Politik Pemerintahan

Pertemuan Ridwan Kamil-Khofifah Akhiri Kutukan Perang Bubad? Cetak Sejarah Jika Lanjut Pilpres

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Surabaya (beritajatim.com) – Suku Jawa (Kawula Majapahit) dan Sunda (Kawula Pakuan Pajajaran) sesungguhnya telah memiliki sentimen satu sama lain sejak lama. Hal ini berlangsung sejak era Majapahit. Tepatnya, usai tragedi Perang Bubad terjadi.

Untuk diketahui, Perang Bubad terjadi usai gagalnya pernikahan antara puncak pimpinan Kerajaan Majapahit dan Pajajaran untuk benar-benar menyatukan Nusantara. Sentimen atau kutukan yang ada ialah hampir mustahil jika seorang yang berasal dari kedua suku itu untuk bersatu menjadi sebuah keluarga.

Baru-baru ini, Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bertemu. Dapatkah pertemuan keduanya ini disebut sebagai bentuk rekonsiliasi dan akhir dari kutukan Perang Bubad dan berujung dengan koalisi keduanya di Pilpres 2024 kelak untuk mewujudkan mimpi yang tertunda ratusan tahun?

Direktur Surabaya Survey Center Mochtar W. Oetomo melihat jika pertemuan keduanya bisa dilihat sebagai langkah rekonsiliasi politik. “Ini bukan hanya sekedar langkah politik, tapi lebih dari itu adalah langkah kultural. Maka sejarah akan mencatat Ridwan Kamil dan Khofifah bukan hanya sebagai negosiator politik, tapi lebih dari itu adalah rekonsiliator politik,” ujarnya Rabu (21/4/2021).

“Perpaduan Jabar dan Jatim tidak hanya dapat dipahami sebagai sebuah gagasan geopolitik elektoral, dimana kedua provinsi adalah pemilik suara terbesar di indonesia. Lebih dari itu harus dipahami sebagai gagasan geo kultural yang telah tercerai berai selama berabad abad oleh kapitalisasi peristiwa bubad,” tambah Mochtar.

Meski demikian, pria yang juga dosen di Universitas Trunojoyo Madura ini menilai jika proses untuk mengakhiri kutukan ini juga tidak mudah. “Menyatukan potensi elektoral Jabar dan Jatim adalah sebuah riyadoh politik yang tidak mudah. Dan jika ini berhasil diupayakan oleh Ridwan Kamil dan Khofifah, tentu akan menjadi kuda sembrani politik bagi keduannya dalam kontestasi 2024,” urai Mochtar.

Di sisi lain, selain perkara politik, Ia juga melihat jika ini adalah sebuah upaya riyadoh kultural. “Menyatukan retak batin antara kawula majapahit dan kawula pakuan pajajaran adalah sebuah riyadoh kultural dan spiritual yang jika mampu diupayakan oleh Ridwan Kamil dan Khofifah maka sejarah akan mencatat bersatunya kembali sundaland yang bisa menginspirasi seluruh wilayah nusantara baik secara kultural maupun politik,” papar Mochtar.

“Pilpres 2024 akan menjadi babak baru perjalanan sejarah perdaban nusantara jika Ridwan Kamil dan Khofifah mengupayakan koalisi dan mendapat dukungan baik dari parpol, rakyat Jabar Jatim maupun stakeholders lainnya,” pungkasnya. [ifw/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar