Politik Pemerintahan

Sosok di Balik Suara Proklamasi

Surabaya (beritajatim.com) – Tanggal 17 Agustus 2020, Republik Indonesia merayakan HUT ke-75. Perayaan ini menjadi tonggak sejarah bagi seluruh rakyat Indonesia atas kemerdekaan negaranya di tahun 1945.

Kemerdekaan RI digemakan pertama kalinya oleh Ir. Soekarno (yang kemudian menjadi Presiden RI pertama) pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jl. Pegangsaan Timur no. 56 (kediaman beliau). Seperti yang telah diceritakan dalam sejarah, rentetan peristiwa proklamasi tidak terjadi begitu saja. Banyak peristiwa, konflik, dan pertimbangan yang matang dari tokoh-tokoh Indonesia dalam mempersiapkan kemerdekaan.

Terjadinya proklamasi sendiri bisa dikatakan sebagai sebuah kejutan bagi rakyatnya kala itu. Para tokoh yang terlibat juga dituntut untuk memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada di kala pemerintah Jepang mengalami kekalahan dari sekutu. Mereka harus bekerja dengan cerdik agar tidak menimbulkan permasalahan lain yang sekiranya menghalangi pernyataan kemerdekaan RI. Itulah mengapa rencana adanya proklamasi ini tidak disebarluaskan terlebih dahulu pada saat itu.

Seperti yang dikatakan oleh Frans Mendur (fotografer proklamasi) pada Harian Merdeka, saat itu hanya ia dan kakaknya yang merupakan fotografer atau wartawan yang datang. Tidak ada wartawan lain yang meliput karena berita akan adanya proklamasi masih simpang siur di kala itu.

Hal ini tentu saja membuat publik bertanya, lalu suara pembacaan proklamasi yang beredar saat ini siapa yang mendokumentasikannya? Berdasarkan keterangan dari Asvi Warman Adam (Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam artikel yang dimuat oleh Tribun Manado, rekaman tersebut bukan rekaman asli yang dibuat saat Indonesia tengah memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945.

“Itu baru direkam, kan ada yang menulis tahun 1950 ada sumber yang lain menyebutkan tahun 1951. Itu karena Jusuf Ronodipuro dari RRI yang meminta Bung Karno untuk merekam karena sebelumnya belum ada rekamannya,” kata Asvi.

Hal ini berarti rekaman suara yang kita dengarkan saat ini direkam setelah 5-6 tahun kemerdekaan. Perekaman suara proklamasi ini dilatarbelakangi oleh adanya dorongan dari Jusuf Ronodipoero (salah satu pendiri Radio Republik Indonesia) yang meminta Bung Karno untuk merekam kembali suara proklamasi karena sebelumnya belum ada.

Pada awalnya Bung Karno menolak ajakan tersebut karena menganggap proklamasi hanya dilakukan satu kali saja. Padahal, peristiwa proklamasi belum banyak diketahui dan tidak memiliki bukti otentik yang terlalu banyak untuk dikenang generasi muda Indonesia saat itu.

Namun pada akhirnya, Jusuf Ronodipoero berhasil membujuk Bung Karno. Suara rekaman tersebut hingga kini dapat kita dengarkan di Ruang Kemerdekaan Monas.

Jusuf Ronodipoero pada tahun 1945 merupakan seorang wartawan yang bekerja di radio resmi pendudukan Jepang. Akan tetapi saat proklamasi terjadi, ia gagal untuk meliputnya karena penjagaan tentara Jepang yang ketat.

Jusuf menyadari bahwa peristiwa tersebut merupakan berita yang harus disiarkan dan dikenang oleh seluruh Indonesia. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memberanikan diri mendapatkan persetujuan Bung Karno untuk merekam kembali suara proklamasi.

Apabila Jusuf tidak mendapatkan rekaman tersebut, maka sudah dapat dipastikan rakyat Indonesia bahkan seluruh dunia tidak dapat mendengarkan gema proklamasi seperti yang beredar di seluruh platform tiap tanggal 17 Agustus. Oleh karena itu, Jusuf Ronodipoero merupakan sosok yang memiliki peran cukup penting di balik tersebarnya suara proklamasi saat ini. (Sumber: IPPHOS/Wikipedia)





Apa Reaksi Anda?

Komentar