Politik Pemerintahan

Revolusi Industri 4.0 Adalah Takdir yang Harus Dihadapi

Surabaya (beritajatim.com) – Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi satu masalah yang harus dihadapi pada era revolusi industri 4.0. Hal tersebut karena selain membutuhkan SDM yang andal dan unggul, juga diperlukan skill sesuai kebutuhan dunia industri.

Gubernur Jatim Soekarwo mengatakan, keahlian atau skill didapat dari pendidikan vokasi, misalnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

“Di bidang vokasi ini, selain moratorium SMK di Jatim, kami juga mendorong link and match antara SMK dengan dunia usaha dan dunia industri, sehingga lulusannya menjadi tenaga kerja sesuai yang dibutuhkan industri,” ujarnya saat menjadi keynote speaker Seminar Nasional Kompetensi SDM di Era Revolusi Industri 4.0 di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (29/1/2019).

Untuk meningkatkan standar lulusan dari SMK itu sendiri, Pemprov Jatim akan membentuk 320 SMK Lembaga Sertifikasi Profesi-1 (LSP-1), melakukan sertifikasi kompetensi bagi 80 ribu siswa SMK, assessor LSP-1 bagi 1.500 guru produktif SMK dan melakukan uji kompetensi terhadap 1.600 guru produktif SMK.

Pakde Karwo berharap agar program vokasi dapat terus berjalan, sehingga kesejahteraan bisa terangkat salah satunya dari pendidikan. “Ini sesuai tujuan negara untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa,” tuturnya.

Sementara itu, Agung Setiya Budhi selaku moderator dalam acara seminar tersebut menjelaskan, revolusi industri 4.0 merupakan keniscayaan, yang dalam seminar tersebut berusaha mencari masukan dan ide, untuk menghadapi era tersebut.

“Kalau bisa dibilang industri 4.0 merupakan sebuah takdir, dari sini kita mencari masukan-masukan serta ide-ide untuk menghadapi era itu,” jelas Agung Setiya Budhi yang juga selaku Direktur Utama PT Gresik Cipta Sejahtera ini.

Ia menjelaskan, penerapan industri 4.0 di bidang perusahaan adalah membuat sistem informasi yang terintegrasi.
Alumni Universitas Diponegoro itu mencontohkan, di PT Gresik Cipta Sejahtera, yang merupakan perusahaan bidang perdagangan umum, bisnis pupuk, bahan kimia, angkutan dan pergudangan, mereka membuat sistem informasi yang disebut ERP, untuk pengintegrasian seluruh komponen perusahaan.

“Mereka juga membuat jaringan ke konsumen, house to house menjaring konsumen kita sampai ke desa-desa, yang mempunyai 1.550 kios di seluruh Indonesia. Tujuan utama untuk sistem dan kontrol, selain itu juga untuk meraih konsumen,” tandasnya.

Sementara itu, seminar nasional yang diselenggarakan oleh IKA Undip DPD Jatim ini dihadiri sekitar 260 orang alumni Undip di wilayah Jatim dan sekitarnya.

Dalam seminar ini juga dilakukan diskusi panel dengan narasumber Wakil Ketua DPD RI, Akhmad Muqowam, Ketua DPP IKA Undip yang juga Dirut Bank Tabungan Negara, Maryono serta Dirut PT Quantum HRM Internasional, Pribadiono. [tok/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar