Politik Pemerintahan

Saiful Mujani: Quick Count Instrumen Mengecek Pemilu Jurdil atau Tidak

Jakarta (beritajatim.com) – Sejumlah pihak meragukan hasil quick count sejumlah lembaga survei pemilu kredibel dalam kontestasi pemilu presiden yang digelar 17 April 2019.

Pasangan 02 bahkan meragukan hasil quick count yang ditayangan media massa.

Prabowo dalam pidato pasca coblosan mengatakan sesuai hasil “exit poll” yang digelar pihaknya dan juga “quick count” yang dilaksanakan pihaknya memenangi kompetisi ini.

Dalam kesempatan itu, ia menuduh adanya sejumlah lembaga survei lain yang dibayar untuk menggiring opini.

Ia menyampaikan agar para pendukung tidak melakukan hal-hal anarkis, tetap tenang, dan tidak melakukan pelanggaran hukum.
“Semua tenang dan tidak terprovokasi ke tindakan anarkis,” ujar Prabowo.

Saiful Mujani pendiri Saiful Mujani Reasearch Center (SMRC) menyatakan bila tidak ada quick count sampai pagi ini, kita masih gelap gulita bagaimana perkiraan hasil Pemilu kita.

“Pasti spekulasi liar bertebaran mengingat tanah air kita yang luas dan pemilih yang besar,” tandasnya.

Berkat ilmu pengetahuan lewat quick count, spekulasi yang tak bertanggung jawab bisa dikurangi. Sangat alamiah kalau manusia ingin tahu segera.

“Ketidak-pastian adalah sumber spekulasi dan kekisruhan. Quick count ikut meredam ini,”tambahnya.

Yang lebih penting, quick count menjadi instrumen untuk jadi pembanding hasil KPU nanti.

Bila keduanya beda ekstrim, misalnya hasilnya terbalik, pasti ada yang salah, quick count atau KPU. Kalau tak ada quick count, kita tak punya alat untuk mengecek kualitas kerja KPU yang dibiayai mahal oleh rakyat. Quick count memastikan apakah Pemilu kita Jurdil atau tidak.

 

Berkat quick count, kita sudah punya informasi yang bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah bahwa Pilpres kali ini mencatat record tingkat partisipasi: sekitar 83 persen.

Melalui exitpoll sebelum quick count dimulai, kita tahu kesaksian warga bahwa hampir semua warga menilai bahwa Pemilu kita Jurdil. Ini legitimasi demokratik atas Pemilu kita.

Dalam Pilpres 2009 dan 2014, data sudah masuk semua pada sore di hari H pemilihan.

Kali ini kurang cepat. Sampai pagi ini, data masuk belum 100 persen walapun hasilnya sudah stabil. Pengitungan di TPS sekarang lebih lama. DPR harus lihat lagi mudarat Pemilu serempak ini.

“Saya dari awal tidak melihat secara ilmiah maupun praktis manfaat Pemilu serempak ini. Saya tahu yang mengajukan ini dulu bukan pakar perbandingan Pemilu dan demokrasi dunia. Hanya sok tahu aja,”tambahnya.

Di atas kerumitan yang begitu besar, Pemilu paling rumit di dunia, secara umum bangsa kita bisa melewatinya dengan baik. Saya salut dengan diri kita sebagai bangsa. Indonesia hebat!

Berbeda dengan 2014, Pilpres 2019 ini ditandai oleh tak ada satupun lembaga quick count yang melaporkan hasilnya terbalik.

“Ada semacam ijtima lembaga quick count tentang hasil Pilpres ini: 01 menang atas 02 dengan selisih sangat signifikan,”pungkasnya.(ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar