Politik Pemerintahan

Pilkada Jember: Nasdem Kampanye Negatif, Bukan Black Campaign

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasional Demokrat Bidang Komunikasi Publik dan Media, Charles Meikyansah

Jember (beritajatim.com) – Partai Nasional Demokrat akan melakukan kampanye negatif dalam pemilihan kepala daerah di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kampanye negatif ini bertujuan menyadarkan publik tentang kekurangan pembangunan di Jember selama ini.

“Saya orang yang sepakat dengan positive campaign (kampanye positif). Tapi saya juga melihat bahwa sebuah negative campaign (kampanye negatif) juga bukan hal jelek. Yang tidak boleh adalah black campaign (kampanye hitam),” kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasional Demokrat Bidang Komunikasi Publik dan Media, Charles Meikyansah, Jumat (2/10/2020).

Charles menjelaskan, kampanye hitam terkait dengan sentimen suku, agama, ras, antargolongan. “Nasdem mengharamkan sama sekali, demi suara lantas membelah masyarakat dengan isu SARA,” kata alumnus Himpunan Mahasiswa Islam ini.

Ini berbeda dengan kampanye negatif. “Di Jember, saya bilang, kita akan menggunakan negative campaign biar masyarakat tahu bagaimana soal infrastruktur, bagaimana soal mutu pendidikan, bagaimana soal mutu pertanian. bagaimana soal nelayan, bagaimana soal tenaga pendidik, bagaimana soal guru ngaji. Semua (persoalan) infrastruktur yang ada akan kita bahas,” kata Charles.

“Artinya masyarakat harus tahu. Mereka tidak boleh sekadar meminta. Mereka harus diberi kail, diberi penghidupan yang membuat mereka punya harga diri, punya harkat, dan punya penghidupan lebih baik,” kata Charles.

Charles sepakat dengan pemberian bantuan sosial sebagai program pemerintah. “Tapi catatan dan pekerjaan rumah satu kepemimpinan selama lima tahun, harus kita ungkapkan ke publik, dan publik harus tahu,” katanya.

Nasdem ingin memberikan penjelasan kepada publik tentang banyak persoalan selama masa pemerintahan Bupati Faida. “Soal ketenagakerjaan, pertanian, infrastruktur, pendidikan, kesehatan, stunting, ibu hamil dan menyusui. Pedoman kami adalah data yang dikeluarkan Badan Puisat Statistik. Itu jadi ukuran kita. Jadi kami bukan asal ngawur, kemudian data yang kami keluarkan asal kebencian,” kata Charles.

Bagaimana mentransformasikan kampanye negatif di masyarakat kelas bawah? “Mereka harus diberikan (dihadapkan) dengan kenyataan (hidup) mereka. Contoh: bagaimana soal irigasi, soal pupuk, soal tenaga pendamping pertanian, soal nasib guru ngaji, soal guru honorer. Isu-isu itu kalau digarap benar oleh pemerintahan yang berkuasa, kita akan lihat daerah-daerah yang growth-nya maju, seperti Banyuwangi, Lumajang, Bondowoso dibandingkan dengan daerah sebesar Jember,” kata Charles. [wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar