Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Raperda Cagar Budaya, Wakil Ketua DPRD Surabaya: Perlu Badan Pengelola

Wakil Ketua DPRD Surabaya, A.H Thony

Surabaya (beritajatim.com) – DPRD Kota Surabaya bersama Pemkot tengah membahas Raperda tentang Cagar Budaya, yang merupakan penyempurnaan dari Perda sebelumnya. Yaitu Perda Kota Surabaya Nomor 5 Tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan dan/atau Lingkungan Cagar Budaya.

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya AH Thony mengatakan, penyempurnaan Perda Cagar Budaya ini penting dilakukan, untuk menyesuaikan dengan UU Cagar Budaya nomor 10 tahun 2011.

“Perda Cagar Budaya nomor 5 tahun 2005 sudah tidak up to date, karena lebih mengatur pada upaya pelestarian bangunan cagar budaya. Padahal saat ini juga dibutuhkan revitalisasi fungsi bangunan cagar budaya,” katanya, Rabu (8/12/2021).

Legislator Gerindra ini menambahkan, Jika perda nanti selesai, implementasinya bisa sinkron dengan Perda yang dininisiasi olehnya yaitu Perda Pemajuan Kebudayaan, Kejuangan dan Kepahlawanan Kota Surabaya yang keberadaanya sekarang masih dalam proses di Bapemperda DPRD Kota Surabaya.

Didalamnya ada 10 objek kebudayaan yang diamanatkan untuk dimajukan berdasarkan Undang-undang nomor 5 tahun 2017, ditambah dua obyek lain yang selama ini sudah melekat sebagai identitas surabaya, yaitu obyek kejuangan dan kepahlawanan kota Surabaya.

“Saya mengusulkan ditambah 2 point lagi, yaitu nilai kejuangan dan kepahlawanan. Ini perlu diperkuat, sehingga karakter Surabaya sebagai Kota Pahlawan, akan nampak dan membuat beda dengan kota lainnya,” ungkapnya.

Didalam perda cagar budaya, perlu juga perlu mengatur badan yang bertanggung jawab terhadap keberadaan cagar budaya. “Badan ini diberikan kewenangan penuh terhadap bagaimana melestarikan dan merevitalisasi fungsi bangunan cagar budaya. Dan di back up oleh anggaran. Karena selama ini kajian yang dilakukan oleh Tim Cagar Budaya hanya sebatas kajian tidak ada tindak lanjutnya,” jelasnya.

Dia mengaku cemburu dengan Semarang dan Jakarta, yang mempunyai Badan Pengelola Kota Tua. “Kita lihat di Jakarta dan Semarang, kota tua yang dulunya terabaikan sekarang menjadi menjadi tujuan dan menarik perhatian para wisatawan,” ujarnya.

Padahal menurutnya, Surabaya dari sisi sejarah dan warisan bangunan cagar budayanya tidak kalah dengan 2 kota tersebut. “Kita lihat kawasan kota tua di sekitar Jembatan Merah. Kawasan tersebut sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, namun hanya sekedar penetapan tapi tidak direvitalisasi. Dengan adanya badan penggeloaan cagar budaya diharapkan bisa melakukan lebih dari itu,” pungkasnya. [asg/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Anoa Dataran Rendah Koleksi KBS Mati

Unik dan Lucu, Lomba Sugar Glider di Surabaya

Aryo Seno Bicara Organisasi Sayap PDI Perjuangan