Politik Pemerintahan

Sarapan Bareng di Warung, Hendy Siswanto Kampanye Ekonomi Kerakyatan

Jember (beritajatim.com) – Warung tradisional menjadi perhatian Hendy Siswanto, calon bupati yang diusung bersama calon wakil bupati M. Balya Firjaun Barlaman oleh koalisi Partai Nasdem, Partai Keadilan Sejahtera, Gerindra, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Demokrat, dalam pemilihan kepala daerah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, tahun ini.

Dalam kunjungannya ke sejumlah kecamatan, Rabu (28/10/2020), Hendy dan rombongan menyempatkan diri sarapan bersama warga di salah satu warung makan di Pasar Kalisat, Kecamatan Kalisat.

“Alhamdulillah, Bupati Jember sarapan bersama wong cilik di pasar, Insyaallah menang,” celetuk salah seorang warga yang ikut sarapan.

Pilihan sarapan di warung, menurut Koordinator Nasdem untuk Pemenangan Pilkada di Jember Moch Eksan, merupakan bagian dari kampanye ekonomi kerakyatan pasangan Hendy-Firjaun.

“Ketika Pak Haji Hendy makan di warung sebuah desa, pasti desa itu akan gempar, dan itu akan jadi sarana promosi tersendiri untuk memperkuat pangsa pasar warung itu. Dan itu menguntungkan, karena sama halnya kita ikut mempromosikan,” katanya.

Eksan percaya, warung-warung tradisional akan menjadi kekuatan ekonomi di Jember dan mengangkat martabat para pelakunya. “Ke depan keberpihakan pemerintah harus terlihat,” katanya. Keberpihakan itu berupa pelatihan peningkatan standar pelayanan dan mutu barang yang dijual.

“Warung tradisional adalah warung yang berada di kampung-kampung yang hidup di tengah masyarakat. Ke depan saya kira agar warung-warung ini tetap eksis, maka semestinya pemerintah memberikan contoh dengan cara membeli di sana,” kata Eksan, Kamis (28/10/2020).

Eksan menilai, kebiasaan kantor-kantor pemerintah di tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa untuk menjadi pelanggan tetap warung-warung tradisional di sekitar lokasi masing-masing merupakan bentuk keberpihakan.

“Supaya tetap hidup, maka warung-warung di sekitar instansi pemerintah menjadi penyuplai kebutuhan harian instansi pemerintah, menjadi pelanggan. Kalau dilakukan, itu memberikan penghidupan dan pasar kepada mereka,” kata Eksan.

“Kalau bupati, wakil bupati, kepala-kepala dinas kemudian katakanlah makan siang di warung-warung tradisional yang sudah ditingkatkan standarnya, maka nama warung tradisional terangkat, dengan sendirinya warung-warung tradisional akan tumbuh semerbak di Kabupaten Jember, sesemerbak angin perubahan,” kata mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam ini. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar