Politik Pemerintahan

Sam HC Malang Jejeg : KTP Selesai di Desa, Seorang Bupati Harus Kreatif

Malang (beritajatim.com) – Calon Bupati Malang nomer urut 3, Heri Cahyono atau Sam HC, menegaskan, kreatifitas seorang pemimpin sangat dibutuhkan di Kabupaten Malang. Calon yang mengusung jargon Malang Jejeg dari jalur independen itu membeberkan, kreatifitas seseorang tidak terbatas pada sosok birokrat dan pengusaha.

“Jadi Bupati itu harus punya kreatifitas. Jika pupuk langka terus petani disuruh milih Bupati, lah untuk apa? Semua masalah yang terjadi di Kabupaten Malang walaupun bukan kewenangannya, Bupati harus bisa memberikan jalan keluar. Bisa memback up, itu namanya Bupati,” tegas Sam HC usai mengikuti debat terakhir Pilkada Kabupaten Malang, Selasa (1/12/2020) malam.

Dimata Sam HC, buat apa jadi Bupati jika alasan hajat hidup masyarakat Kabupaten Malang, terganjal aturan dan kewenangan. “Buat apa beralasan seperti itu. Karena Bupati itu harus memiliki kreatifitas. Ini bukan masalah birokrat dan pengusaha, ini masalah kreatifitas saja. Kreatifitas itu tidak kemana mana, bukan di birokrat dan pengusaha, disemua orang ada yang namanya kreatifitas,” bebernya.

Sam HC melanjutkan tentang konsep pelayanan publik yang ditawarkan ketika Malang Jejeg terpilih jadi Bupati nantinya. Dimana, seluruh pelayanan publik, dijanjikan akan selesai pada tingkat desa. “Pelayanan publik kita selesaikan di desa. Pembuatan KTP cukup di desa saja, tidak perlu ke kantor kecamatan atau Dinas,” ujarnya.

Masih kata Sam HC, program Malang Jejeg berikutnya adalah soal perijinan. Bagi Sam HC, soal mengurus perijinan ibarat hanya dia yang tahu dan Tuhan. “Kalau nanti perijinan misalkan sudah lengkap, kita kasih target waktu, misalkan tidak sampai waktunya dan ditentukan tidak selesai, maka surat permohonan perijinan tersebut, surat itu berlaku sebagai ijin resmi. Ini terobosan kami, dan ini kreatifitas namanya,” tegas Sam HC.

Soal pengurusan KTP, Sam HC berpuitis seperti pepatah ada banyak jalan menuju roma. Menyakinkan jika KTP harusnya bisa selesai ditingkat desa. “Kalaulah mentok, saya sendiri bersedia disalahkan jika petani makmur, daripada membiarkan petani mati dan kita tidak tahu. Masa ada petani mati atas nama aturan, kan gak betul itu, kita akan pasang badan. Ini aturan manusia, saya ibaratkan aturan itu seperti pagar. Namanya pagar bisa dilebarkan, dibuang dan ini ujian buat kita. Kalau pagar itu aturan, ya bagaimana kreatifitas kita saja,” paparnya.

Terakhir, Sam HC juga memandang ada persoalan dari Paslon nomer urut 1 dan nomer urut 2. Mereka seperti memegang kartu truf masing-masing dan kepentingan yang tersandera. Dan ini, sangat berbahaya bagi iklim pemerintahan di Kabupaten Malang.

“Begini loh, soal sandera menyandera, kita sebagai karakter arek Malang, ngomong opo onok’e saja. Pak Sanusi (SANDI) dan Pak Didik (LADUB) itu saling sebut di medsos. Didebat juga begitu. Padahal mereka ini pernah satu jabatan, ini berbahaya ketika seorang calon pimpinan jadi begini, sesuatu yang aslinya mereka tahu tapi tidak dibuka, dan dibuka kalau ada maunnya dan kepentingan, ini kan menyandera namanya,” ucap Sam HC.

Sam HC menambahkan, kalau satunya jadi Bupati, satunya lagi bisa menurunkan jadi Bupati. Dimasukkan. “Jadi begini, posisinya ada kasus-kasus yang mereka tahu tapi saling menyandera dan punya kartu truf. Kalau memilih pemimpin yang punya kartu truf dan saling sandera begini ya rakyatnya yang rugi. Kami, Malang Jejeg hadir tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu. Malang Jejeg tidak ada sangkut paut dengan sandera menyandera kepentingan politik sama sekali. Sehingga, kami bebas free dan masyarakatlah yang diuntungkan,” Sam HC mengakhiri. (yog/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar