Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

PPP Beri Kado Ultah Bupati Jember, Apa Itu?

Madini Farouq (kiri) dan Bupati Hendy Siswanto saat penyerahan rekomendasi dukungan saat Pilkada 2020.

Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto berulang tahun ke-60, Jumat (6/5/2022). Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Jember, Jawa Timur, memberikan kado spesial. Apa itu?

“Kami memberi kado berupa menerima permintaan maaf dari bupati terhadap persoalan (kontroversi penertiban) baliho (partai politik) ini. Semoga Pak Hendy dijaga dari melakukan kesalahan-kesalahan berikutnya,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang PPP Madini Farouq.

Madini menegaskan, PPP akan tetap menjadi mitra koalisi yang kritis dan konstruktif. “Ini bentuk rasa ikut memiliki teerhadap kesuksesan dan keberhasilan Pak Hendy dalam melaksanakan tugas sebagai bupati Jember,” kata Madini.

Kontroversi penertiban baliho partai dan ormasi memang membuat Hendy harus meminta maaf kepada masyarakat, Kamis (5/5/2022) petang kemarin. “Di momen lebaran yang penuh berkah ini, terkait dengan penertiban reklame khusus baliho ormas dan partai, kami Pemkab Jember mohon maaf lahir batin dan segera melakukan evaluasi kegiatan penertiban ini.” katanya.

Penertiban berawal dari keinginan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah dari sektor pajak reklame yang hanya mendapat Rp 1,6 miliar pada Aprol 2022. Sasaran penertiban sebenarnya adalah reklame dan baliho yang tak berizin dan tak membayar pajak. Baliho-baliho ucapan Idulfitri oleh tokoh masyarakat dan partai pun ikut kena razia. Ini yang membuat kalangan partai geram, karena sesuai Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2011, reklame partai dan ormas termasuk dalam kategori tak dikenai pajak daerah.

“Saya merespons positif permintaan maaf bupati, walau mungkin kesalahan ini dilakukan Satpol PP. Tapi dalam dunia birokrasi atau komando tidak ada anak buah yang salah. Panglima yang bertanggung jawab atas kesalahan anak buah. Saya menyambut baik, apalagi dalam suasana Idulfitri, kita saling memaafkan dan meminta maaf,” kata Madini.

“Kita tidak perlu gengsi dan malu untuk meminta maaf. Orang yang meminta maaf menunjukkan dia berjiwa besar untuk mengakui kesalahan. Walau mungkin kesalahan itu bukan dilakukannya, tapi anak buah yang salah memahami perintah pimpinan,” kata Madini.

Dari kontroversi razia baliho parpol ini, menurut Madini, ada pelajaran yang bisa ditarik. “Kita harus selalu mau menerima masukan dan saran, karena orang yang memberikan saran dan masukan belum tentu orang yang membenci. Sebagai seorang sahabat, kita harus berani berkata benar kepada sahabat kita, bukan selalu membenarkan apa yang dilakukan sahabat kita. Saling menasihati dan memberikan wasiat dalam masalah kebenaran dan kesabaran,” katanya.

“Kedua, manusia tidak ada yang sempurna. Kadang-kadang kita melakukan salah dan khilaf. Oleh karena itu kita harus mau menerima masukan orang lain, kalau benar. Jangan melihat siapa yang bicara. Tapi lihatlah apa yang disampaikan. Kami tidak ingin bupati dikelilingi orang-orang yang asal bapak senang (ABS), yang membiarkan ketika bupati mau ‘masuk jurang’, karena takut mengatakan yang sebenarnya,” kata Madini.

“Bupati harus didampingi orang-orang yang berani berkata benar kepada beliau, sehingga tidak sampai melakukan kesalahan. Dua kali bupati meminta maaf. Pertama, soal honor pemakaman, dan sekarang soal penertiban baliho. Jangan sampai untuk yang ketiga kalinya bupati minta maaf, yang artinya jangan sampai bupati melakukan kesalahan untuk yang ketiga kalinya. Mudah-mudahan ini jadi kesalahan yang terakhir, sehingga membuat bupati harus minta maaf,” kata Madini. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar