Politik Pemerintahan

Ratusan Pelajar SMP se-Jawa Timur Ikuti Jambore Keselamatan Jalan di Mojokerto

Kepala Sub Direktorat Promosi dan Kemitraaan Keselamatan, Direktorat Pembinaan Kesemalatan, Ni Widaningsih. Foto : misti/beritajatim

Mojokerto (beritajatim.com) – Badan Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah XI Provinsi Jawa Timur menggelar Jambore Keselamatan Jalan (JKJ) di Lentera Camp Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Dengan peserta perwakilan pelajat tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Jawa Timur, JKJ tahun kedua ini digelar selama tiga hari.

Yakni mulai Jumat (6/9/2019) sampai Minggu (8/9/2019) besok. Data kecelakaan Korps Lalu-lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia, jumlah kecelakaan di Jawa Timur tahun 2019 sebanyak 27.805 kejadian dengan korban jiwa 1.207 jiwa, luka berat sebanyak 166 jiwa dan luka ringan sebanyak 7.568 jiwa.

Ketua Panitia JKJ 2019, Joko mengatakan, kalangan pelajar dengan usia 15 hingga 25 tahun menyumbang angka tertinggi korban kecelakaan. “Yakni sebesar 60 persen dari total korban. Ada beberapa faktor penyebab diantaranya, kurangnya kemampuan dalam mengontrol emosi,” ungkapnya, Jumat (6/9/2019).

Kematangan berfikir, kurangnya pemahaman dan kurang kesadaran pelajar akan keselamatan berlalu-lintas merupakan faktor tertinggi penyebab terjadinya kecelakaan. Membangun paradigma dalam upaya membiasakan bepergian dengan menekankan pada pemenuhan unsur keselamatan menjadi prioritas utama.

“Jambore dipandang sebagai media yang tepat untuk sosialisasi keselamatan jalan tingkat SMP yang efektif dan edukatif. Karena jambore dapat digunakan untuk membangun tata nilai keselamatan jalan sehingga eksistensi nilai yang dibangun dapat terlaksana dan terjaga,” urainya.

Untuk itu, lanjut Joko, dalam rangka mencapai esensi sosialisasi keselamatan jalan bagi para pelajar tingkat SMP perlu terus dilaksanakan dan dipertahankan eksistensi keberadaannya pada tingkat lokal dan regional serta ditingkatkan pelaksanaannya pada tingkat nasional.

“Tujuan jambore sendiri yakni terciptanya peningkatan keselamatan jalan, mengurangi jumlah korban kecelakaan yang melibatkan pelajar, mahasiswa dan masyarakat, terwujudnya budaya masyarakat yang tertib dan teratur dalam berprilaku berlalu-lintas,” tegasnya.

Menanamkan nilai-nilai keselamatan jalan yang mampu diterapkan oleh para pelajar tingkat SMP pada kehidupan sehari-hari, sebagai media mengembangkan ide, gagasan secara kreatif dan inovatif dalam membangun karya keselamatan jalan.

“Memupuk rasa percaya diri pada pelajar tingkat SMP dalam rangka berinteraksi baik pada tataran individu maupun kelompok masyarakat untuk turut serta dalam mensosialisasikan keselamatan jalan. Mengembangkan pengetahuan yang dimiliki (upgrading) tentang keselamatan jalan,” lanjutnya.

Mencetak serta mensosialisasikan generasi pejuang keselamatan jalan secara komprehensif (terkait pengetahuan) dan massif (terkait jumlah generasi yang dididik) dan diharapkan dalam jangka panjang dapat mewujudkan lalu-lintas dan angkutan jalan yang selamat, tertib, teratur dan nyaman.

Kepala BPTD Wilayah XI Provinsi Jawa Timur, Hanura Kelana Irianto mengatakan, JKJ merupakan program dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. “Ini merupakan agenda tahunan yang digelar BPTD Jawa Timur. Tujuannya memberikan edukasi kepada adik-adik kita,” tuturnya.

Masih kata Hanura, tujuan dari JKJ sendiri adalah untuk memberikan edukasi kepada para pelajar tingkat SMP dengan harapan nantinya bisa ditularkan. Lantaran para peserta merupakan sebagai pejuang atau pelopor keselamatan lalu-lintas. Para peserta berasal dari pelajar tingkatan SMP se-Jawa Timur.

“Dalam tiga hari kedepan, para peserta akan diberikan kegiatan yang bersifar permaian dan pemberian materi yang semuanya adalah masalah keselamatan berlalu-lintas,” katanya.

Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Promosi dan Kemitraaan Keselamatan, Direktorat Pembinaan Kesemalatan, Ni Widaningsih mengaku bangga dan bersyukur. “Ternyata generasi kita yang selama ini kita ragukan ternyata luar biasa. Dengan semangat anak muda dan peduli keselamatan, ini yang harus dipelihara,” ujarnya.

Masih kata Ni Widaningsih, kecelakaan diawali dari usia dini dan usia mulainya beralih dari pra remaja menjadi remaja dan dewasa. Sehingga mereka mencari identitas diri menjadi faktor psikologis dan dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan akan lebih terarah.

“Pemahaman kesadaran berlalu-lintas, anak usia ini adalah usia coba-coba. Sebelum itu terjadi, terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebagai pemerintah wajib untuk mencegahnya dengan kegiatan sesuai usianya. Kegiatan ini tidak hanya di Jawa Timur tapi model kegiatan jambore ini hanya ada di Jawa Timur,” tegasnya.

Sehingga nantinya, lanjut Ni Widaningsih, kegiatan tersebut akan dibawa ke tingkat nasional. Sementara di pusat sendiri, kegiatan digelar untuk berbagai segmen. Mulai dari usia dini, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), SMP, Sekolah Menengah Atas (SMA) dan masyarakat.[tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar