Politik Pemerintahan

Debat Publik Putaran I Pilkada Jember 2020

Salam-Ifan Sentil Minimnya Anggaran Pertanian Era Faida

Calon bupati Abdus Salam dan calon wakil bupati Ifan Ariadna

Jember (beritajatim.com) – Calon bupati Abdus Salam dan calon wakil bupati Ifan Ariadna, mengkritik keras kebijakan anggaran sektor pertanian Faida, calon bupati petahana, selama memimpin Kabupaten Jember, Jawa Timur.

“Pertanian merupakan salah satu ibu kandung perekonomian di Kabupaten Jember. Pertanian merupakan salah satu sektor penyumbang PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) terbesar,” kata Salam, saat ditanya calon wakil bupati nomor urut 1, Dwi Arya Nugraha Oktavianto, dalam debat kandidat pemilihan kepala daerah Kabupaten Jember putaran pertama di Studio JTV, Surabaya, Minggu (15/11/2020) malam.

Salam menyebut, sektor pertanian memiliki lahan 164.371 hektare, tapi hanya menghasilkan padi sebanyak 984.201 ton. “Dari pertumbuhan PDRB, Sektor pertanian hanya menyumbang 0,07 persen di era pemerintahan Ibu Faida. Maka di sini patut kita kaji ulang apakah memang pemerintah benar-benar berpihak pada sektor pertanian,” katanya.

Salam menyebut persoalan yang dihadapi petani saat ini seperti kelangkaan pupuk dan murahnya harga saat panen. “Kita wajib memakai RDTRK (Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten) karena di situ ditentukan di mana lahan pertanian dan lahan industri dan lain-lain,” katanya.

Ifan juga menggemakan kritik tentang belum adanya peraturan daerah terkait lahan pertanian abadi di Jember. “Kita wajib memiliki lahan pertanian yang tidak boleh diutak-atik siapapun, baik untuk sektor industri maupun pemukiman dan lain-lain. Kita harus benar-benar memproteksi, pemerintah harus hadir di sini, supaya kita tetap bisa menjaga produktivitas pertanian,” katanya.

Faida menyebut produksi padi di Jember mengalami peningkatan 13 ribu ton per tahun dan ada kenaikan produksi jagung 375 ribu ton. Ia menegaskan, bahwa pengembangan sektor pertanian memerlukan intensifikasi produksi dan mengikuti transformasi dunia pertanian. ‘Petani tidak selalu menjual gabah, tapi petani juga harus bisa menjual beras. Hulu dan hilir sektor pertanian harus dikuasai para petani. BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) juga harus bisa mengakses produksi tani,” katanya.

Dunia pertanian, menurut Faida, bukan hanya tanam dan pasca tanam. “Tapi juga dunia olahan pangan harus dikuasai petani kita,” katanya.

“Permasalahan pupuk bukan hanya di Jember, tapi permasalahan nasional. Pupuk di Jatim pemgurangannya 50-60 persen untuk kuota pupuk bersubsidi. Tapi di panen ketiga, Pemkab Jember sudah menyiapkan pupuk non subsidi dan sudah ada,” kata Oktavianto.

“Saya dari kecil biasa bertani. Kami di sini mengalami kesulitan pupuk dan saat panen raya harga anjlok. Pemerintah benar-benar harus hadir di tengah masyarakat. Kalau memang kesulitan pupuk, seharusnya di situ kita membuat BUMD (Badan Usaha Milik Desa) yang akan memberi pupuk bersubsidi dan kita memiliki data luas lahan, dan menyiapkan penyediaan pupuk agar tidak langka seperti daerah lain,” kata Salam.

Ifan mengkritik politik anggaran Faida selama memerintah. “Saya merujuk APBD 2019, anggaran sangat minim untuk dunia pertanian. Bagaimana kita akan memberi solusi cerdas, jika anggarannya minim,” katanya. [wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar