Politik Pemerintahan

Salurkan Kartu Sahabat dan Sembako, Wali Kota Kediri Libatkan Abang Becak

Kediri (beritajatim.com) – Suasana penyaluran bantuan yang biasanya penuh antrean warga penerima tidak nampak pada peluncuran Kartu Sahabat (Santunan Hadapi Bencana Tunai) di Kantor Kelurahan Semampir, Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (24/4/2020). Gantinya belasan tukang becak diberdayakan untuk mendistribusikan Kartu Sahabat, juga paket beras 10 kg dan 2 masker kain tenun di dalamnya.

“Saya meminta agar tukang becak diberdayakan, mereka kan juga terdampak karena penumpang menurun. Jadi dengan adanya pembagian bantuan, mereka bisa jadi kurir, selain mereka juga mendapat bantuan sendiri juga,” kata Wali Kota Abdullah Abu Bakar.

“Jadi per paket kami gaji Rp 5.000, kalau katakanlah satu tukang becak bisa menyalurkan 10 paket mereka sudah mendapatkan uang Rp 50.000. Saya yakin ini bisa membantu mereka selama masa pandemi corona,” tambah Mas Abu.

Selain masyarakat ekonomi lemah yang terdaftar di Dinsos Kota Kediri, Pemkot Kediri juga memberi perhatian pada golongan masyarakat yang terdampak pandemi dengan membagikan Kartu Sahabat (Santunan Hadapi Bencana Tunai), masker 2 buah dan beras 10 kg sejumlah 23.840 paket dimulai di Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota, Jumat (24/4/2020).

“Kartu Sahabat ini diberikan untuk warga Kota Kediri yang terimbas Covid-19 tapi belum terdaftar dalam bantuan pemerintah sebelumya. Baik itu bantuan dari pusat dan daerah,” kata Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar ketika memulai pembagian.

Pandemi ini memberikan imbas ekonomi pada semua orang. Oleh karena itu, Pemkot Kediri membagikan Kartu Sahabat yang berisi saldo Rp 200.000,-/bulan dan akan di top up tiap bulan hingga Juni 2020. Selain kartu, juga mendapatkan 10kg beras dan 2 masker tenun ikat Kediri.

Penerima Kartu Sahabat ini difokuskan untuk masyarakat yang belum menerima bantuan dari pusat dan daerah (misalnya Si Jamal), tidak ada anggota keluarganya yang ASN dan TNI/Polri juga pensiunan, dan ber-KTP Kota Kediri. Bantuan dari Pusat yaitu PKH (Program Keluarga Harapan), BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) Covid, dan BLT (Bantuan Langsung Tunai).

“Setiap KK dapat Rp 5.000,-. Saya mengantarkan untuk 10 KK, ini sudah lumayan,” kata Utari (54 tahun), tukang becak yang biasa mangkal di sekitar Semampir. Pendapatannya turun drastis ketika Covid-19 dan penumpang bus menurun. Utari mengantarkan 2 kantong beras @5kg per KK sehingga sepagi ini dia mendapatkan upah Rp 50.000,-. mengantarkan paket di RT 1/RW 1.

Semampir merupakan halte, tempat bus jurusan Surabaya dan Malang untuk mengakut dan menurunkan penumpang. Ketika penumpang sepi, efeknya tak hanya tukang becak tapi juga kios makanan yang ada di sekitarnya juga sepi.

“Sekarang sama sekali tidak ada yang beli. Makanya terima kasih dapat bantuan,” kata Masro’in (60 tahun), pemilik kios yang biasa menjual makanan ringan yang menerima Kartu Sahabat. Pada saat menerima bantuan, meja tempat menaruh dagangan segar kosong. Sejak pandemi, ia tak lagi menjual makanan basah.

Selain kios makanan, Sudarsih (50 tahun) yang menyulap rumahnya menjadi tempat parkir pun terdampak. Jika biasanya ia bisa mendapatkan Rp 50.000,- hingga Rp 100.000,-/hari, hari ini ia hanya mendapatkan 2 kendaraan yang menggunakan jasanya.

Kartu Sahabat mengunjungi wajah berbeda bagi masyarakat yang terimbas. Bila sebelumnya masyarakat yang sudah terdata di Dinsos, kini masyarakat yang tampak berkecukupan namun sesungguhnya tabungan sudah menipis bahkan sudah tidak ada lagi. Rumah mereka tampak bagus, tapi tidak ada pendapatan bahkan makanan.

“Semua warga mengajukan karena memang semua juga merasakan kesulitan. Makanya semua kami data, baru dianalisa Dinsos dan Tim Pemkot, mana yang diprioritaskan,” kata Pudiyanto, Ketua RT 1/RW 1, Kelurahan Semampir.

“Se-Kota Kediri total 46 kelurahan, sebanyak 23.840 KK mendapatkan kartu sahabat. Untuk hari ini sejumlah 5 kelurahan sebanyak 1.850 KK penerima,” kata Triyono Kutut, Kepala Dinas Sosial Kota Kediri. [nm/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar