Politik Pemerintahan

Selain Merugi, BUMD Bojonegoro PT BBS Juga Masih Punya Utang

Direktur Utama PT BBS Thomas Gunawan

Bojonegoro (beritajatim.com) – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Bojonegoro, PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) mengalami kerugian dan masih mempunyai utang selama menjalankan bisnis dibidang pengelolaan minyak dan gas bumi (migas), Selasa (18/8/2020).

Direktur Utama PT BBS Thomas Gunawan mengatakan, kerugian dan tunggakan utang tersebut merupakan tinggalan dari program bisnis yang dijalankan direktur lama. Sedangkan di tahun 2020 ini, BUMD milik Pemkab Bojonegoro hanya menjalankan bisnis penyewaan The Residence di Desa Talok, Kecamatan Kalitidu dan pengelolaan Sumur Tua Wonocolo.

“Kerugian dan utang piutang itu mulai dari tahun 2014 hingga 2017, kalau yang baru bisnisnya hanya pegelolaan sumur tua dan penyewaan perkantoran dan penginapan The Residence, dan itu masih aman-aman saja,” ujarnya.

Kerugian bisnis yang dialami PT BBS sebesar Rp3 miliar lebih dari pengelolaan gas flare Sukowati yang dilakukan bersama PT Inter Media Energi dengan nilai investasi sebesar Rp3,1 miliar dan PT Laban Raya dalam pengelolaan asam sulfat cair senilai Rp700 juta.

“Pengelolaan gas flare Sukowati invoice yang kita ajukan Rp3 miliar tidak terbayar karena proyeknya mandek. Sedangkan bersama dengan PT Laban Raya proyek yang berbeda lagi,” jelasnya.

Untuk menutup kerugian dan utang tersebut, sehingga tahun ini perusahaan plat merah itu gagal menyetor Pendapatan Asli Daerah (PAD). Karena keuntungan yang diperoleh dari pengelolaan bisnis yang dijalankan sekarang untuk menutup kerugian tersebut. Pada 2019 PT BBS mengaku mendapat laba sebesar Rp3,9 miliar dari bisnis pengelolaan sumur tua dan penyewaan The Residence. [lus/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar