Politik Pemerintahan

Doktor KAHMI Kumpul di UB

Siti Zuhro: Demokrasi ‘Pokok e Menang’ Harus Diakhiri

Malang(beritajatim.com) – Doktor dan Guru Besar Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) berkumpul membahas ancaman ketahanan sosial Indonesia setelah Pemilu 2019 mendatang, di Universitas Brawijaya, Malang, Sabtu, (23/3/2019). Kegaduhan iklim politik saat ini dikhawatirkan berkepanjangan hingga setelah Pemilu.

Koordinator Organizing Committee Simposium Nasional KAHMI, Lukman Hakim mengatakan, kondisi bangsa saat ini seolah terbelah di kubu 01 dan kubu 02. Pandangan politik yang berbeda seolah-olah menciptakan rongga antar anak bangsa. Padahal, Pemilu harus dinikmati sebagai sebuah pesta demokrasi yang menggembirakan.

“Keterbelahan itu tidak saja antarkelompok yang sescara sosial dan politik berbeda, melainkan juga terjadi di dalam kelompok yang sama. Hal itu seharusnya bisa menjadi sesuatu yang biasa sebagai dinamika dalam demokrasi, namun jangan ada keterbelahan,” kata Lukman.

Dinamika demokrasi menjadi berbeda ketika menjadi pertentangan politik yang tajam dan kurang terkendali ditambahi fanatisme agama, etnis, partai, yang justru dapat menimbulkan kegaduhan bahkan konflik di kalangan elit hingga akar rumput.

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Siti Zuhro menyebut Pemilu 2019 menjadi kontestasi politik paling keras sepanjang sejarah demokrasi di Indonesia. Keterbelahan paling nyata terjadi di kalangan umat Islam kelompok mayoritas di Indonesia.

“Ini kan dimulai dari Pilkada 2017 yang tidak selesai sampai sekarang. Kontestasi yang keras cenderung menyebabkan perpecahan. Terutama dalam kelompok Islam yang merupakan kelompok mayoritas,” papar Zuhro.

Zuhro mengatakan, politik identitas menggunakan isu SARA harus segera diakhiri. Sebab, jika tak diakhir berpotensi berkepanjangan hingga pasca Pilpres. Butuh sebuah rekonsiliasi siapapun pemenang di kontestasi Pilpres nanti.

“Mengapa disharmoni itu muncul, kenapa antar masyarakat itu tidak saling percaya. Karena demokrasi kita tak membangun nilai kepercayaan dan menghargai. Karena dalam kontestasinya melakukan cara-cara “pokok e menang”. Akhirnya menghalalkan segala cara,” tandasnya. (luc/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar