Politik Pemerintahan

Potensi Energi Baru Terbarukan, Emil: Pemuda Jatim Harus Berperan Konkret

Emil Elestianto Dardak

Surabaya (beritajatim.com) – Rumah Millennial Jatim menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertemakan Membangun Kebijaksanaan Pemuda terhadap Pengembangan Enegi Baru Terbarukan dan Berkelanjutan di Surabaya, Rabu (7/7/2021).

Kegiatan ini menghadirkan narasumer dari berbagai latar belakang. Mulai dari Kementerian ESDM diwakili oleh Dirjen EBTKE sebagai regulator, pakar akademisi EBT dari Universitas Indonesia, Manager Eksekutif Direktur Niaga PT PLN (Persero), sampai pemerhati lingkungan Walhi Jatim.

 

Dalam kesempatan tersebut, Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur membuka sekaligus memberikan pandangan bahwa dengan adanya potensi energi baru terbarukan (EBT), diharapkan mampu mendorong generasi muda untuk berperan konkret menghadirkan ruang keilmuan dalam perumusan kebijakan publik, bukan hanya kepentingan semata.

“Diskusi semacam ini harus menghasilkan hal-hal konkret,” katanya.

Perwakilan Walhi Jatim mengatakan, dalam konteks pembangunan sumber energi baru, pun energi baru terbarukan perlu dilakukan definisi ulang terutama dalam prosesnya perlu melibatkan masyarakat setempat.

Febryan Kiswanto, Koordinator Rumah Millenial Jawa Timur mengajak seluruh milenial turut berpartisipasi menjaga keandalan dan kedaulatan energi di Indonesia.

Ia juga menambahkan pola kolaborasi dapat diagendakan dalam ruang kajian maupun workshop yang mengajak para pakar untuk memberikan dukungan.

“Kita tahu bahwa, Hasil Persetujuan Paris (Paris Aggrement) yang dibuat pada Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 2015 di Paris, Perancis berisikan persetujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan iklim dunia, sehingga prioritas pengembangan energi nasional didasarkan prinsip memaksimalkan penggunaan energi terbarukan,” tuturnya.

Kementerian ESDM RI yang diwakili oleh Koordinator Keteknikan Lingkungan dan Panas Bumi Dirjen EBTKE, Roni Chandra Harahap menyampaikan, bahwa Pemerintah melalui pernyataan Presiden Joko Widodo berkomitmen untuk melaksanakan komitmen Paris Agreement.

“Pemerintah berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon hingga dapat menurunkan suhu udara sampai 2 derajat Celsius,” ujarnya.

Roni juga mengatakan bahwa roadmap pengembangan EBT akan terus berlangsung. Sebagaimana data yang disampaikan bahwa di tahun 2020 bauran EBT sebesar 11,2 persen dan pada tahun 2025 akan mencapai 23 persen.

Dalam FGD kali ini juga menghadirkan PT PLN (Persero) Pusat yang diwakili oleh Manajer Eksekutif Direktur Niaga. Dia menyampaikan bahwa dasar penambahan produksi energi baru selalu didasarkan pada keandalan dan ketahanan energi nasional.

Juga, dalam proyeksi bauran energi menuju green energy selalu memperhatikan multiplier effect yang menguntungkan bagi lingkungan dan masyarakat. Selain itu, PT PLN (Persero) berkomitmen bahwa Pengembangan EBT bukan semata-mata pemenuhan program pemerintah, namun sebagai tanggung jawab dan PLN hadir untuk generasi Indonesia yang akan datang.

Sebagai dasar akademis, dalam FGD kali ini juga menghadirkan peneliti dari Institute Sustainable Earth and Resources Universitas Indonesia, Dr. Eng. Yunus Daud, beliau memaparkan bahwa potensi EBT, khususnya energi geothermal yang ada di Indonesia merupakan anugerah dari Tuhan YME.

“Sebagai anak bangsa yang dilahirkan di bumi pertiwi sudah selayaknya kita menjadi tuan di negeri sendiri dengan cara memahami dan menguasai teknologi pengembangan EBT dalam rangka mendukung perwujudan energi bersih di kemudian hari,” imbuhnya.

Untuk itu, FGD ini merupakan sarana terwujudnya diskusi lintas stakeholder yang memiliki semangat agar potensi lokal dalam hal ini pemuda dan masyarakat bisa memahami kekayaan alam di sekitarnya. Tentu dengan kelengkapan berupa wawasan teknologi yang berkelanjutan. Sehingga tetap menjamin keseimbangan alam secara lokal dan global. [tok/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar