Politik Pemerintahan

SiLPA Bojonegoro Tinggi, DPRD Nilai Ada Uang Tak Terduga

Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Bojonegoro, Lasuri

Bojonegoro (beritajatim.com) – Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro Lasuri mengungkapkan, tingginya Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (SiLPA) APBD Kabupaten Bojonegoro terjadi karena ada beberapa sebab.

Tingginya SiLPA APBD Bojonegoro terjadi selama tiga tahun terakhir. Mulai 2018, jumlah SiLPA sebesar Rp2 triliun lebih, kemudian di 2019 sebesar Rp2,2 triliun lebih dan di 2020 atau tahun berjalan ini diperkirakan sebesar Rp2,3 triliun.

Menurut politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu, tingginya SiLPA dalam APBD Kabupaten Bojonegoro lantaran di 2019 Pemkab Bojonegoro menerima dana tak terduga dari pemerintah pusat, baik transfer Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi (DBH Migas) maupun transfer dari kurang salur di akhir tahun ketika APBD sudah ditetapkan.

“Sehingga tidak memungkinkan jika dipasang dalam APBD dan menjadi SiLPA. Kedua, pada saat itu ada tahun politik, mulai pemilu legislatif, pilpres dan pilkades serentak yang mempengaruhi proses transfer ke desa-desa maupun bantuan keuangan lainnya,” ujarnya, Sabtu (24/10/2020).

Sedangkan pada 2020 ini, SiLPA terjadi karena ada beberapa aturan yang menjadikan pemerintah daerah kesulitan dalam merealisasikan anggaran. Termasuk diantaranya, adanya SKB dua menteri yang mensyaratkan APBD kabupaten seluruh Indonesia minimal menganggarkan 35 persen belanja barang dan jasa untuk kepentingan Covid-19.

“Pemkab Bojonegoro menganggarkan Rp1,3 triliun. Akan tetapi untuk pelaksanaan kebutuhan Covid-19 sudah tercukupi. Sehingga alokasi anggaran tidak sepenuhnya terserap,” jelasnya.

Selanjutnya, anggota DPRD tiga periode itu mengungkapkan, bahwa tingginya SiLPA pada APBD 2020 itu karena ada transfer dana pembagian deviden Participating Interest (PI) Blok Cepu, dari PT SER ke BUMD Bojonegoro, PT ADS sebesar kurang lebih Rp122 miliar dan transfer kurang salur DBH Migas sebesar Rp270 miliar.

“Transfer dana tak terduga di akhir tahun itu tentu juga akan membuat SiLPA menjadi tinggi, termasuk ada kegiatan-kegiatan yang tidak terserap seperti misal untuk pengadaan mobil, kegiatan seremonial ditunda sehingga menjadi SiLPA yang cukup tinggi,” bebernya.

Adanya Permendagri nomor 64 tahun 2020, juga merepotkan dalam proses perencanaan anggaran yang jelas. Dalam peraturan tersebut, salah satunya dituangkan dalam penyusunan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 2021 juga harus menganggarkan untuk penanganan Covid-19. Sehingga, dia memprediksi tahun depan juga berpotensi terjadi SiLPA yang tinggi.

“Sesuai dengan Permendagri 64 pembahasan APBD itu kan awal bulan Agustus, sedangkan transfer dana itu tidak bisa diprediksi. Kadang menjelang akhir tahun bisa dapat transfer. Seperti contoh pada 2018, tingginya Silpa di 2018 karena triwulan 4 yang biasanya tidak pernah ditransfer ada transfer masuk dari kurang salur DBH Migas,” jelas Lasuri.

Sebab, Lasuri menegaskan, bahwa dari segi perencanaan, penyusunan APBD tersebut sudah sesuai dengan proses yang benar, baik melalui Musrenbang ditingkat desa hingga kabupaten dan sudah terdesain dengan baik. “Untuk menghindari sanksi dari pemerintah pusat soal tingginya SiLPA ini, pemerintah daerah harus bisa menjelaskan ke Kementerian Keuangan dan Kemendagri bahwa besaran SiLPA itu karena ada transfer dana yang dilakukan akhir tahun,” pungkasnya.

Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bojonegoro Nurul Azizah mengungkapkan, tingginya nilai SiLPA tersebut lantaran adanya pandemi sehingga refocusing anggaran untuk pencegahan maupun penanganan Covid-19. Sesuai dengan SKB dua menteri, refocusing anggaran Covid-19 di Bojonegoro sebesar Rp1,3 triliun dan tidak semua terserap.

“Selain itu, ada efisiensi anggaran perjalanan dinas dan rapat, serta program lain karena pandemi. Ketiga, adanya pemasukan dari kurang salur DBH Migas dan pemasukan dari deviden BUMD PT ADS dari PI Blok Cepu. Setiap tahun kami juga terus melakukan evaluasi terhadap kinerja OPD,” jelasnya. [lus/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar