Politik Pemerintahan

SK Trimurti Berguru kepada Soekarno

Foto: Google.com

S.K Trimurti lahir pada 11 Mei 1922 di Desa Sawahan Boyolali Karesidenan Surakarta. Ia lahir dari pasangan R.Ng. Salim Banjaransari Mangunsuromo dan R.A. Saparinten Mangunbisomo yang masih terhitung sebagai abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta.

Berdasarkan artikel ilmiah berjudul S.K. Trimurti: Pejuang Perempuan Indonesia (2016) yang ditulis oleh Ipong Jazimah, dituliskan bahwa S. K. Trimurti mengenyam pendidikan sekolah dasarnya di sekolah Ongko Loro atau Tweede Inlandsche School (TIS).

Setelah itu, Ia melanjutkan ke sekolah guru perempuan atau Meisjes Normaal School (MNS). Pada sekolah lanjutan ini menempuh pendidikan dengan masa studi 4 tahun.

S. K. Trimurti lulus MNS dengan nilai yang memuaskan, sehingga Ia dapat langsung mengajar di sebuah sekolah dan mendapatkan profesi pertamanya yakni sebagai guru. Ia berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain hingga pada akhirnya berpindah ke Meisjesschool di Banyumas.

Kota Banyumas inilah yang menjadi pintu gerbang pertama bagi S.K. Trimurti mengenal dunia organisasi.

Dari kota inilah S. K. Trimurti memulai penjelajahannya di dunia organisasi. Pada zaman itu, seorang wanita yang mengikuti aktivitas politik maupun organisasi dianggap sebagai hal yang tabu. Akan tetapi, S.K. Trimurti yang semakin beranjak dewasa tidak setuju akan hal tersebut dan memiliki pandangan bahwa perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki untuk memajukan diri baik dalam hal akademis maupun sosial.

Ia memutuskan untuk menolak aturan dalam keluarganya dan mulai berkecimpung dalam organisasi sembari mengajar.

Hingga pada akhirnya S.K. Trimurti menjadi anggota Rukun Wanita serta kerap mengikuti berbagai rapat-rapat yang diadakan oleh BU (Budi Utomo) cabang Banyumas. Pada bulan Agustus dan September tahun 1932, Ir. Soekarno mengadakan perjalanan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur guna membuka rapat-rapat umum Partindo. Pada salah satu rapat tersebut S. K. Trimurti pertama kalinya melihat dan mendengar secara langsung pidato Soekarno.

Pesan utama pidato Soekarno yang ditangkapnya adalah bahwa bangsa Indonesia harus mulai bergegas untuk menerapkan anti imperialisme dan anti kolonialisme. Isi pidato ini amat mempengaruhi jiwanya hingga akhirnya dengan tekad yang bulat S. K. Trimurti melepaskan statusnya sebagai guru negeri dan memilih bergabung dengan Partindo cabang Bandung dan mulai memperbanyak pengalaman dan ilmu di bidang politik dan isu-isu sosial lainnya meskipun mendapat tentangan dari pihak keluarganya.

Pada tulisan Sukarno Si Pria tahun 1986 S. K. Trimurti mengatakan bahwa “Saya sendiri masuk kepada partai politik itu pada tahun 1933. Waktu itu saya berada di Bandung. Saya berguru pada Bung Karno, belajar politik pada beliau.” Partindo cenderung lebih berani dan terbuka dalam menerima anggota baru serta mengadakan rapat-rapat umum. Selain itu juga non kooperatif. Hal inilah yang mempengaruhi model perjuangan S.K. Trimurti yang cenderung terbuka, berani mengambil resiko dan menolak kerjasama dengan Belanda.

Selain berkecimpung dalam dunia politik, S. K. Trimurti juga gemar menulis. Ia mendalami dunia kepenulisan dengan berguru langsung kepada Ir. Soekarno yang juga berperan sebagai sosok pendorong bagi S. K. Trimurti untuk berani mempublikasikan hasil tulisannya pada khalayak.

Hingga pada akhirnya tulisannya dimuat dalam koran Pikiran Rakyat, majalah Partindo, surat kabar Berdjeoang, dan lain-lain.

Dari pengalaman menulis dan organisasi inilah, S. K. Trimurti mulai memiliki keberanian yang terus bertambah dari sebelumnya dan semakin mencintai perjuangannya dalam dunia jurnalistik, hingga Ia sempat enggan untuk menikah karena takut mengganggu perjuangannya.

Ia beberapa kali mendirikan penerbitan majalah bersama teman-temannya antara lain majalah Bedug yang kemudian berganti menjadi majalah Terompet, dan majalah Mawas Diri. Ia berharap dengan adanya majalah tersebut rakyat dapat lebih banyak membaca dan mengetahui informasi-informasi yang patut untuk dipikirkan bersama saat itu. Akan tetapi, usahanya tersebut mengalami kegagalan.

Hingga tibalah zaman pasca kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu S. K. Trimurti kerap memperjuangkan isu-isu terkait kesetaraan gender melalui tulisannya pada Api Kartini dan Harian Rakyat. Ia juga kerap mengkritik kebiasaan masyarakat yang seringkali menganggap perempuan sebagai pelengkap, makhluk nomor dua atau hanya embel-embel laki-laki semata.

S.K. Trimurti memilih untuk menjadi anggota Partai Buruh Indonesia, dan juga aktif di BBW (Barisan Buruh Wanita) sekaligus menjabat sebagai ketua dikedua organisasi tersebut. Totalitasnya di bidang perburuhan membuatnya diangkat menjadi Menteri Perburuhan pada era kabinet Amir Sjarifoeddin.

S. K. Trimurti tak melulu menuliskan permasalahan politik dalam karya-karyanya. Ia juga menulis tentang isu-isu yang sedang berkembang seperti sosial ekonomi, wanita, perburuhan, dan lain sebagainya. Trimurti beranggapan bahwa majalah politik pada saat itu (setelah merdeka) tak lagi sesuai karena keadaan negara tidak lagi dijajah walaupun negara demokratis seperti yang Ia dan teman-teman seperjuangannya impikan belum sepenuhnya terwujud.

Trimurti merupakan salah satu tokoh kemerdekaan yang dipandang gigih memperjuangkan kebebasan pers, kebebasan berekspresi dan hak kaum tertindas terutama perempuan. Baik melalui karya-karya jurnalistik maupun lewat pengabdian sebagai aktivis perempuan dan politik. Oleh karena itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengabadikan namanya sebagai penghargaan dengan nama Trimurti Award. Penghargaan ini bertujuan untuk melestarikan semangat dan prinsip perjuangan Trimurti baik kepada aktivis perempuan atau jurnalis perempuan.

Kehidupan Trimurti sang wartawati begitu familier dengan penjara, baik sejak masa pemerintahan Belanda sampai pemerintahan Jepang. Ia menyudahi goresan penanya di dunia pada 20 Mei 2008. Pejuang perempuan dari Boyolali ini meninggal dunia pada pukul 18.30 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 96 tahun. Tepat saat bangsa Indonesia memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional. (ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar