Politik Pemerintahan

Runtuhnya Atap Kantor Kecamatan Jenggawah, DPRD ‘Usir’ Perwakilan Bappeda Jember

Jember (beritajatim.com) – Komisi A dan Komisi C DPRD Jember, Jawa Timur, menggelar rapat gabungan untuk membahas insiden runtuhnya atap kantor Kecamatan Jenggawah yang tengah direnovasi, di gedung parlemen, Senin (9/12/2019). Perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Jember diminta meninggalkan ruangan.

Selain diikuti anggota dua komisi, rapat diikuti oleh kontraktor, pengawas, konsultasi, dan Forum Masyarakat Jasa Konstruksi (Formasi). Kepala Dinas Cipta Karya dan Kepala Bappeda juga diundang. Namun Dinas Cipta Karya diwakili Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Endi Susilo dan Bappeda diwakili Kepala Sub Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Ismail.

“Kami sekarang ingin tahu gambaran soal ambruknya atap kantor Kecamatan Jenggawah. DPRD Jember nanti akan mengeluarkan rekomendasi terhadap proyek yang ambruk dan proyek di 22 kecamatan atau hal-hal terkait kegiatan serupa,” kata Ketua Komisi C David Handoko Seto yang memimpin rapat.

David berang, karena Ismail tidak bisa menjelaskan persoalan terkait proyek pembangunan rehabilitasi gedung dan interior kantor Kecamatan Jenggawah yang dibiayai dengan APBD 2019 sebesar Rp 2,049 miliar itu. “Saya hanya diminta datang oleh Pak Sekretaris untuk mendengarkan, mencatat, dan melaporkan isi rapat,” kata Ismail.

David menyesalkan ketidakhadiran pejabat tertinggi Bappeda dalam rapat itu. Ia mengatakan, seharusnya pejabat yang diutus mewakili adalah yang berkompeten dengan tema rapat. “Silakan meninggalkan tempat. Tidak ada gunanya di sini,” katanya kepada Ismail.

David tak hanya kecewa pada Ismail, tapi juga pada Endi Susilo. Endi tidak bisa banyak menjelaskan soal proyek tersebut. “Perencanaan dikerjakan pada 2018, dan saya jadi PPTK pada 2019. Saya hanya melaksanakan perencanaan yang sudah ada,” katanya.

Proyek pembangunan rehabilitasi gedung dan interior kantor Kecamatan Jenggawah mulai dikerjakan pada 24 Juli 2019 dan sesuai jadwal seharusnya selesai pada 21 November 2019. Namun hingga Selasa (3/12/2019), proyek itu belum kelar dan malah atapnya ambruk dan melukai satu orang pekerja.

Endi juga tidak bisa menjawab nama-nama anggota kelompok kerja (pokja) proyek tersebut. Ini membuat David merasa janggal. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar