Politik Pemerintahan

Petani ‘on-farm’ Rentan Jadi Korban Kartel Impor Produk Pertanian

Prof. Zainuddin Maliki

Jakarta (beritajatim.com) – Petani dinilai masih banyak yang belum mampu mengakses teknologi pertanian, sehingga kalah bersaing dalam berebut peluang adaptasi terhadap perubahan.

Menurut Anggota DPR RI F-PAN asal Dapil Jatim X Gresik Lamongan Prof. Zainuddin Maliki, posisi petani on-farm itu rentan. Akses modal, penguasaan lahan dan teknologi mereka lemah. Yang bisa dilakukan petani on-farm hanya mencangkul dan mencangkul. Semakin terjepit posisinya setelah banyak terjadi pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi lahan industri.

“Jumlah mereka tak sedikit. Mereka petani kecil yang rentan dan selalu jadi korban dari kartel impor produk-produk pertanian,” kata Prof Maliki dalam Webinar Dewan Pakar DPW PAN Jatim bertajuk Menjadikan Jatim Basis PAN pemicu tumbuhnya ekonomi regional Jatim dan Nasional, kemarin.

Ketua Dewan Pakar DPW PAN Jatim menambahkan, banyak petani on-farm yang mengandalkan produksi pangan, kalah dari petani off-farm dan pelaku agrobisnis yang lebih siap sediakan produk pertanian yang dibutuhkan pasar.

“Harap dicatat, produsen setia bahan pangan itu adalah petani on-farm, bukan petani off-farm. Petani off-farm bergandengan tangan dengan pegiat agrobisnis lebih berorientasi pasar daripada penyedia bahan pangan nasional,” tegasnya.

Sementara itu peneliti INDEF, Dradjat Wibowo sebagai pembicara kunci dalam Webinar kali ini mengajak kader PAN untuk mensukseskan program Gubernur Jatim. “Ibu Khofifah maju pilgub kemarin kan diindorse oleh PAN,” ujar Ketua Dewan Pakar DPP PAN itu dengan semangat.

“Agar sukses menghadapi pandemi Covid-19 ini integrasikan kebijakan kesehatan dengan ekonomi, dan jangan dipisah-pisahkan. Kalau dipisah lalu berjalan sendiri-sendiri, tidak akan berhasil,” katanya.

Prof. Badri Munir Direktor Sekolah Pascasarjana Unair dalam webinar yang dimoderatori aktifis IWAPI, Reny Widya itu menawarkan strategi keluar dari middle income trap dengan meminta kader-kader PAN turut memacu industri kreatif terutama industri start-up. “Negara-negara yang maju adalah negara yang industri start-upnya berkembang dengan baik,” ungkapnya.

Sementara itu Dr. Muhammad Nafik – dosen Sekolah Pascasarjana Ekonomi Bisnis UNAIR menawarkan pergantian dari paradigma pertumbuhan ke paradigma kesejahteraan. “Lebih baik ekonomi tidak tumbuh, misalnya karena pandemi, tetapi rakyat sejahtera, daripada ekonomi tumbuh, tetapi rakyat tetap miskin dan yang sejahtera hanya segelintir saja,” ungkap dosen sekaligus pegiat Ekonomi Islam ini.

Ketua DPW PANJatim, Rizqi Sadeg membuka kegiatan ini dengan menegaskan bahwa penting untuk bekerja keras, kerja cerdas dan tuntas menjadikan Jatim basis PAN. Tag line ini merupakan komitmen PAN terhadap masyarakat Jatim yang masih perlu mendapat sentuhan dari berbagai aspek khususnya ekonomi yang belakangan terkena dampak Covid-19. [adg/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar