Politik Pemerintahan

Proyek RSD dr. Soebandi Belum Kelar, Terancam Jadi ‘Gedung Hantu’

Jember (beritajatim.com) – Proyek pembangunan fisik gedung rawat jalan empat lantai di Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, belum juga kelar. Gedung baru itu terancam jadi ‘gedung hantu’.

Proyek itu sudah mulai dirancang sejak 2017. Wakil Ketua Panitia Angket DPRD Jember David Handoko Seto mengatakan, proyek itu dianggarkan Rp 16 miliar dalam APBD 2019. “Sampai sekarang belum selesai. Kami ingin tahu apa masalahnya. Ternyata memang dari proses perencanaan sudah kacau,” katanya, Kamis (30/1/2020).

Semula, proyek itu dibiayai dengan dana alokasi khusus (DAK) APBN sebesar Rp 26 miliar. “Saya pikir ini masih dibiayai DAK Rp 26 miliar tapi tidak bisa diserap semua. Tapi ternyata yang DAK gagal serap, dan pembangunan ini dianggarkan dari APBD 2019. Di pagunya Rp 16 miliar dan bisa diserap Rp 11 miliar,” kata David.

“Ini kan Jember rugi. Seharusnya dapat bantuan Rp 26 miliar dari pusat, tapi justru pakai uang sendiri Rp 11 miliar. Dulu tidak diserap hanya gara-gara salah konsep,” kata David.

Gagalnya penyerapan anggaran DAK ini, menurut David, dikarenakan adanya kegagalan lelang beberapa kali. “Tapi sebenarnya ketika ini perencanaan betul-betul matang dan tidak ada tangaj jahil di dalamnya, saya pikir tidak ada masalah. Waktunya masih cukup,” katanya.

Sesuai kontrak, masa pengerjaan proyek memakan waktu 75 hari. Adendum dilakukan karena proyek belum selesai, dan ada perpanjangan masa kontrak hingga 50 hari ke depan. “Tinggal 17 hari lagi,” kata David.

Gedung baru tersebut sekalipun sudah selesai tidak akan bisa langsung dipakai. “Saya tanya pengawas proyek, ketika proyek ini diserahterimakan pada posisi 100 persen, ternyata masih belum finishing. Rakyat Jember dirugikan setahun,” kata David.

Itulah kenapa David menyebut proyek itu proyek hantu. “Bisa jadi akan jadi rumah hantu, ketika dalam setahun ke depan tak bisa dimanfaatkan,’ katanya.

Direktur RSD dr. Soebandi Hendro Soelistijono mengatakan, dana APBD 2019 memang digunakan untuk pembangunan struktur. “Tahun depan (APBD 2020, red) finishing. Insya Allah 2020, karena rencananya 2020 kami selesaikan. Mungkin butuh anggaran sekitar Rp 10-12 miliar karena struktur rumah sakit berbeda dengan bangunan biasa,” katanya.

Hendro menegaskan, pembiayaan pembangunan rumah sakit itu bukan pembiayaan tahun jamak. “Memang tahun ini (APBD 2019) hanya untuk struktur. Kalau APBD 2020 selesai (disahkan) lelang, insya Allah tidak sampai 2021 selesai. Kan cepat,” katanya. Hendro mengakui mencari rekanan untuk membangun rumah sakit tak mudah. [wir/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar