Politik Pemerintahan

Sejumlah Pejabat Satgas Covid Era Faida Tak Hadiri Undangan DPRD Jember

Sekretaris Satgas Covid Satuki beberapa waktu lalu. [foto: Oryza A. Wirawan]

Jember (beritajatim.com) – Sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, tak menghadiri undangan rapat dengar pendapat yang dilayangkan Panitia Khusus Covid-29 DPRD setempat, Senin (14/6/2021).

Para pejabat yang tak hadir ini adalah mantan kepala organisasi perangkat daerah (OPD) yang pernah tergabung dalam Satuan Tegas Penanganan Covid-19 pada era Bupati Faida. Mereka adalah Kepala Dinas Pendidikan, mantan Kepala Dinas Kesehatan Dyah Kusworini, mantan kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Gatot Triyono, mantan kepala Bagian Umum Danang Andriasmara, mantan Sekretaris Satuan Tugas Covid-19 Satuki, mantan Bendahara Satgas Covid, dan Arifin.

“Undangannya jam sepuluh. Tapi tadi yang hadir adalah Pak Nur Hamid yang mewakili Dinas Pendidikan Jember. Yang lain tidak hadir,” kata salah satu anggota Pansus Covid-19 yang juga Ketua Fraksi PDI Perjuangan Edy Cahyo Purnomo. Akhirnya rapat ditunda.

Menurut Edy, pansus ingin mengetahui perkembangan penanganan Covid dan anggaran yang telah digunakan. Parlemen juga ingin tahu rencana kerja. “Dari satgas tidak pernah menyampaikan laporan itu. Maka tadi kami undang,” katanya.

Para mantan pejabat satgas Covid diundang ini karena mereka dianggap tahu. Rapat bukan hari ini saja. “Besok juga kami akan undang Kepala Dinas Sosial, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah, mantan kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Penny Artha Medya, mantan kepala Bagian Umum Danang Andriasmara, Kepala Bagian Hukum Sekretariat Daerah, dan mantan bendahara Sagas Covid-19,” kata Edy.

Anggota pansus yang juga Ketua Fraksi Pandekar Agusta Jaka Purwana sudah menebak dari awal jika mereka tidak akan datang. “Karena dalam pertemuan sebelumnya, mereka merasa tertekan saat kami mintai data penyebaran anggaran ke mana saja. Masih mbulet gak karuan. Ini pemerintahan baru. Semestinya mereka berani. Masa sudah bergenti. Semestinya mereka berani menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

Agusta melihat ada kesan menghindar. “Apalagi kena (hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan) Rp 107 miliar. Kami pasti mengarah ke sana. Belum lagi temuan teman-teman lain. Menurut saja, ya ngomong saja. Pemerintahan sudah berganti,” katanya.

Pansus Covid-19 juga akan memanggil kembali. “Sampai mereka datang,” kata Agusta.

Dimintai konfirmasi, Satuki mengaku tak bisa hadir karena sakit. “Syaraf tulang belakang saya terjepit sudah tiga pekan ini. Saya sudah memberitahu Pak David (Ketua Pansus David Handoko Seto). Mungkin beliau lupa. Tadi saya sudah minta kawan-kawan hadir mewakili. Tapi kelihatannya ada salah paham,” katanya.

Selain itu, menurut Satuki, ada yang menerima undangan baru siang hari tadi. “Jadi sampai sana telat. Katanya seperti itu, teman-teman saya tanya. Begitu,” katanya.

Gatot setali tiga uang. “Saya tidak tahu ada undangan. Saya baru tahu kalau ada undangan rapat saat dimintai konfirmasi teman wartawan jam dua siang. Tapi saya sudah mengirim WA ke Pak Ketua (David Handoko Seto). Katanya akan dijadwalkan ulang,” katanya. [wir/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar