Politik Pemerintahan

PKB Lebih Diminati Orang Tua, Belum Rawat Pemilih Muda

Seminar 'Meneguhkan kembali Khidmat PKB kepada NU' yang digelar Dewan Pimpinan Cabang PKB, di Hotel Luminor, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (4/2/2021). [foto: Oryza A. Wirawan]

Jember (beritajatim.com) – Partai Kebangkitan Bangsa lebih diminati orang tua daripada anak-anak muda. Pekerjaan rumah PKB menjelang pemilihan umum 2024 adalah memperbanyak populasi pemilih muda.

Hal ini diungkapkan Honest Doddy Moelassy, pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, yang jadi moderator dalam acara seminar ‘Meneguhkan kembali Khidmat PKB kepada NU’ yang digelar Dewan Pimpinan Cabang PKB, di Hotel Luminor, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (4/2/2021).

Honest mengaku pernah melakukan penelitian soal pemilih PKB di Jember. “Semakin tua semakin banyak memilih PKB. Masalahnya yang tua akan meninggal. Jadi lama-lama pemilih PKB akan habis. Sementara yang muda tidak ‘teropeni’ (dirawat) oleh PKB,” katanya.

Berdasarkan data yang dimilikinya, dalam pemilu 2014 dan 2019, ada penurunan persentase pemilih PKB dari kalangan generasi muda yang berusia 17-24 tahun. Jika pada pemilu 2014, pemilih muda PKB di Jember sebanyak 11 persen, maka pada pemilu 2019 turun menjadi delapan persen. Penurunan juga terjadi pada pemilih berusia 25-30 tahun.

Honest menduga PKB tidak terfokus menggarap pemilih dari kalangan generasi muda. “Padahal, semakin ke depan, semakin banyak (pemilih) yang berusia muda. Kalau kita lihat peta demografi kita, yang tua akan semakin habis, yang muda ‘mbendol’ (semakin banyak). Yang ‘mbendol’ akan naik terus. Mungkin sekarang yang paling banyak berusia 16-17 tahun. Itu akan punya hak pilih,” katanya.

Menurut Honest, pemilih-pemilih muda ini yang disasar partai lain, seperti Golkar dan Partai Solidaritas Indonesia. “Generasi muda banyak yang memilih PSI daripada PKB. Itu jadi catatan kita bersama,” katanya. [wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar