aman sesuai dengan protokol kesehatan.

Ketua Pondok Pesantren Tangguh, Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri, KH. M Abdul Muid Shohib menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Kediri. Ia merasa terbantu, dan berharap kegiatan kembalinya santri ke pondok pesantren tidak menimbulkan cluster baru Covid-19.

“Dalam pelaksanaan kepulangan santri kali ini, kita (Pondok Pesantren Lirboyo) merasa banyak dibantu oleh Pemerintah Kota Kediri,” ungkap KH. M Abdul Muid Shohib saat dimintai keterangan, Minggu (23/5/2021) pagi di sela-sela kegiatan kepulangan santri.

“Ini temen-temen BPBD membantu proses penyemprotan disinfektan dan dari Satpol PP dan Dishub membantu mengatur ketertiban lalu-lalang kendaraan. Dinas Kesehatan melakukan pemeriksaan santri dan proses screening.” lanjutnya.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Kediri, dr. Fauzan Adima, M. Kes, saat dikonfirmasi melalui telepon menyebutkan, sebelumnya pihaknya telah mengumpulkan perwakilan pengurus Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri, di Balai Kota pada Jumat (21/5/2021), guna persiapan penanganan kedatangan para santri. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar dan Kapolres Kediri Kota.

“Beragam upaya dilakukan Satgas Penanganan Covid-19 Kota Kediri, untuk mengantisipasi kepulangan santri. Semua pengurus kami minta menyerahkan data santri yang akan masuk ke Kota Kediri. Santri yang datang juga harus membawa hasil rapid antigen dari lembaga yang kompeten dan kredibel,” ungkap dr. Fauzan Adima.

Gencarkan Program Vaksinasi

Selain memastikan protokol kesehatan dalam setiap individu penduduknya, Pemkot Kediri juga terus berupaya meningkatkan imunitas warga. Ya, melalui program vaksinasi massal yang dilakukan secara terus menerus. Mulai dari Forkopimda, tenaga kesehatan (nakes), petugas pelayan publik hingga kelompok rentan yaitu lansia.

Kota Kediri masuk dalam jajaran 19 kabupaten/kota se-Indonesia yang memvaksinasi lansia di atas 50 persen sasaran. Berdasarkan data dari Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional pada tanggal 17 Mei 2021, Kota Kediri berada pada peringkat 11 dengan cakupan vaksinasi Covid-19 bagi kelompok lansia di Kota Kediri telah mencapai 10.904 orang yang telah mendapat suntikan dosis pertama.

Meskipun Kota Kediri bukan ibu kota provinsi, namun cakupan vaksinasi di Kota Kediri mencapai 59,10 persen. Dimana target peserta vaksinasi lansia di Kota Kediri sebanyak 18.450 orang. Capaian ini dapat diperoleh oleh Kota Kediri berkat berbagai upaya yang telah dipersiapkan untuk mengejar percepatan vaksinasi bagi lansia. Seperti upaya jemput bola yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Kediri.

Penyuluhan vaksinasi Covid-19 kepada lansia dan keluarga lansia secara masif terus dilakukan. Bahkan penyuluhan juga dilakukan secara door to door. Selain itu, petugas dari Puskesmas menjemput lansia untuk dibawa ke Puskesmas ataupun ke Rumah Sakit untuk mendapatkan vaksinasi. Mengingat selain rasa takut untuk divaksin, keterbatasan akses lansia menuju lokasi vaksinasi menjadi kendala proses vaksinasi bagi lansia.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengungkapkan capaian tersebut berhasil diraih berkat kolaborasi Pemerintah Kota Kediri dan Forkopimda Kota Kediri untuk terus mempercepat vaksinasi di Kota Kediri. Khususnya vaksinasi untuk lansia. “Alhamdulillah ini berkat kerjasama kita semua. Baik TNI, Polri, dan Pemda. Semoga ke depan semakin kompak,” ujarnya.

Wali Kota Kediri juga menambahkan bahwa lansia merupakan kelompok prioritas vaksinasi Covid-19. Karena kelompok lansia termasuk kelompok yang berisiko tinggi bila terpapar Covid-19. Pemerintah Kota Kediri telah melakukan upaya-upaya yang mempercepat pelaksanaan vaksinasi bagi lansia. “Semoga percepatan vaksinasi di Kota Kediri berjalan dengan lancar dan vaksinasi bagi lansia dapat segera selesai,” tutupnya.

Vaksinasi Kelompok Ormas

Upaya meningkatkan imun masyarakat melalui vaksinasi Covid-19 terus dilakukan. Kini giliran Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Aisyiah Kota Kediri dan beberapa pengurus pondok pesantren yang dulu belum divaksin dengan total sebanyak 400 orang. Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar yang didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri Fauzan Adima meninjau proses vaksinasi dan berinteraksi dengan mereka penerima vaksin, Kamis (20/5/2021) kemarin.

Wali Kota Kediri mengungkapkan bahwa pemberian vaksin kepada anggota Muslimat NU, Aisyah dan beberapa pengurus pondok pesantren ini karena melihat kegiatan kemasyarakatan mereka yang sering bertemu orang banyak seperti pengajian. Maka dari itu sangat perlu diberikan vaksin agar mereka lebih aman. Di samping itu, bertepatan di Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh di hari ini, semoga semua orang selalu menjaga semangatnya untuk bangkit dari pandemi Covid-19 dengan ikut program vaksinasi Covid-19. Karena pandemi ini sangat memukul berbagai sektor seperti ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Tak lupa Wali Kota Kediri berpesan untuk warga Kota Kediri yang sudah divaksin untuk selalu menerapkan protokol kesehatan. Karena walaupun divaksin bukan berarti tidak bisa terpapar virus Covid-19. Namun bila terpapar virus Covid-19 hanya bergejala ringan atau tidak bergejala. Takutnya bila orang yang sudah divaksin tidak menjalankan protokol kesehatan lalu terpapar virus ini dapat menularkan ke orang yang beresiko tinggi atau orang yang belum divaksin.

“Selain itu saat ini juga sudah ada varian virus Covid-19 baru yang ditemukan yang berasal dari Inggris, India, Afrika dan itu cukup berbahaya. Di Jawa Timur sendiri juga sudah ditemukan orang yang terpapar virus dengan varian baru ini. Oleh karena itu kita harus lebih baik menjaga diri dan tetap berhati-hati,” pesan Wali Kota Kediri.

Dampak Penularan Covid-19 Varian Baru Lebih Besar

Sebagaimana diketahui, varian baru Covid-19 berdasarkan data Kemenkes RI termasuk sebagai kategori varian of concern atau mutasi yang memang sangat diperhatikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pasalnya, dampak penularan yang diakibatkan oleh ketiga varian baru itu dinilai lebih besar.

Sebuah analisis dari Skotlandia menunjukkan, kemungkinan orang yang terinfeksi B.1.1.7 yang dirawat di rumah sakit sebesar 65 persen lebih tinggi ketimbang mereka yang terinfeksi varian sebelumnya. Sementara, mereka yang terkena B.1.1.7 juga memiliki kemungkinan 37 persen lebih tinggi untuk meninggal dunia.

Adapun gejala-gejala dari seseorang yang terinfeksi varian B.1.1.7, antara lain: Demam Batuk Sulit bernapas Menurunnya fungsi indera pengecap dan penciuman Keluhan pada saluran pencernaan Tidak hanya menimbulkan risiko kematian tinggi, varian B.1.1.7 juga memiliki tingkat reproduksi 0.5 kali lebih tinggi dari varian virus corona “normal”.

Dikutip dari Kompas.com (2/5/2021), WHO mengungkapkan, garis keturunan utama B.1.617 pertama kali diidentifikasi berasal di India pada Desember 2020. WHO mendeskripsikannya sebagai “variant of interest”, sehingga memberi kesan bahwa virus ini mungkin memiliki mutasi yang akan membuat virus lebih mudah menular, dan menyebabkan penyakit yang lebih parah atau menghindari kekebalan vaksin. Selain itu, varian B.1.617 juga disebut sebagai “mutasi ganda” dengan mutasi berlabel L452R di California, dan berlabel E484Q di Afrika Selatan dan Brasil.

Karena memiliki kemampuan unik, beberapa penelitian memprediksi bahwa B.1.617 mampu untuk menghindari sistem kekebalan yang tertanam di tubuh manusia. Diketahui, orang yang telah terinfeksi varian B.1.617 ini disebut lebih mungkin terinfeksi ulang. Kabar baiknya, Kepala Penasihat Medis Gedung Putih, Anthony Fauci mengungkapkan, vaksin yang dikembangkan di India, Covaxin tampaknya mampu menetralkan varian B.1.617.

varian B.1.351 pertama kali ditemukan di Teluk Nelson Mandela, Afrika Selatan pada Oktober 2020. Mutasi virus ini disebut dapat memengaruhi netralisasi beberapa antibodi, namun belum terdeteksi apakah jenis ini mampu meningkatkan risiko keparahan penyakit. Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, varian B.1.351 juga diduga memengaruhi penurunan efikasi vaksin Covid-19.

Sama seperti varian B.1.1.7, varian B.1.351 juga memiliki kemampuan penularan lebih cepat. Varian ini juga berpotensi mengakibatkan kematian yang tinggi. Lebih lanjut, varian B.1.351 memiliki pola mutasi berbeda yang menyebabkan lebih banyak perubahan fisik pada struktur protein lonjakan daripada yang terjadi pada varian B.1.1.7. [nm/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar