Gaya Hidup, Politik Pemerintahan

Sektor Wisata Pamekasan Belum Terpublikasi Secara Serius

Pamekasan (beritajatim.com) – Sektor pariwisata di Kabupaten Pamekasan, kurang mendapatkan publikasi serius dari beragam media massa di wilayah setempat. Sehingga terkesan tidak mendapat perhatian serius untuk mendongkrak sektor wisata yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Abd Aziz dalam kegiatan Seminar dan Media Gathering yang digagas Pemkab Pamekasan bersama Jurnalis setempat, di Spencer Green Hotel, Batu, Jumat (20/11/2020).

“Melalui kesempatan ini kami ingin kembali menyampaikan bahwa media memiliki peran penting dalam mempromosikan produk untuk publik, tidak terkecuali untuk sektor wisata ataupun sektor pariwisata di Pamekasan,” kata Abd Aziz.

Dalam kegiatan seminar yang mengangkat tema ‘Jurnalis dan Pembangunan Ekonomi’, ia mengusung sub tema ‘Pariwisata, Media Massa dan Media Sosial’ sebagai upaya menggabungkan tiga elemen penting demi mendongkrak sektor pariwisata di Pamekasan.

“Seperti kita ketahui bersama bahwa sektor pariwisata menempati posisi keempat dalam pembangunan di Indonesia, khususnya pasca sektor minyak, batubara, sawit. Sehingga hal ini sangat penting untuk dipromosikan termasuk di kabupaten Pamekasan,” ungkapnya.

Selama ini publikasi media untuk sektor pariwisata di Pamekasan, dinilai kurang mendapat dukungan karena media massa di wilayah setempat lebih fokus pada sektor politik, pendidikan, kesehatan dan hiburan. “Sementara sektor pariwisata justru kurang mendapat dukungan publikasi dari beragam media massa,” imbuhnya.

“Adanya justru publikasi sektor wisata dengan konotasi negatif, bahkan kalau misal saat ini kita cek tentang pariwisata di Pamekasan, bakal muncul informasi pariwisata terbaru tentang peristiwa pembakaran. Seakan-akan keindahan dan panorama sektor pariwisata lainnya tidak ada,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya menilai era 4.0 seperti saat ini menjadi tantangan tersendiri sekaligus momentum tepat untuk mempromosikan sektor wisata, khususnya di Pamekasan. “Seperti kita tahu, media massa hanya menjadi tugas seorang reporter dan tidak semua orang dapat menjadi reporter,” tegasnya.

“Terlebih untuk katagori media massa ini, juga harus melalui berbagai tahapan yang harus dilalui. Tidak terkecuali dengan selalu berpatokan pada kaidah maupun kode etik jurnalistik, apalagi juga harus melalui tahap editor di meja redaksi,” sambung Aziz.

Hal tersebut berbeda dengan jenis media sosial alias medsos yang tidak memerlukan seorang reporter untuk membagikan informasi. “Sementara untuk media sosial semua orang dapat menjadi reporter dan cenderung tidak memperhatikan kaidah jurnalistik, apalagi penyampaian informasi relatif cepat karena tidak melalui tahapan editing dan lainnya,” pungkasnya. [pin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar