Politik Pemerintahan

RPH Surabaya Hanya Terima 70 Sapi Kurban, Penyembelihan Sesuai Prokes Ketat

Surabaya (beritajatim.com) – Berbeda dengan tahun sebelumnya, di tahun 2021 ini yang berbarengan dengan PPKM Darurat hingga akhir Juli mendatang.  Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Surabaya masih menerima penyembelihan hewan kurban. Jumlahnya pun meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, karena PPKM Darurat.

“RPH masih ada penyembelihan, karena kondisi RPH beda ya, karena selain untuk distribusi daging juga kan untuk melayani masyarakat, tetap kita prokes ketat,” kata Ketua Badan Pengawas (Bawas) PD Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian, Muhammad Faiz.

“Kita bertahap melayani, mulai warga, instansi, anggota DPR, bergantian. Hari pertama sekitar kurang lebih 70 ekor dari pagi turun salat.  Kambing ga ada, sementara belum terima, sapi saja,” tambahnya.

Tahun kedua pandemi COVID-19 ini, banyak penjual hewan kurban merasa penjualan lebih menurun dibandingkan tahun lalu. Namun di RPH sendiri justru mendapat lebih banyak hewan kurban dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk pelaksanaan penyembelihan tidak dilakukan serentak, tetapi bertahap.

“Kalau secara jumlah mungkin ada kenaikan, karena masyarakat kena aturan PPKM Darurat dan saran sesuai aturan diarahkan ke RPH. Masyarakat lebih sadar akan kesehatan, makanya diarahkan ke RPH. Tapi RPH juga terbatas dari sisi SDMnya karena karyawan juga ga banyak. Nanti juga dibantu warga sekitar yang kita rekrut,” jelasnya.

Faiz mengatakan, jika RPH di Surabaya yang menerima penyembelihan dan pemotongan ada dua. Yakni di RPH Pegirian dan Kedurus. Tetapi untuk RPH Kedurus jumlahnya tak sebanyak di Pegirian, karena terbatas.

“Hanya RPH saja di Surabaya, baik di Pegirian maupun Kedurus. Di Kedurus terbatas paling 10 ekor, karena masyarakat atau masjid tidak ada lokasi, jadi dia hanya lahan di RPH setelah itu dibawa keluar. Itu pun disana ada tim keamanan dari polsek. di Pegirian ada polsek sampai propos ada untuk jaga,” ungkapnya.

Saat penybelihan hingga pemotongan hewan kurban, biasanya masyarakat menonton, baik di masjid maupun RPH. Namun selama dua tahun ini masyarakat tidak bisa menyaksikan, hanya pemilik hewan kurban dan itu pun hanya melalui TV yang disediakan di ruang tunggu.

“Ndak boleh lihat masyarakat. Jadi kita prokes ketat, yang boleh masuk hanya pemilik sapi, kita tempatkan di ruang tunggu, kita pasang TV untuk melihat sapinya dipotong. Kalau melihat dari dekat maksimal 1 orang, setelah itu kembali ke tempat tunggu sampai selesai. Jadi, yang ada hanya petugas di lapangan. Itu pun jaraknya kita atur. Sama seperti tahun lalu, bahkan lebih ketat prokesnya, karena ini darurat,” pungkasnya.[way/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar