Politik Pemerintahan

Pilkada Jember Mengerucut Tiga Pasang Calon, Petahana Bisa Dikalahkan

Kubu Pasangan Perseorangan Faida dan Dwi Arya Nugraha Oktavianto di Pilbup Jember

Jember (beritajatim.com) – Pemilihan kepala daerah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mulai menunjukkan tanda-tanda pengerucutan koalisi partai ke dua pasang calon penantang petahana. Dengan demikian keinginan pengurus sebelas partai tingkat kabupaten untuk memunculkan satu pasang calon penantang petahanan tak terwujud.

Dua pasang calon tersebut adalah Hendy Siswanto – Muhammad Balya Firjaun Barlaman dan Abdussalam – Ifan Ariadna. Mereka bakal berhadapan dengan pasangan Faida – Dwi Arya Nugraha Oktavianto yang berangkat dari jalur perseorangan.

Pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama Jember, Muhammad Khozin mengatakan, tiga pasangan calon tersebut menunjukkan representasi pasangan status quo-muda, pasangan tua-tua, dan pasangan muda-muda. “Saya tidak akan menyebutkan partai politik yang mengusung, karena kalau saya sebutkan nanti dikira subyektif,” katanya, Kamis (27/8/2020).

Dari tiga pasang calon tersebut, Khozin mengatakan, pemilih akan menentukan pilihan berdasarkan tiga faktor. “Pertama, pasangan calon yang tidak memiliki beban masa lalu. Kedua, anak muda, karena secara demografis, jumlah pemilih muda di Jawa Timur besar. Di sini sekitar 35-39 persen,” katanya.

Ketiga, adalah preferensi pilihan NU. Jember adalah kabupaten yang dihuni mayoritas masyarakat nahdliyyin. Namun pengurus NU sendiri, menurut Khozin, terbelah. “Gus Firjaun adalah mustasyar Pengurus Cabang NU Jember. Tapi mayoritas pengurus ikut syuriah dan tanfidziyah yang mendukung Ifan Ariadna,” katanya.

Pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama Jember, Muhammad Khozin

Pendukung Ifan di NU masih solid. “Jadi kemungkinan besar, (pencalonan Gus Firjaun) hanya akan memecah pemilih Islam urban di kalangan perkotaan dan Bani Shiddiq (keluarga besar keturunan KH Shiddiq, salah satu ulama besar NU, red),” kata pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Khozini ini.

Khozin menegaskan, dengan munculnya tiga pasangan calon ini, petahana masih bisa ditumbangkan. “Petahana tidak berangkat dengan instrumen partai. Membangun infrastruktur (tim sukses) sampai tingkat desa itu tidak sesederhana langsung jadi. Partai saja selama lima tahun berkeringat sering tidak berjalan maksimal, apalagi hanya durasi waktu sekian bulan membentuk tim. Tingkat koordinasi, tingkat awareness, militansi pasti lemah,” katanya.

Selain itu, tren dukungan untuk petahana cenderung turun. Khozin menunjuk akumulasi persoalan yang muncul selama masa pemerintahan Bupati Faida, mulai dari pelayanan publik yang tak memuaskan, operasi tangkap tangan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, kasus korupsi Pasar Manggisan, hasil audit keuangan yang buruk oleh Badan Pemeriksa Keuangan, hingga konflik dengan parlemen. “Itu mengkristal dan negative impact-nya ke bupati,” katanya.

Sementara itu, bandul koalisi merah dan hijau cenderung bergerak ke arah pasangan Salam-Ifan, bukan ke petahana. Menurut Khozin, bila PDI Perjuangan dan PKB bisa bersatu, maka akan menjadi representasi akar rumput dengan basis nasionalis dan relijius. Mesin dua partai tersebut terhitung loyal dan militan.

“Pemilih yang punya preferensi PDI Perjuangan dan PKB ini lebih dari 50 persen populasi pemilih di Jember. Hitungan di atas kertas, bergabungnya dua partai ditambah gerakan massif calon di kantong-kantong di luar basis partai akan berpotensi menumbangkan petahana,” kata Khozin.

Selain itu, kata Khozin, Salam-Ifan adalah representasi kaum muda. “Ini tawaran fresh bagi pemilih. Preferensi pilihan terhadap pasangan muda cukup kuat,” katanya. [wir/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar