Politik Pemerintahan

Pesawat Amfibi Denpasar-Giliyang Diproyeksikan Jadi Penerbangan Wisata

Pesawat amfibi Travira Air saat mendarat di Bandara Trunojoyo Sumenep (foto : Temmy)

Sumenep (beritajatim.com) – Rute Denpasar, Bali-Pulau Giliyang, Dungkek, Kabupaten Sumenep diproyeksikan menjadi rute penerbangan wisata menggunakan pesawat amfibi.

Kepala Pusat Pengembangan dan Penelitian Transportasi Udara, Balitbanghub, Kementerian Perhubungan RI, Captain Novyanto Widadi menjelaskan, penerbangan dari Denpasar ke Pulau Giliyang membutuhkan waktu 1 jam 20 menit.

“Dari hasil evaluasi dan tinjau medan, kondisi di perairan Desa Banraas Giliyang memungkinkan untuk pendaratan pesawat amfibi. Arus airnya kalem kok,” katanya, Senin (26/04/2021).

Pada Senin pagi, dilakukan uji coba penerbangan pesawat amfibi tipe grand caravan C-208 amphibian Travira Air. Pesawat ‘take off’ dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Denpasar Bali pada pukul 07.00 WITA, langsung landing di Pulau Giliyang pada 07.20 WIB. Dari Pulau Giliyang, pesawat melanjutkan penerbangan ke Bandara Trunojoyo Sumenep.

Uji coba penerbangan tersebut dilakukan tanpa penumpang, melainkan hanya mengangkut kru Travira Air serta dari Badan Litbang Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI.

“Sebelum landing, kami sudah observasi ketinggian gelombang dan arah angin. Ketika landing di atas air memang ada guncangan. Tapi gak lama, hanya sekitar 5 detik. Setelah itu seperti naik perahu. Rekomendasi kami, Giliyang ini sudah layak digunakan sebagai bandara perairan,” ujar Novyanto.

Ia memaparkan, pada 2019, Balitbang Perhubungan melakukan penelitian ‘water aerodrome’ atau bandara perairan. Ada beberapa lokasi feasibility study, diantaranya Pulau Giliyang, kemudian Danau Toba, Labuhan Bajo, dan Raja Ampat.

“Kami akhirnya memilih Pulau Giliyang dengan pertimbangan jaraknya dekat dengan Pulau Bali. Ini mengingat maskapai yang punya pesawat amfibi seperti Travira Air ada di Bali. Jadi peluangnya lebih besar,” terangnya.

Ia mengungkapkan, sebelum masa pandemi, Pulau Giliyang cukup banyak dikunjungi wisatawan Eropa. Mereka datang ke Pulau Bali terlebih dahulu, kemudian naik kapal wisata ke Pulau Giliyang.

“Wisata oksigen Pulau Giliyang ini memungkinkan industri pariwisata punya potensi baik setelah pandemi berlalu nanti. Memang jika menggunakan pesawat amfibi, harga tiketnya pasti lebih mahal. Karena itu, kami mengembangkan untuk penerbangan pariwisata dengan sasaran menengah ke atas,” paparnya.

Menurutnya, pasca uji coba penerbangan, pihaknya merekomendasikan jika Perairan Giliyang layak sebagai ‘water aerodrome’. Puslitbang akan menyampaikan keuntungan dan kekurangan penerbangan pesawat amfibi tersebut.

“Setelah rekomendasi itu, kita tinggal menunggu rekomendasi dari menteri. Kalau disetujui Giliyang sebagai ‘water aerodrome’ rute Denpasar – Giliyang, nanti juga akan disampaikan, apakah dikelola pemerintah daerah, umum, atau swasta. Ada beberapa opsi tentunya,” ucap Novyanto.

Pulau Giliyang, Kecamatan Dungkek, merupakan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Sumenep. Pulau Giliyang merupakan ikon wisata kesehatan, karena kemurinian kandungan oksigen di pulau ini tertinggi kedua di dunia setelah Yordania. (tem/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar