Politik Pemerintahan

Rizal Ramli: Kemenangan Prabowo, Kemenangan Rakyat

Surabaya (beritajatim.com) – Mantan Menteri Perekonomian dan Menko Bidang Kemaritiman RI, Rizal Ramli menantang Capres Jokowi untuk memecat Menteri Perdagangan jika ingin serius melakukan perubahan di negara ini.

Loyalis Gus Dur ini juga menantang Capres Prabowo, jika menang dan terpilih, agar berani membersihkan kartel-kartel dagang di Indonesia.

Rizal Ramli menyebut visi misi Jokowi saat kampanye Pilpres 2014 sangat bagus dan tidak bisa membantah prestasi Jokowi di bidang infrastruktur, khususnya jalan tol.

“Dulu, visi dan misi pemerintahan Jokowi bagus. Sayangnya tidak nyambung dengan strategi yang dijalankan. Banyak kebijakan yang offside, karena salah pilih menteri,” tegasnya kepada wartawan di Warung Soto Kudus Surabaya, Rabu (16/1/2019).

Rizal menceritakan dirinya pernah mengajukan pertanyaan kepada dua capres tersebut.

“Saya tanya kepada Pak Prabowo, jika Anda jadi presiden pada 17 April mendatang, pasti banyak kartel-kartel yang datang membawa uang triliunan rupiah. Apa yang akan Anda lakukan? Pak Prabowo menjawab ‘Jika saya terima itu, sama saja saya menembak kaki sendiri’. Kepada saya, Pak Prabowo bilang dirinya adalah tentara dan Ketua Umum HKTI, yang dimaui sederhana yaitu kedaulatan pangan,” ungkapnya.

Rizal juga menanyakan hal serupa kepada Presiden Jokowi, jika terpilih kembali untuk kali kedua, apakah berani menghapus kartel-kartel dagang itu. Namun, hingga detik ini belum ada jawaban yang keluar dari Jokowi.

“Saya tanya ke Pak Jokowi, jika Anda jadi presiden lagi, apakah berani menghapus sistem kuota itu. Sampai sekarang saya belum dapat jawaban,” tuturnya.

Rizal mengatakan, dirinya tidak butuh banyak jawaban dari Jokowi. Jika menjadi presiden lagi, semua sistem kuota harus diganti dengan sistem tarif.

“Saya sebenarnya tidak butuh jawaban banyak dari Pak Jokowi, cukup jawaban simbolik saja. Yakni, pecat Menteri Perdagangan. Jika tidak berani, saya akan terus kampanye agar tidak memilih Jokowi. Sebaliknya, jika Prabowo nantinya menang, itu adalah kemenangan rakyat, karena rakyat sudah sebal dengan kondisi sekarang yang inginkan perubahan, bukan karena timnya yang hebat,” tukasnya.

Pihaknya memprediksi elektabilitas Jokowi saat ini hanya 40 persen dan Prabowo 30 persen, sisanya 30 persen masih swing voters. Namun, elektabilitas Prabowo terus naik dan Jokowi stagnan serta cenderung merosot. Nah, 30 persen pemilih yang belum menentukan pilihan itu adalah mereka yang terdidik dan lebih mapan secara ekonomi.

“Mereka belum menentukan pilihan. Di satu sisi, mereka senang dengan Jokowi, karena orangnya jujur dan tidak neko-neko, tapi kebijakan ekonominya salah. Milih Prabowo juga belum mau. Jadi, yang 30 persen ini ragu-ragu,” paparnya.

“Rakyat yang penting ganti dululah, urusan berikutnya belakangan. Saya rasa sampai April 2019 banyak kemungkinan bisa terjadi. Tapi rakyat Indonesia inginnya menu yang ditawarkan jangan tahu dan tempe doang. Ada ayam, ikan dan steak. Tugas kita bersama adalah mendorong kedua capres agar buat menu baru,” pungkasnya. [tok/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar