Politik Pemerintahan

PMII Jatim Tolak Seruan People Power

Surabaya (beritajatim.com) – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jatim, menolak seruan people power untuk menyikapi hasil Pemilu 2019. Apalagi pesta demokrasi lima tahunan tersebut dinilainya berjalan lancar, dan tinggal menunggu rekapitulasi dari KPU.

“Kita melihat sebuah pesta demokrasi ini harus berjalan dengan lancar, tanpa ada provokasi dan intervensi untuk mengubah semua hasil,” kata Ketua Umum PKC PMII Jatim, Abdul Ghoni dalam konferensi pers pernyataan sikap PMII Jatim pasca Pemilu 2019 di Surabaya, Senin (22/4/2019) sore.

Ghoni menambahkan, dengan menggunakan ancaman people power, justru membuat dan memancing seolah-olah negara gagal menyelenggarakan Pemilu. Ancaman people power juga mencederai spirit demokrasi yang beralaskan konstitusi.

Sebab, seluruh sengketa kepemiluan telah disediakan perangkat penyelesaiannya, yakni melalui Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) hingga Mahkamah Konstitusi (MK).

Maka ajakan show of force dalam suasana pasca perhelatan demokrasi harus dibaca sebagai upaya pendelegitimasian atas lembaga-lembaga negara, atau bahkan upaya pembangkangan atas negara alih-alih memperjuangkan hak mereka sebagaimana acapkali diucapkan.

“Kita tidak menginginkan historis kejadian sebelumnya, tentang penggerakan masa untuk menggugat ataupun tidak percaya terhadap hasil dari pesta demokrasi dan kekecewaan terhadap pemerintah,” katanya.

Ghoni mencontohkan beberapa peristiwa kelam yang berlatar benturan politik kekuasaan, mulai dari PRRI/Permesta, peristiwa Madiun 1948, hingga yang paling gelap gerakan 30 September 1965 yang hingga kini masih seringkali menjadi pergunjingan otoritas HAM internasional.

Hal itu amat disayangkan, apabila bangsa ini harus terlempar pada kubangan polemik masa silam, di tengah percepatan pembangunan dan kontestasi ekonomi global yang kian sengit.

Karena itu, PMII Jatim meminta elite politik tidak perlu lagi melancarkan isu people power, karena memang Pemilu berjalan dengan lancar dan tinggal menunggu hasilnya dari KPU.

“Mungkin sedikit beberapa titik ada kejadian-kejadian, dan saya pikir pihak kepolisian maupun TNI sudah bisa meredamnya,” katanya.

Di sisi lain, Ghoni juga mengimbau kepada PMII se-Jatim dan juga seluruh mahasiswa agar berpikir cerdas dan bisa meredam konflik di level bawah.

“Sebagai agent of change, kontrol, dan agen sosial, bisa mengontrol agar people power ini tidak perlu terjadi. Kita harus bisa meredam konflik-konflik di bawah,  karena akan merugikan semua pihak,” katanya.

“Kita juga tidak mau, penggerakan massa dan penggerakan opini ini dimanfaatkan elit-elit politik. Kita menekankan kepada elit politik untuk tidak gaduh, karena sangat berbahaya khususnya di wilayah akar rumput,” pungkasnya. [ifw/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar