Politik Pemerintahan

Pilkada Kabupaten Malang, Berikut Hasil Survei UIN Sunan Kalijaga dan Adiwangsa

Malang (beritajatim.com) – Hasil Riset Kolaborasi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta dan Adiwangsa Research and Consultant untuk Pilkada Kabupaten Malang 2020, cukup mengejutkan.

Dalam Jaring Aspirasi Masyarakat Kabupaten Malang untuk Pilkada 2020 yang dilakukan sejak Januari sampai 20 Pebruari 2020 lalu, calon petahana HM Sanusi berpasangan dengan Didik Gatot Subroto yang didukung PDI Perjuangan, belum cukup aman dan bisa dikalahkan.

Direktur Adiwangsa Research and Consultant, Mahatva Yoga Adipradana menjelaskan, dari riset dan survey terhadap 480 orang responden, 43 persen masyarakat di Kabupaten Malang masih melihat figur calon Bupati dan Wakil Bupati Malang 2020 dari aspek kepribadian.

“Aspek kepribadian ini meliputi calon harus perhatian dan dekat dengan masyarakat. Nah, 43 persen responden di Kabupaten Malang ini belum merasakan jika Bupati dan Wakil Bupati Malang dekat dengan masyarakatnya. Masyarakat ingin ada kedekatan secara personal,” ungkap Yoga pada awak media di Poskoffie Kepanjen, Kabupaten Malang, Minggu (1/3/2020) siang.

Dari riset kolaborasi ini, lanjut Yoga yang juga Dosen Sosiologi Agama dari UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta, kesamaan partai juga jadi acuan masyarakat untuk menentukan pilihan sebesar 37 persen. Calon atau tokoh yang berpengaruh, punya persentase terpilih lebih besar tanpa harus diberi imbalan uang.

“Tokoh ataupun calon yang punya pengaruh sangat besar untuk dipilih kecebderungan responden karena yang bersangkutan seorang tokoh agama, punya kedekatan personal serta relawan parpol,” bebernya.

Masih kata Yoga, dari hasil riset dengan usia responden 30 tahun sampai 50 tahun, popularitas calon petahana yakni Bupati Malang saat ini, HM Sanusi cukup tinggi. “Peluang secara figur dan popularitas tertinggi ini ada pada Pak Sanusi selaku petahana, prosentasenya 72 persen. Di urutan kedua Sri Untari 67 persen, Ali Ahmad, Hasan Abadi, Jajuk Rendra Kresna dan Geng Wahyudi. Semua figur itu punya popularitas di atas 60 persen,” paparnya.

Yoga melanjutkan, selain populer, Sanusi adalah calon petahana yang bisa diterima pemilih atau acceptabilitasnya cukup tinggi. Yakni 48 persen. Sementara urutan kedua ada nama Hasan Abadi sebesar 45 persen dan Ali Ahmad sebesar 42 persen.

Sementara figur yang paling disuka oleh masyarakat dalam Pilbup Malang 2020 melalui riset, Sanusi mengantongi 64 persen, Hasan Abadi dengan 60 persen, Ali Ahmad 58 persen dan Geng Wahyudi 42 persen.

Dari simulasi 16 nama figur calon Bupati Malang hasil survey kolaborasi ini, urai Yoga, tertinggi ada nama Sanusi dengan prosentase 15 persen. Kemudian Hasan Abadi Abadi 11.04 persen dan Ali Ahmad 11.40 persen. Jika dikerucutkan simulasi 5 nama figur calon Bupati Malang 2020, nama Sanusi punya elektabilitas atau tingkat keterpilihan sebanyak 30.41 persen.

Nama Sanusi dibayangi oleh Ali Ahmad yang saat ini menjabat Ketua DPC PKB Kabupaten Malang sekaligus menjabat Anggota DPR RI sebanyak 22.9 persen. Sementara diurutan ketiga, Rektor Unira Malang, Hasan Abadi berada di angka 20.41 persen. Siadi 5.8 persen dan Heri Cahyono yang maju lewat calon perseorangan berada diangka 2.91 persen.

Hasil riset yang cukup mengejutkan ini, prosentase calon petahana yang kini menjabat Bupati Malang, HM Sanusi bersaing ketat dengan sosok Ali Ahmad.

Dari seluruh elektabilitas, popularitas, acceptability dan kesukaan pemilih terhadap figur calon petahana yang tinggi, ternyata juga dibayangi dengan undecided voters atau jumlah orang yang belum menentukan pilihan hingga ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada Pilbup Malang 2020 mendatang lebih dari 17.9 persen.

Dengan undecided voters yang cukup besar ini, calon petahana masih sangat mungkin kalah dalam Pilkada Kabupaten Malang.

“Dari seluruh kesimpulan kami selama riset dan hasil survey Jaring Aspirasi masyarakat untuk Pilkada Kabupaten Malang 2020, calon petahana masih bisa dikalahkan. Artinya apa, siapapun figur calon untuk Pilkada Kabupaten Malang nanti, masih bisa berpotensi untuk menang,” pungkas Yoga, alumni ilmu politik dari Universitas Brawijaya (UB) Malang ini. [yog/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar