Politik Pemerintahan

NU dan Pilkada Jember (1)

Sejarah Kekalahan NU Jember dari Pilkada ke Pilkada

Abdullah Syamsul Arifin

Jember (beritajatim.com) – Sejarah pemilihan kepala daerah di Kabupaten Jember dipenuhi narasi kekalahan politik Nadhlatul Ulama sebagai organisasi. NU memang bukan organisasi politik dan tidak diperkenankan terlibat politik praktis.

Namun bukan rahasia lagi jika setiap kali momentum politik elektoral tiba, tokoh-tokoh pengurus NU seringkali terlibat dukung-mendukung kandidat dengan mengatasnamakan personal.

Tidak jelas memang bagaimana membedakan pilihan personal sebagai tokoh dan pengurus dengan preferensi politik organisasi. Toh pada akhirnya NU secara organisasi tak pernah repot-repot membantah atau mengonfirmasi isu tersebut terang-terangan. Semua dibiarkan cair di lapangan dan ditafsirkan terbuka.

Namun dalam banyak hal, preferensi politik untuk mendukung salah satu calon merupakan kesepakatan tak tertulis di antara pengurus tanfidz dan syuriah di tingkat cabang, yang kemudian dikomunikasikan kepada akar rumput melalui pengurus-pengurus tingkat kecamatan dan desa serta badan otonom.

Komunikasi mengenai preferensi politik ini semakin mudah, karena mendapat dukungan dari Partai Kebangkitan Bangsa yang merupakan ‘anak kandung’ NU. Dalam konteks inilah kita membaca relasi sejarah pilkada dengan politik kaum nadhliyyin di Jember sejak pasca Reformasi 1998.

Pemilihan kepala daerah demokratis pertama di Jember digelar pada 2000. Saat itu PKB menguasai 17 dari total 45 kursi di DPRD Jember. Di atas kertas, tak sulit untuk mendudukkan KH Yusuf Muhammad menjadi bupati. Dia adalah keturunan Bani Shiddiq, salah satu keluarga ulama terpandang di NU. Jadi tak heran jika dukungan warga nahdliyyin diarahkan kepadanya.

Lawan Gus Yus, sapaan akrab Yusuf Muhammad, adalah Samsul Hadi Siswoyo, mantan wali kota administratif Jember. Saat itu, pemerintahan daerah di Jember memang terbagi dua: kabupaten yang membawahi 28 kecamatan dan kota administratif yang membawahi tiga kecamatan.

Namun kalkulasi di atas kertas tak pernah terwujud. Samsul Hadi Siswoyo terpilih menjadi bupati bersama Wakil Bupati Bagong Sutrisnadi untuk memimpin Jember pada periode 2000-2005. Samsul kemudian dengan piawai merangkul PCNU Jember dan Kencong, agar luka akibat pilkada segera mengering.

Kedekatan dengan NU menjadi modal politik Samsul untuk maju lagi dalam pemilihan kepala daerah langsung pada 2005. Kali ini, Samsul mendapat dukungan dari PCNU Jember. Berkat dukungan dari PCNU ini, Samsul bisa memperoleh restu dan rekomendasi dari KH Abdurrahman Wahid yang saat itu menjadi Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa. Samsul maju dalam pertarungan pilkada berpasangan dengan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Baharuddin Nur.

Namun, Dewan Pimpinan Cabang PKB yang diketuai Madini Farouq justru berkoalisi dengan PDI Perjuangan untuk mendukung duet MZA Djalal dan Kusen Andalas. Samsul akhirnya kalah, Djalal-Kusen memimpin Jember hingga 2010.

Pilkada 2010, Ketua Tanfidz Pengurus Cabang NU Jember Abdullah Syamsul Arifin maju menjadi calon wakil bupati mendampingi calon bupati Guntur Ariyadi. Lagi-lagi kandidat yang didukung NU dan PKB ini kalah dari kandidat petahanan Djalal-Kusen.

Lima tahun berikutnya, PKB mendukung duet Sugiarto-Dwi Koryanto. Sebenarnya, calon wakil bupati pendamping Faida adalah seorang ulama, KH Abdul Muqiet Arief. Namun dalam pilkada kali ini, dia lebih diidentifikasi sebagai kader PDI Perjuangan ketimbang pengurus struktural NU. Apalagi, pria berkacamata itu menjabat ketua organisasi sayap keagamaan PDIP di Jember, Baitul Muslimin Indonesia.

Kekalahan kembali menghampiri kandidat yang didukung PKB. Faida-Muqiet menang dan memimpin Jember hingga Februari 2021. Kekalahan kali ini menunjukkan betapa tidak solidnya kalangan nahdliyyin. Kemenangan Faida diakui sejumlah kalangan sebagai kemenangan Muqiet Arief, yang dengan pengaruhnya sebagai ulama dan mustasyar Ikatan Alumni Pondok Pesantren Annuqoyah di Jember bisa menjadi lumbung suara. Dengan kata lain, suara kaum nahdliyyin terbelah tanpa ada figur yang menyatukan.

Tahun ini, pilkada kembali bergulir di Jember. Jauh-jauh hari Ketua Pengurus Cabang NU Jember Abdullah Syamsul Arifin sudah menyerukan agar warga nahdliyyin solid memenangi pilkada. “Mitos ini harus diruntuhkan dulu,” katanya, kepada┬áberitajatim.com, Jumat (17/5/2019).

Abdullah mencontohkan semua kepala daerah di Banyuwangi, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, dan beberapa daerah yang dijabat pengurus maupun aktivis NU. “Tinggal di Jember ini tidak tahu bagaimana riwayatnya, sampai sekarang ini (belum ada kader dan pengurus NU yang yang jadi bupati). Apa ada kutukan? Kok NU belum berhasil mengusung kadernya di Jember,” katanya saat itu. [wir/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar