Politik Pemerintahan

Skenario Calon Tunggal, Bawaslu Khawatir Gerus Partisipasi Pemilih

Kediri (beritajatim.com) – Fenomena calon tunggal melawan kotak kosong masih menjadi bahan pembicaraan hangat menjelang Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kediri. Meskipun diamini oleh perundang-undangan, namun skenario melawan bumbung kosong memiliki dampak yang negatif terhadap angka partisipasi pemilih.

Kekhawatiran tersebut datang dari Bawaslu Kabupaten Kediri. “Ini menjadi tantangan tersendiri bagi KPU, bila calonnya tunggal. Bagaimana KPU bisa menyosialisasikan kepada masyarakat. Memberikan pemahaman warga untuk datang ke TPS. Apalagi dalam situasi seperti ini, di masa pandemi. Jadi tantangannya ada dua,” ungkap anggota Divisi Hukum, Data, dan Informasi Bawaslu Kabupaten Kediri M. Saifuddin Zuhri, Jumat (17/7/2020).

Bawaslu khawatir calon tunggal benar-benar terjadi di Pilkada. Sehingga mempengaruhi tingkat partisipasi. Betapa tidak, masyarakat hanya diberikan satu pilihan saja. Meskipun ada satu pilihan alternatif, itupun tanpa gambar alias kotak kosong.

Diakui Saifudin, rumor calon tunggal Pilkada menjadi bahan pemikiran dan kajian tersendiri Bawasalu Kabupaten Kediri. Hal ini karena sepanjang pesta demokrasi lima tahunan di Kabupaten Kediri, belum pernah terjadi.

“Memang kami melihat ada beberapa partai yang rekomnya turun. Itu memang menjadi hak partai politik untuk mengusulkan calonnya. Tetapi dari 50 kursi di DPRD Kabupaten Kediri, semestinya bisa mengusulkan beberapa calon,” ungkapnya.

Bawaslu mendorong KPU untuk meningkatkan sosialisasinya. Memberikan penjelasan kepada masyarakat agar tidak menjadi salah paham. Pun demikian kepada partai politik yang memikul beban tanggung jawab untuk memberikan pendidikan politik yang demokratis.

“Harapannya KPU bisa mendorong partai politik yang masih memilik kesempatan bisa mengusung calonnya. Bisa memberikan pendidikan politiknya. Jangan sampai hanya ada satu pasangan calon. Dan masyarakat tidak tahu, akhirnya tidak datang ke TPS untuk memberikan hak pilihnya,” imbuhnya.

Sementara itu, bila menengok hasil Pilihan Bupati dan Wakil Bupati Kediri 2015, tingkat partisipasi pemilih untuk menggunakan hak suara mereka, kurang dari 60 persen. Padahal waktu itu, KPU mematok target mencapai 75 persen. [nm/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar