Politik Pemerintahan

Sejak 2018, Petani Tunggu Peminjaman Alat Panen dari Pemkab Jember

Jember (beritajatim.com) – Sejumlah alat dan mesin pertanian (alsintan) dalam program Brigade Alsintan yang dipinjamkan kepada petani telah ditarik oleh Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada November 2018. Sampai hari ini, petani belum bisa meminjam kembali alat mesin pertanian itu.

Program Brigade Alsintan ini adalah program Kementerian Pertanian yang memberikan pinjaman alat dan mesin pertanian seperti combine harvester, traktor, transplanter, corn sheller, dan power thresher. “Kami tanyakan kepada Dinas Pertanian pada saat awal, katanya mau penataan lagi,” kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jember Sucipto, dalam rapat dengan pendapat dengan Komisi B DPRD Jember, Selasa (25/2/2020). Nantinya petani yang membutuhkan bisa meminjamnya lagi.

Salah satu yang dibutuhkan petani adalah combine harvester atau alat pemanen kombinasi yang menuai, merontokkan, dan menampi serealia seperti padi, jagung, kedelai dalam satu rangkaian operasi. Sekretaris KTNA Mohammad Sholeh mengatakan, alsintan jenis combine diberikan pemerintah pusat pada 2016, karena pada tahun sebelumnya, Pemkab Jember berhasil mencapai swasembada pangan. “Setelah itu alat ini tidak didistribusikan selama hampir dua tahun. Lalu kami mengajukan proposal pinjam pakai,” katanya.

Syarat pinjam pakai alsintan jenis combine harvester adalah petani harus memiliki garasi penyimpanan dan alat pengangkut ke sawah. “Kami sudah penuhi semua, dan habis biaya sekitar Rp 25 juta,” kata Sholeh.

Sebagaimana pernah diberitakan Beritajatim.com, Minggu (24/3/2019), Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tanaman Pangan Jember Ahmad Imam Fauzi membenarkan jika Bupati sedang melakukan verifikasi dan validasi (verval) kelompok tani. Verval ini memastikan agar peminjaman tepat sasaran dan memiliki dimensi keadilan.

Setelah alsintan itu ditarik, Sucipto lantas menginstruksikan kepada para anggotanya untuk membuat proposal peminjaman dan mengantarkannya langsung ke Pendapa Wahyawibawagraha. Namun, saat petani membutuhkannya untuk kepentingan pertanian seperti saat musim panen, alsintan itu belum juga dipinjamkan kembali.

KTNA sudah berupaya mempertanyakan kepada Pemkab Jember soal kemungkinan alsintan itu dipinjam kembali. Namun hasilnya nihil. “Akhirnya kami diam. Ya sudah tunggu saja kalau nanti ganti bupati,” kata Sucipto.

Pertengahan Februari 2020, KTNA mencoba lagi untuk mengupayakan peminjaman alsintan itu. “Proposal sudah masuk semua di pendapa, dengan tembusan ke Dinas Pertanian,” kata Sucipto.

Informasi yang diperolehnya, paling akhir pada pekan kedua Maret, alsintan itu akan kembali didistribusikan. Menurut Sucipto, alsintan yang ada saat ini masih perlu diperbaiki. “Jadi kami sangat kecewa, dikarenakan alat-alat itu kalau rusak, kami bersama teman-teman tidak perlu mendatangkan teknis dari luar. Kami sudah punya teknisi (untuk memperbaiki alsintan jenis combine) dan suku cadangnya sudah kami siapkan di koperasi. Jadi petani sudah tidak bingung lagi,” kata Sucipto.

Sholeh berharap agar alsintan tersebut segera dipinjamkan lagi kepada petani, daripada hanya diletakkan di halaman kantor Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan. “Nanti kan makin lama makin rusak,” katanya.

Komisi B sebenarnya mengundang Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan dalam rapat ini. Namun, tak ada satu pun yang hadir, karena pada hari yang sama, ada kunjungan auditor dari Badan Pemeriksa Keuangan. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar