Politik Pemerintahan

RS Royal Diminta Obyektif Terkait Cuitan Cakasana

foto/tangkapan layar

Surabaya (beritajatim.com) – Kasus cuitan akun @cakasana di media sosial twitter turut menyita perhatian jajaran DPRD Surabaya. Diharapkan, RS Royal Surabaya sebagai tempat bekerja dari pemilik akun mampu bersikap obyektif.

Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti misalnya. Meski tak memungkiri jika masing-masing tempat memiliki kebijakan sendiri, Ia berharap RS Royal bisa mengerti kondisi saat ini.

“Setiap intitusi punya kebijakan. Terpenting obyektifitas perlu dikedepankan. Kita butuh para tenaga kesehatan saat ini. Satu dokter, satu perawat, satu relawan, sangat berarti pada kondisi sekarang,” kata Reni.

Senada, sekretaris Komisi D DPRD Surabaya Akmarawita Kadir juga berpendapat yang kurang lebih sama. Ia berharap jika IDI mampu menengahi permasalahan yang ada.

“Sebaiknya duduk bersama, menyelesaikan masalah. Kalau memang benar, dicari masalahnya, kalau ada yang keliru ya di luruskan. Intinya diselesaikan secara baik-baik,” kata Akma.

“Setiap dokter yang berpraktek pasti merupakan anggota IDI. IDI bisa memfasilitasi masalah ini. Duduk bersama, cari solusi yang terbaik,” tambahnya.

Di sisi lain, RS Royal Surabaya memberikan klarifikasi mereka terkait utas yang dibuat oleh akun Twitter @cakasana. Pihaknya membenarkan jika @cakasana atau Aditya C. Janottama adalah dokter yang bekerja di rumah sakit itu.

“Yang bersangkutan merupakan karyawan Rumah Sakit Royal Surabaya yang bekerja di bagian IGD sebagai Dokter Jaga IGD,” ujar Direktur RS Royal Surabaya, Henny Poeri Margastuti.

Terkait cuitan soal tidak adanya bantuan dari Pemkot Surabaya, pihak RS Royal menyangkal hal itu. “Pernyataan tersebut adalah pendapat atau pernyataan pribadi yang bersangkutan tanpa didukung data yang valid,” kata Henny.

“RS Royal Surabaya tidak bertanggung jawab terhadap apapun yang menjadi pendapat atau pernyataan pribadi karyawan rumah sakit di media sosial maupun media lainnya. Namun demikian, pihak rumah sakit menyayangkan adanya insiden tersebut dan akan menindaklanjuti dengan melakukan investigasi kepada yang bersangkutan,” tambahnya.

Apabila dalam investigasi ditemukan adanya pelanggaran kode etik dan disiplin, pihak RS Royal akan memberikan sanksi kepada @cakasana. “Sanksi akan diberikan sesuai rekomendasi dari Komite Etik dan Hukum Rumah Sakit Royal Surabaya,” pungkas Henny.

Kadiskominfo Pemkot Surabaya M. Fikser pun mengundang pemilik akun Twitter @cakasana untuk datang dan berdiskusi bersama jajaran Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19 Surabaya untuk berdiskusi bersama. Hal ini terkait dengan cuitannya yang memberikan kritik keras kepada Pemkot Surabaya tentang kebijakan yang diambil selama masa pandemi.

“Kalau memang beliaunya kurang puas atau punya ide, bisa datang langsung ke gugus tugas untuk diskusi bersama kami. Pemikiran Beliau pasti bisa berguna untuk menangani hal ini. IDI Surabaya sudah melakukan koordinnasi dengan baik bersama kami,” kata Fikser.

“Kami menyayangkan kenapa itu disampaikan ke media sosial berpotensi membuat disinformasi. Makanya ini kami luruskan,” tambahnya.

Terkait bantuan APD kepada tenaga medis, Fikser memastikan jika hal itu sudah menjadi perhatian khusus Pemkot Surabaya. “60 ribu lebih APD telah diberikan merata ke seluruh rumah sakit. tapi apakah itu sampai ke tenaga kesehatan yang bertugas, kami tidak tahu. itu Bu Risma langsung mendistribusikan,” bebernya.

“Pemkot sangat terbuka mekakukan penanangan ini. Kami tidak ingin seperti gunung es. Kami lakukan rapid test massal dan terus menerus itu terbuka soal ini,” pungkas Fikser.

Sebelumnya, sebagai informasi, jagad linimasa sosial media Twitter mendadak heboh, Rabu (27/5/2020) pagi. Hal ini disebabkan oleh akun twitter @cakasana. Akun yang mengaku milik seorang dokter bernama Aditya J. Janottama ini membuat utas tentang kebobrokan penanganan Covid-19 di Surabaya menurut penilaiannya. [ifw/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar