Politik Pemerintahan

Politisi Nasdem Ini Nilai Wacana Tunda Pilkada Sarat Kepentingan Politik

Jember (beritajatim.com) – Moch. Eksan, politisi Partai Nasional Demokrat Jawa Timur yang juga mantan komioner Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Jember, mengkritik wacana penundaan pemilihan kepala daerah.

“Lanjut atau tidak, ditunda atau tidak pilkada sudah sarat kepentingan politis dari calon yang gagal ikut kontestasi, kelompok antidemokrasi, dan antek asing yang ingin merusak citra Indonesia,” kata Eksan, Senin (21/9/2020).

Menurut Eksan, pilkada serentak justru bisa menjadi ajang pembuktian pada dunia bahwa demokrasi negeri ini tetap mekar di era pandemi. “Kebanggaan bangsa yang tersisa di era pandemi adalah demokrasi. Negara-negara lain banyak berguru pada pelaksanaan demokrasi Indonesia,” katanya.

Menurut Eksan, banyak yang salah memaknai pemilu sebagai peristiwa politik semata. “Padahal, pemilu juga merupakan penggerak perputaran ekonomi bagi jutaan penduduk di tanah air. Diakui atau tidak, pemilu sejatinya merupakan salah satu lokomotif ekonomi nasional dan daerah yang mandeg berapa bulan terakhir,” katanya.

Eksan mengajak semua pihak menengok Amerika Serikat. “Sejak akhir Juli, wacana penundaan Pilpres AS sudah mati suri. Pemilu jalan terus walaupun pandemi belum sepenuhnya bisa dikendalikan. Semua demi merawat investasi demokrasi yang sudah berjalan berabad-abad lamanya,” katanya.

Eksan mengingatkan, pemilu dapat memastikan proses suksesi kepemimpinan nasional berjalan dengan demokratis, aman dan damai. “Proses suksesi kepemimpinan ini merupakan unsur pertama dan utama dari pembentukan pemerintahan yang berdaulat. Indonesia diharapkan demikian pula. Bila tidak, bangsa ini meruntuhkan bangunan negaranya sendiri. Ini adalah lonceng kematian bagi demokrasi Indonesia,” katanya.

Sejauh ini, dalam pandangan Eksan, tahapan pemilu dua negara tetap berlangsung dan berjalan dengan baik. Adaptasi dilakukan, di mana pandemi ini memaksa penyelenggara pemilu mendesain ulang pelaksanaan pilpres dan pilkada dengan penerapan protokol kesehatan.

“Sosialisasi lebih banyak menggunakan media, dan menekan jumlah kegiatan tatap muka dan jumlah peserta yang hadir. Ini bentuk spesifik dari pemilu di era pandemi yang bisa dijadikan referensi historis nanti, apabila peristiwa yang sama terjadi dalam sejarah pelaksanaan pemilu pada masa mendatang,” kata Eksan. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar