Politik Pemerintahan

Status Banjir Tempuran Mojokerto Jadi Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi

Rapat koordinasi dengan OPD terkait di SBK Pemkab Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Banjir merendam dua dusun di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto memasuki hari ke 12. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto menetapkan status bencana menjadi Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi.

Ini setelah rapat koordinasi terkait penanganan Bencana Hidrometeorologi bersama instansi terkait di ruang Satya Bina Karya (SBK) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto. Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi ini ditetapkan setelah banjir merendam Desa Tempuran 12 hari.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini mengatakan, banjir di Desa Tempuran telah memasuki hari ke 12. “Air cenderung ada peningkatan oleh karenanya sesuai dengan SOP. Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi sampai 31 Maret 2021,” ungkapnya, Selasa (12/1/2021).

Dengan status tersebut pemerintah wajib mendirikan Poskomando Tanggap Darurat di lokasi bencana, dapur umum, pos kesehatan dan tenda pengungsi. Walaupun sampai saat ini tenda pengungsi sudah didirikannya dan belum ada yang menempati karena warga mengungsi di rumah warga lainnya.

“Selain itu, juga membantu logistik untuk kebutuhan sehari hari bagi terdampak dan mencukupi air bersih kepada warga. Untuk penanganan jangka pendek agar air cepat surut telah dibantu pompa dari BBWS dengan kapasitas 160 liter perdetik sebanyak 3 unit dan alhamdulillah air sudah ada penurunan 5 cm,” katanya.

Sebagai upaya agar air cepat surut, lanjut Zaini, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Mojokerto juga diminta untuk mengupayakan pompa air lagi. Sedangkan penyaring sampah di DAM Sipon yang dikeluhkan masyarakat sebagai pemicu banjir Tempuran sudah dibongkar paksa oleh masyarakat.

“Padahal menurut BBWS tidak ada yang salah terhadap bangunan tersebut. Sesuai kajian ilmiah yang dituangkan dalam DED, sesuai assesment banjir Tempuran disebabkan oleh beberapa hal. Yakni curah hujan cukup tinggi bangunan tanggul belum selesai khususnya di sisi Bekucuk sampai Jombok,” jelasnya.

Zaini menambahkan, penyaring sampah atau trascrak dan tanggul penuh sampah. Seperti kayu, bambu dan tanaman enceng gondok dan kangkung sehingga menyebabkan di sisi bawah tersumbat. Aliran air Avour Sungai Watudakon melambat sehingga solusinya dilakukan pembersihan oleh Perum Jasa Tirta (PJT) dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

“Yang harus disadari bahwa Desa Tempuran berada pada daerah rendah atau cekungan sehingga rawan banjir. OPD terkait harus bersinergi dan berbagi tugas, seperti Dinsos mencukupi dapur umum, Dispari
mencukupi beras untuk dapur umum dan warga terdampak, Dinkes penanganan warga yang sakit,” ujarnya.

Dinas Pertanian, lanjut Zaini, membantu bibit padi untuk warga terdampak. DPUPR melakukan pembersihan sampah enceng gondok, kangkung, kayu dan menambah pompa. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencukupi bak sampah dan mobil Mandi, Cuci, Kakus (MCK) sebanyak dua unit. BPBD mencukupi logistik, air bersih posko, tenda pengungsi, evakuasi terdampak trauma hiling.

“DPR2KP melakukan erbaikan sarana air bersih. Sedangkan penanganan lanjutan di tahun 2021 BBWS akan melanjutkan beberapa pembangunan yang belum selesai yakni tanggul dari Bekucuk sampai Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang sepanjang 1,5 km dan penyelesaian penyaring sampah
dengan dana tahun 2021 sebesar Rp40 milyar,” jelasnya. [tin/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar